Peran Media Sosial di Dunia Sastra - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Gambar berdasarkan teks

safitriani

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Bergabung Sejak: 7 April 2022

Minggu, 10 April 2022 12:47 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Peran Media Sosial di Dunia Sastra

    Perubahan zaman mengakibatkan banyaknya orang yang berinteraksi melalui media sosial Begitupula para penulis dan pembaca

    Dibaca : 659 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Media sosial yang awalnya hanya sebuah media untuk berkomunikasi mengalami kemajuan yang begitu signifikan. Awalnya adalah Sixdegrees.com yang merupakan situs jejaring sosial pertama pada tahun 1997. Lalu mengikuti perkembangan zaman dimana hampir semua orang memiliki smartphone, kini ada banyak sekali platform media sosial yang tersedia. Dengan adanya media sosial ini menjadikan para penulis semakin bersemangat dalam menciptakan karya-karya sastra yang tentunya diminati banyak orang. Media sosial pula memudahkan para pemula untuk mengekspor tulisannya.

    Sastra dalam penyampaiannya kini bisa kita nikmati melalui platform media sosial yang tersedia. Misalnya melalui platform Wattpad ada banyak novel yang dibukukan seperti novel Mariposa karya Luluk HF, Mozachiko karya Poppi Pertiwi, My Ice Girl karya Pit Sansi dan masih banyak lagi.

    Bukan hanya dibukukan bahkan ada karya yang dijadikan film. Kemudian di Twitter tentu kita tau penulis Boy Candra dimana ia selalu membagikan kalimat-kalimat indah melalui akun Twitternya. YouTube juga merupakan aplikasi yang mewadahi para penulis menyajikan karyanya seperti prosa dan puisi.

    Instagram yang kita kenal dengan media sosial yang menyediakan gambar gambar juga menjadi wadah penyajian misalnya dalam akun @djamal.d.rahman yang pemiliknya merupakan seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia sejak 1993. Pada akun tersebut beliau sering memposting sajak-sajak. salah satu postingan beliau pada 5 Juli 2017 dengan dengan sebuah gambar bertuliskan

    "Aku tak melihatmu.

    Tak mendengarmu. 

    Tapi aku tahu engkau di sini, duhai Rohku. 

    Di dada yang menetes-netes ini.

    -Jamal Rahman"

    Berlatar buku dengan pena.

    Bukan hanya sebagai media penyampaian, media sosial juga menjadi wadah untuk mempromosikan karya sastra. Misalnya dalam platform Instagram pada akun @solusibuku dengan sebuah caption 

     "Terbit pertama kali pada tahun 2002 dan kini sudah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing, inilah karya kanon dari Eka Kurniawan. Cantik Itu Luka bercerita tentang Dewi Ayu, perempuan Indo di akhir masa kolonial yang harus menemui takdir pahit dimana ia menjadi pelacur. Eka Kurniawan mengisahkan cerita ini dengan mencampurkan realisme dan surealisme, mengawinkan kepercayaan-kepercayaan lokal dengan silogisme filsafat yang mendobrak sifat tabu, dan memberi hormat pada realitas sejarah dan mitos. Inilah satu buku yang wajib dibaca seumur hidupmu.

    I Cantik Itu Luka | Eka Kurniawan | harga diskon Rp 106.000

    #solusibuku #ekakurniawan #ekakurniawanbook #cantikituluka" dengan tampilan gambar tiga buku novel berjudul Cantik Itu Luka.

    Nah dari sini kita bisa melihat bahwa sastra bukan hanya dapat disajikan melalui sebuah kertas namun juga dapat kita nikmati melalui media sosial. Bukan hal yang aneh pula apabila beberapa orang lebih memilih menikmati sastra melalui media sosial karena dengan mudahnya dicapai. Selain itu zaman sekarang hampir semua orang memiliki smartphone. Tapi tidak menutup kemungkinan pula ada orang orang yang merasa lebih nyaman untuk menikmati sebuah karya sastra seperti novel melalui buku langsung. Hal itu menjadi pilihan tersendiri bagi orang-orang. 

    Ikuti tulisan menarik safitriani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.