x

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 26 Maret 2022 12:32 WIB

Antara Gaya dan Substansi

Banyak orang terkecoh dengan penampilan luar. Sedangkan substansinya bisa beda dengan gaya. Artikel ini membahas topik tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Banyak orang yang terpesona dengan gaya tapi lupa dengan kesejatian atau substansi.  Mari kita perhatikan kalimat mutiara dari Rumi yang relevan dengan topik ini.

Know then that the body is merely a garment. Go seek the wearer, not the cloak.  Arti harafiah kalimat itu kira kira – ‘Ketahuilah bahwa raga hanyalah sekedar pakaian. Carilah pemakainya, jangan jubahnya’.  Kali ini kita masih membahas karya abadi sufi Turki dari abad ke tiga belas yaitu Maulana Jalaludin Rumi.  Seperti karya Rumi yang lain, kutipan kali ini tidak kalah indah dan tidak kalah sarat maknanya. 

Saya yakin bahwa Rumi menganjurkan kita untuk mengenali jiwa. Jangan hanya terpesona oleh penampilan fisik.  Dia sedang mengajari kita untuk masuk ke kedalaman, kesejatian manusia.  Karena jiwa dan raga bisa berbeda.  Bisa saja seseorang memiliki jiwa yang halus, pemaaf, pengasih dan penyayang, pokoknya serba baik meskipun penampilannya kurang baik atau bahkan mungkin sangar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebaliknya bisa juga seseorang penampilan halus, sopan, rapi, cantik, tampan dan pintar berbasa basi tapi jiwanya keras, kasar, culas.  Contohnya sudah banyak.  Orang yang tumbuh dalam budaya yang mengajarkan dan mengutamakan tata krama, cara berbicara yang halus dan sopan bisa saja memiliki kemampuan berbasa basi yang sangat baik meskipun sejatinya jiwanya keras, kasar dan kejam.  Jadi antara kemasan dan isi bisa saja sangat berbeda.

Banyak orang yang salah sangka, karena hanya melihat dan menilai berdasarkan penampilan luarnya saja.  Mereka hanya melihat “baju”nya saja lalu menarik kesimpulan berdasarkan itu.  Orang yang penampilannya rapi, bersih, solah bawa nya halus sopan, cara bicaranya sopan akan dianggap sebagai orang baik dan bisa dipercaya.  Sebaliknya orang yang penampilannya semrawut bahkan sangar dianggap sebagai orang jahat dan tidak bisa dipercaya. 

Akibatnya banyak orang yang tertipu.  Mungkin anda pernah melihat sendiri dalam kehidupan pribadi banyak pasangan yang bubar gara gara tertipu oleh pasangan hidupnya.  Pujaan hatinya yang semula dikira baik ternyata belakangan terbukti sebaliknya.

Dalam kasus lain ada juga orang yang terkecoh, bukan tertipu yang merugikan sih.  Misalnya ada anak yang penampilannya tidak meyakinkan sehingga banyak orang mengira dia tidak memiliki potensi besar. Banyak orang memandang rendah dan menyepelekan. Setelah beberapa waktu berlalu dia mampu membuktikan kehebatannya.  Orang yang semula memandang rendah sampai terkaget kaget melihat prestasinya.

Dalam kehidupan sosial politik kemampuan melihat ke kedalaman ini sangat penting.  Kalau masyarakat sudah mampu meihat kesejatian seseorang maka dalam kehidupan demokrasi mereka akan bisa memilih caleg atau caleks (calon eksekutif) dengan benar.  Mereka akan mampu menemukan calon yang benar benar memiliki kompetensi dan kepedulian sehingga akan terpilih pimpinan yang mampu membimbing, memimpin mereka menuju ke kondisi sosial ekonomi dan politik yang lebih baik. 

 

Para guru, dosen, trainer, tutor, coach atau apapun sebutannya, perlu menguasai kemampuan mengenali kesejatian jiwa ini untuk diterapkan ke anak didiknya.  Tujuannya agar mereka mampu mengenali segenap potensi anak didiknya dan membantu mengembangkannya.  Banyak cerita murid yang sakit hati karena perlakuan atau komentar negatif sang guru.  Sebagian ada yang menjadikannya sebagai motivasi mengembangkan diri tapi ada juga yang lalu patah semangat.  Konon Einsteinpun dulu pernah dianggap tidak punya potensi akademik oleh guru SMA nya. 

 

Anak muda yang sedang mencari pasangan hidup juga perlu memiliki kemampuan ini agar tidak tertipu oleh calon pasangannya.  Demikian juga calon mertua.  Jangan sampai hanya menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya.  Harapannya camer mampu menyeleksi dengan benar para peminat. 

 

Anjuran Rumi ini bisa juga diartikan sebagai ajakan untuk mengenali  jiwa sendiri.  Tujuannya agar bisa mengembangkan segala potensi.  Hal ini penting juga karena banyak anak muda yang tergiur dan termotivasi mengejar profesi yang tidak sesuai dengan panggilan jiwanya.  Saat ini profesi artis sinetron misalnya lagi digandrungi.  Banyak sekali anak muda mengejar profesi itu tanpa melihat plus minus dirinya sendiri.  Dengan kata lain mereka menjadi orang lain, memaksakan diri menjadi seseorang yang beda dengan identitas aslinya.  Dalam keadaan itu mereka tidak akan mampu berkembang maksimal. 

 

Prestasi seseorang akan maksimal berkembang apabila sesuai dengan bakat, minat dan panggilan jiwanya.  Dalam bahasa Inggris ada frasa be yourself.   Jadilah dirimu sendiri.  Temukan jati dirimu sendiri. 

 

Masalahnya bagaimana caranya menemukan jati diri atau mengenali jiwa sendiri dan orang lain ?  Sebaiknya kita bahas di artikel berikut.  Topik ini juga akan saya tuangkan dalam salah satu bab buku saya berikutnya.

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler