Lebih Berat Melepas Kuasa Ketimbang Meraihnya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Kekuasaan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 11 April 2022 06:30 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Lebih Berat Melepas Kuasa Ketimbang Meraihnya

    Salah satu persoalan paling sulit bagi manusia yang berkuasa bukanlah bagaimana ia memperoleh kekuasaan, melainkan bagaimana ia kemudian akan mudah keluar dari kekuasaan dengan ringan kepala dan besar hati.

    Dibaca : 2.460 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Salah satu persoalan paling sulit bagi manusia yang berkuasa bukanlah bagaimana ia memperoleh kekuasaan, melainkan bagaimana ia kemudian akan mudah keluar dari kekuasaan dengan ringan kepala dan besar hati. Mengapa paling sulit? Tak lain karena begitu masuk ke dalam kekuasaan, manusia akan terpikat lebih dalam dibandingkan sebelum ia memasukinya. Berada dalam lingkaran terdalam kekuasaan, ia jadi sangat bergairah.

    Kekuasaan itu lantas mirip sumur pasir bagi siapapun yang memasukinya. Pasir itu akan menghisapnya semakin dalam, sehingga ia sukar keluar. Namun, bukan kesakitan yang ia rasakan, melainkan kenikmatan yang tidak ingin ia tanggalkan. Ada pesona kuasa yang luar biasa, yang menahan dirinya untuk keluar. Ia merasa sayang untuk meninggalkan kuasa yang penuh daya pikat itu, sebagaimana terlihat dari bagaimana orang-orang di sekelilingnya berebut.

    Berada di dalam kekuasaan, manusia akan terlena oleh aromanya yang memabukkan, sebab ia jadi pusat perhatian manusia lain lebih dari sebelumnya. Jam demi jam, tahun demi tahun ia menikmati perhatian yang terpusat pada dirinya. Akan sangat sukar baginya manakala tiba waktu baginya untuk tidak lagi jadi pusat perhatian. Ratusan, ribuan, hingga jutaan pasang mata tidak lagi tertuju pada dirinya, padahal perhatian itulah yang membuat dirinya merasa lebih terhormat.

    Ia mungkin juga merasakan, bila bukan sangat menikmati, bagaimana orang lain berusaha menjaga sikap tatkala berdekatan dengannya. Setidaknya, ia menangkap aura rasa segan orang-orang bila bertemu dan berada di dekatnya. Ia menikmati tatkala dipersilakan duduk, sementara orang lain menantinya sembari berdiri. Hal-hal itu terlihat kecil namun membuatnya mengerti mengapa kekuasaan itu membuat banyak orang terpikat dan bahkan memperebutkannya.

    Ia tahu bahwa itu hanya dapat ia rasakan secara luar biasa tatkala memegang kuasa. Ia bahkan tidak peduli apakah itu rasa segan, rasa hormat, atau rasa takut. Baginya, yang penting, ia menikmati suasana dan aura yang menguar ketika dirinya hadir di tengah kerumunan. Ia cemas bila semua sensasi kenikmatan itu hilang bersama berlalunya kekuasaan dari genggamannya.

    Bukanlah perkara mudah membebaskan diri dari pusaran pasir kekuasaan yang berusaha menghisap seseorang kian kuat dan semakin dalam. Hanya keringanan kepala dan kebesaran hati yang mampu membebaskan diri seseorang dari gemerlap kekuasaan. Hanya dengan kebesaran jiwa, seorang penguasa akan melangkah keluar dari lingkaran terdalam kekuasaan dengan ringan kaki dan percaya bahwa penggantinya akan mampu menjalankan peran memimpin.

    Bahkan, dalam kelapangan hati, ia akan mendoakan penggantinya mampu memimpin dengan lebih baik dibandingkan dirinya sendiri. Ia pamit tanpa rasa cemas dan tanpa rasa malu, bahkan ia merasa terhormat karena telah menepati janji untuk berkuasa sesuai waktu yang telah diamanahkan. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.