Kuramu Kura-kuramu Menjadi Jamu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Piu Syarif

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Januari 2022

Kamis, 7 April 2022 14:13 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kuramu Kura-kuramu Menjadi Jamu


    Dibaca : 888 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Fajar baru saja tiba saat kau pulang membawa hasil tangkapan menjuntai bergerombol di empat tali kulit bambu. Kupikir senyummu merekah merasa berkah bahwa hasil melimpah bisa cukup untuk berhari-hari. Lalu sebagian ditukar dengan beras dan mungkin baju baru.

     

    Setelah kutahu, senyummu merekah karena kau juga membawa seekor kura-kura yang kau anggap lucu. Ukurannya baru selebar tutup panci yang biasa kupakai menjerang air untuk kau mandi. 

     

    Mulanya aku tak peduli dengan kura-kuramu yang kau rawat bagaikan bayi. Kau mandikan. Kau ajak bercanda di atas dipan. Kau ajak berbicara di beranda. Kau mengajarinya lomba lari. Hal konyol yang kau sadari. 

     

    Tangkapanmu makin hari makin banyak. Bajuku mulai berganti-ganti. Kainnya pun begitu. Bahkan kau belikan cincin dan anting untukku. Perhiasan pertama setelah tiga tahun cincin kawin yang kau jual lagi sebulan setelah kita menikah. 

     

    Lalu kau percaya bahwa kura-kuramu sebagai pembawa berkah. Membuat semua terasa wah dibanding sebelumnya. Kura-kuramu makin kau sayang-sayang, makin kau timang-timang. Kemudian waktumu bersamanya lebih banyak dibanding bersamaku. Kau bawa dia melaut, bermain di darat hingga kau mabuk dan lupa daratan. 

     

    Kau pikir semua tak masalah sebab semua yang kubutuhkan sekarang mudah tersedia. Kau pikir apa yang kuminta selalu ada di meja. Kau pikir kita sudah bahagia. Waktumu bersamanya seakan semua sedang aku hanya dapat sisanya. Kau minta aku bersibuk ria dengan tetangga. Kau pikir bercengkerama membuat kulupa. Yang ada mereka malah merangkai-rangkai cerita. Kalau sebenarnya kura-kuramu adalah putri raja yang dikutuk dan dibuang ke samudera. Pantas saja kalau begitu rupanya. 

     

    Lalu aku harus bagaimana? Menganggap semua biasa saja? 

     

    Lalu bisik-bisik berubah menjadi gunjingan tetangga. Kau masih tak juga peka. Sedang aku sudah termakan berita. Bahwa saat melaut kau bercinta dengan kura-kuramu yang menjelma. Aku harus membuat rencana. Apa aku sudah gila cemburu dengan kura-kura?

     

    Kusampaikan semua cerita. Tapi kau melengos bahwa semua itu bualan belaka. Jangan percaya! 

     

    Hingga rencana itu tiba lewat mimpi yang membuatku terjaga. Kita harus punya anak. Kau harus memberiku anak. Rencana yang dulu sempat ditunda karena kita belum berada.

     

    Setelah berminggu usaha tapi tak ada hasil jua. Kutanya pada seorang tetangga bagaimana caranya agar bisa. Yang ada kabar makin menggema kalau aku tak bakal bisa sebab benihmu sudah tergadai pada sang kura-kura. Apa pula ini semua!

     

    Lalu mimpi itu datang lagi. Lengkap dengan prosedur dan tata cara. Ibarat menonton sebuah cerita. Kuyakinkan diri agar berani. Demi semua kembali seperti semula. 

     

    Dan ritual pun dimulai. Saat kau tidur setelah lelah bercinta. Kuambil kura-kura dan kubakar menjadi abu. Kujadikan jamu agar kau lebih perkasa. Itu perintah dari mimpi yang ada. Agar kau lupa pada kura-kura. Agar kau kembali seperti semula. 

     

    Kusajikan jamu saat kau terjaga. Kau tak curiga meminumnya dengan seksama. Kulayani semua yang kau minta. Berkali-kali pun tak apa sambil berharap kau terus lupa pada kura-kura. 

     

    Saat kau tersadar dan menanyakan kura-kura, aku pura-pura tak tahu di mana. Kau cari ke sana ke mari tak ada. Lalu kau pergi. 

     

    Kau pergi dan tak kembali.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Piu Syarif lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.