Mengulik Ringkik Para Elit Politik yang Berisik - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Maret 2022. Instagram

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 22 Maret 2022 08:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mengulik Ringkik Para Elit Politik yang Berisik

    Wacana penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan. Trio pimpinan partai politik: Golkar, PKB, dan PAN kemudian disusul Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan bersahutan mengusulkan ide itu. Jokowi pernah bilang: Ada yang ngomong presiden dipilih tiga periode. Itu satu, ingin menampar muka saya. Kedua ingin cari muka. Dan ketiga ingin menjerumuskan.

    Dibaca : 1.828 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kue kekuasaan sungguh-sungguh mengundang banyak perut mereka yang tidak pernah kenyang untuk terus mempertahankan piring dan isinya, agar jangan sampai lepas dari genggaman - tentu saja.

    Berbagai cara - sebagaimana biasanya dalam politik - halal dan haram pun bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Malahan terkadang benar dan salah bercampur-aduk menjadi satu, atau terkadang membias tidak jelas. 

    Ulah para elit memang tiada hentinya bersuara seiring dengan berbagai opini dan argumentasi yang diteriakkan ke berbagai penjuru demi mencari panggung. Tujuannya ingin mendapatkan banyak pendukung. Namun dalam kenyataannya justru malah membuat orang banyak mengernyitkan jidat. Lantaran tidaklah tepat, dan bertentangan dengan aspirasi dan hati nurani rakyat. 

    Bagaimanapun aturan yang sudah tersurat maupun tersirat, dengan gampangnya diobrak-abrik sekehendak yang tengah berkuasa. Tidak seorang Nero - kaisar Romawi, tidak Idi Amin - diktator Uganda, tapi semua penguasa pun demikian adanya. Omongannya berubah-ubah. Kemarin begini, sekarang begitu, besoknya begini-begitu. 

    Entah sampai kapan hal seperti ini akan berakhir. Bisa jadi siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan, akan tetap demikian. Demi melanggengkan kekuasaan, hanya untuk tetap mencengkeramkan kuku-kukunya yang tajam dan kotor penuh dengan keangkaramurkaan, apa pun dilakukan. 

    Belakangan ini pun sepertinya tiada hentinya urusan penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden, disuarakan elit politik maupun pendukung Jokowi yang mengaku paling fanatik. 

    Jokowi harus tiga periode dengan argumentasi yang dicari-cari. Sementara ketetapan aturan ditabrak tanpa peduli lagi mau disukai atau dibenci. Yang penting ambisi pribadi terpenuhi. 

    Zulkifli Hasan, Muhaimin Iskandar, dan Airlangga Hartarto (Sumber: liputan6.com)

    Dimulai oleh ketua umum PKB, Muhaimin Iskandar. Disusul oleh Airlangga Hartarto. Lalu menjadi trio setelah Zulkifli Hasan mengumandangkan lagu yang berjudul Penundaan dan Perpanjangan. Penundaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan Presiden, tentu saja. 

    Mereka bertiga boleh-boleh saja mengeklaim kalau nyanyian yang disuarakan itu merdu mendayu, bak nina-bobok. Membuat pendengarnya terlena hingga tertidur pulas dan dibuai mimpi indah. 

    Sedangkan apa kata pendengar, tak kurang dan tidak lebih sekedar suara burung gagak yang membuat telinga pekak. Bahkan ada pula yang mengatakan kalau wacana elit politik tersebut bagaikan ringkik kuda yang tengah berahi, merindukan lawan jenisnya... Eh, konstituennya bertambah banyak! 

    Eh, tak lama kemudian opung Luhut B. Panjaitan ikut bernyanyi juga dalam koor sumbang, dengan berpedoman pada big data yang masih banyak dipertanyakan fakta dan sumbernya. Entah apa lagi maunya pensiunan jenderal TNI AD yang konon banyak ladang bisnisnya ini. 

    Lantaran hal itu juga membuat seorang kawan,  sampai berandai-andai dengan teori konspirasi menyikapi hiruk-pikuk tersebut. Disebutkan bisa saja di balik penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden tersebut ada Brutus yang berniat membunuh Yulius Caesar... Eh, menjungkalkan, dan paling tidak menampar wajah Jokowi. 

    Bukankah suatu ketika Jokowi sendiri pernah berucap. “Ada yang ngomong presiden dipilih tiga periode. Itu satu, ingin menampar muka saya. Kedua ingin cari muka. Padahal saya sudah punya muka, dan ketiga ingin menjerumuskan. Itu aja,” kata Jokowi di Istana Merdeka, pada Senin 2 Desember 2019 lalu. 

    Bahkan  partai penguasa saat ini pun, PDI-P, baru-baru ini sebagaimana dikutip dari Tempo.co, dengan tegas menolak wacana penundaan Pemilu 2024 maupun perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo tersebut. 

    Melalui Sekretaris Jenderal DPP PDI-P, Hasto Kristiyanto, mengatakan, dari hasil survei LSI terlihat jelas bahwa mayoritas masyarakat menolak penundaan Pemilu 2024. Namun, walaupun tak ada hasil survei itu, PDIP akan tetap menolak wacana penundaan pemilu. Terlepas dari alasan penundaan pemilu itu karena pandemi Covid-19, ekonomi ataupun pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru. 

    Begitu juga dengan Partai Gerindra menyusul lima partai politik di parlemen plus Dewan Perwakilan Daerah telah menolak penundaan Pemilu 2024. Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menegaskan, pihaknya menghormati aturan dalam konstitusi dan berkomitmen menjaganya. 

    Sehingga dengan demikian, tiga pimpinan partai politik yang semula lantang mewacanakan penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden itu pun serupa orang yang kentut saja. Enggan mengakui, tapi saling tuding siapa sesungguhnya yang punya "dosanya". 

    Bisa jadi seperti itulah istilah yang sering disebut sebagai "kentut politik", wa bil khusus di negeri ini. Suatu sikap yang sama sekali tidak terpuji jika dikaitkan dengan fatsoen politik itu sendiri. 

    Sehingga rakyat pun bertanya-tanya. Apakah mereka sedang berusaha untuk membodohi rakyat - sebagaimana biasanya, karena menganggap rakyat masih banyak yang bodoh, atau justru beliau-beliau sendiri yang kadung bebal lantaran tak mampu lagi mengendalikan ambisi menguasai negeri ini?

    Padahal kalau memang berambisi untuk menjadi pengganti seorang Jokowi, sudah seharusnya berusaha untuk meningkatkan elektabilitas terlebih dahulu.

    Paling tidak dapat bersaing dengan yang selama ini berada di posisi tiga besar. Seperti Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan.

    Seumpama tidak mampu, ya sudahlah. Tidak usah berisik. Jangan mengusik. Apalagi bergaya tengik. Karena hal seperti itu justru malah membuat popularitasnya yang di bawah satu digit, akan semakin membikin yang bersangkutan bertambah panik.

    Panik, nggak? Panik, nggak? Ya, pastilah panik. Dan sakitnya tuh disini... ***

     

    Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi