x

Sastra

Iklan

Uliana Hidayatika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2022

Selasa, 12 April 2022 19:29 WIB

Sastra: Tulisan Sopan namun Bebas Bersarkas Ria?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai sifat sastra yang sopan namun mengapa ada karya sastra yang mengandung kata-kata sarkasme di dalamnya? Apakah sifat sastra yang sopan itu salah? Apakah pendapat para ahli mengenai salah satu sifat sastra ini keliru? Nah, mari kita bahas topik menarik ini dalam diskusi berikut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai sifat sastra yang sopan namun mengapa ada karya sastra yang mengandung kata-kata sarkasme di dalamnya? Apakah sifat sastra yang sopan itu salah? Apakah pendapat para ahli mengenai salah satu sifat sastra ini keliru? Nah, mari kita bahas topik menarik ini dalam diskusi berikut.

Berbicara tentang sastra, pastinya kata yang satu ini sudah cukup familier di telinga kita. Pengertian sastra bersifat multitafsir karena setiap orang dapat memberikan penafsiran yang berbeda-beda. Setiap orang dapat berpendapat apa arti sastra menurut mereka masing-masing. Bahkan menurut Prof. Dr. Andries Hans Teeuw atau yang biasa lebih dikenal dengan nama A. Teuuw yang merupakan seorang ahli sastra berkebangsaan Belanda di bukunya yang berjudul Sastra dan Ilmu Sastra: Sebuah Pengantar Teori Sastra, sampai sekarang belum ada seorang pun yang berhasil memberikan jawaban jelas mengenai apa itu sastra. Pengertian sastra menurut A. Teuuw sendiri adalah segala sesuatu yang tertulis. Sedangkan menurut Aristoteles sastra adalah kegiatan melalui agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Lalu Menurut Rene Wellek dan Austin Warren sastra adalah suatu kegiatan kreatif dan sebuah karya seni.

Selanjutnya mari kita bahas mengenai sifat-sifat sastra. Sastra memiliki berbagai sifat. Dalam buku yang berjudul Teori Kesusastraan karya Rene Wellek dan Austin Warren, beberapa sifat sastra adalah sebagai berikut: imajinatif (imaginative literature) dan belles letters (tulisan yang indah dan sopan), mengenal berbagai bentuk dan selalu mengalami perubahan, mengandung pikiran, berkaitan dengan struktur historis bahasa, kompleks dan rumit, bahasanya ambiguitas dan homonim, bahasanya berfungsi ekspresif dan persuasif dan dimanfaatkan secara lebih sistematis dibandingkan bahasa sehari-hari. Salah satu dari sifat sastra yang telah disebutkan adalah tulisan yang indah dan sopan. Mari kita garis bawahi sifat yang satu ini dan kaji lebih mendalam. Sebab sifat ini adalah topik inti dari diskusi yang sedang kita bahas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selain pengertian sastra yang bersifat multitafsir, pemaknaan terhadap karya sastra itu sendiri juga bersifat multitafsir. Karena unsur kebahasaan yang digunakan penulis bersifat bebas dan ambiguitas. Maksud dari ambiguitas di sini adalah walaupun pembaca a dan pembaca b membaca suatu karya sastra yang sama, mereka akan memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai arti atau makna yang ditangkap dari karya sastra tersebut. Lalu maksud dari penggunaan unsur kebahasaan yang bebas adalah penulis bebas menggunakan kata-kata seperti apa untuk mengekspresikan apa yang ia tuangkan dalam tulisannya. Tak terkecuali kata-kata sarkasme. Lalu apakah sifat sastra sebagai tulisan yang sopan dapat tetap dibenarkan? Atau apakah sebenarnya penggunaan kata-kata sarkasme dalam karya sastra tidak diperkenankan? Mari kita bahas lebih mendalam.

Sarkasme atau yang biasa lebih kita kenal dengan sebutan sarkas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI adalah penggunaan kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar. Penggunaan kata-kata sarkasme dalam suatu karya sastra nampaknya sudah tidak asing lagi. Terutama pada karya sastra puisi. Kata-kata sarkasme dapat dengan mudah kita temukan di puisi-puisi bermajas sarkasme atau majas sindiran dengan penggunaan kata-kata berkonotasi kasar di dalamnya.

Berikut beberapa contoh karya sastra yang terdapat kata-kata sarkasme di dalamnya. Yang pertama ada puisi karya Goenawan Mohamad yang berjudul Kwartin tentang Sebuah Poci, pada larik ketiga bait pertamanya berbunyi: mataku belum tolol, ternyata. Pastinya kita semua sudah sangat familier dan tahu apa arti dari kata tolol. Lalu, pantaskah kata tolol terdapat pada suatu karya sastra puisi yang identik dengan keindahan dan kesopanan? Mari kita garis bawahi kata tolol ini.

Selanjutnya masih ingatkah Anda dengan video Dian Sastrowardoyo yang membacakan  sepenggal dialog cerpen dalam buku Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma? video tersebut sangat viral di Tiktok bahkan di media sosial lainnya. ”Dari dulu, aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego! Dikasih isyarat tidak mau mengerti, sekali lagi aku tidak mencintai kamu. Kalau aku toh kelihatan baik selama ini kepadamu, terus terang aku harus bilang sama kamu kalau aku kasihan,” kata Dian Sastrowardoyo membaca cerpen tersebut. Sudah tahu part mana yang akan kita garis bawahi kali ini? Ya, benar. “Dasar bego!”

Selanjutnya adalah contoh terakhir. Masih ingatkah Anda dengan puisi yang sangat terkenal karya Chairil Anwar? Puisi yang membuat kita otomatis teringat dengan judulnya kalau mendengar kata Chairil Anwar. Ya, benar sekali, Aku. Pada larik kelima puisi berjudul Aku karya Chairil Anwar, berbunyi: “Aku ini binatang jalang”. Bukankah kata jalang pada masyarakat umum cukup sensitif karena bermakna negatif? Mari kita garis bawahi kata jalang ini.

Wah ternyata banyak sekali kata-kata sarkasme yang terdapat dalam suatu karya sastra. Lantas, masih pantaskah sastra disebut sebagai suatu tulisan yang sopan?

Alur cerita sebuah karya sastra kemungkinan besar adalah pengalaman nyata penulisnya. Karena pada hakikatnya sastra tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sebab manusia adalah objek utama dan penulis karya sastra tersebut. Melalui sastra kita dapat mengetahui kebudayaan, kebiasaan, hingga norma-norma yang dijunjung dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Pradopo yang menyatakan bahwa karya sastra diciptakan oleh seorang pengarang. Ia tidak dapat terlepas dari budaya dan masyarakatnya.

Ada dua jenis karya sastra, yaitu fiksi dan non fiksi. Karya sastra fiksi bersifat imajinatif sedangkan karya sastra non fiksi bersifat sebaliknya. Walaupun karya sastra fiksi bersifat imajinatif, namun tetap saja isinya tentang kehidupan manusia yang harus digambarkan sesuai dengan realita kehidupan. Maka karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dapat mencerminkan kehidupan sebuah masyarakat dan sebuah kebudayaan sesuai dengan kenyataannya.

Seorang sastrawan harus dapat memotret banyak peristiwa yang terjadi di berbagai tempat dalam kehidupan bermasyarakat. Tak terkecuali tempat-tempat negatif seperti tempat hiburan malam, kasino, markas para penjahat seperti pengedar narkoba, begal, mafia, gangster dan lain-lain.  Maka karya sastra yang memotret itu semua harus diungkapkan sesuai dengan realita kehidupan yang terjadi di tempat itu. Jadi, terbayangkan bagaimana bahasa yang akan digunakan sastrawan untuk menggambarkan tempat-tempat negatif tersebut?

Perlu Anda ketahui bahwa dahulu kata-kata sarkasme atau kata-kata yang tidak pantas tidak diperkenankan dalam penulisan karya sastra karena sastra bersifat istana sentris. Berbeda dengan saat ini, sastra bersifat masyarakat sentris. “Dahulu sastra itu bersifat istana sentris jadi yang dapat menikmati hanya kalangan kraton. Penulis karya sastra tersebut juga bukan penulis sembarangan, tetapi penulis kraton. Maka karya sastra yang tercipta bahasanya terjaga tidak terdapat kata kasar di dalamnya. Karya-karyanya juga mengisahkan tentang keistimewaan kerajaan itu sendiri, kehebatan para raja, dan sebagainya. Berbeda dengan sastra saat ini yang bersifat masyarakat sentris sehingga penggunaan kata-kata sarkasme diperkenankan guna menciptakan gambaran yang sesuai dengan hal negatif yang sedang diceritakan,” ujar Ahmad Bahtiar, dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

Lalu maksud dari salah satu sifat sastra adalah sopan ternyata bukan seperti apa yang sebelumnya telah kita bayangkan. Kata sopan di sini artinya bukan sopan sesuai dalam KBBI yaitu baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul). Sopan di sini juga bukan bermakna membatasi kebebasan penulis atau tidak memperkenankan kata-kata sarkasme terkandung di dalam karya sastra. “Sastra adalah tulisan yang sopan, betul sekali. Namun kata sopan disini bukan bermakna harus selalu menggunakan kata-kata yang sopan dan membatasi kebebasan penulis dalam penulisan suatu karya sastra. Penulis berhak menggunakan diksi seperti apa sesuai dengan keinginannya. Tak terkecuali diksi-diksi sarkasme.

Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau PUEBI. Sedangkan bahasa yang baik adalah bahasa yang komunikatif. Misalnya apabila kita ingin bergabung di komunitas waria maka kita harus menggunakan bahasa waria. Apabila tidak menggunakan bahasa waria maka kita akan dianggap bukan bagian dari komunitas waria tersebut. Begitu juga dalam penulisan karya sastra.  Dalam penulisan karya sastra apabila kita ingin menggambarkan hal-hal negatif maka kita harus menggambarkannya dengan bahasa yang sesuai dengan realita atau latar tempat berlangsungnya cerita yang sedang kita tulis. Bahasa yang sopan memang bahasa yang benar, tetapi tidak baik karena tidak komunikatif atau tidak sesuai untuk digunakan dalam konteks ini. Oleh sebab itu penggunaan kata-kata sarkasme diperkenankan dalam penulisan suatu karya sastra guna menciptakan suasana yang sesuai dengan realitanya,” ujar Ahmad Bahtiar melanjutkan pembicaraannya tentang hal ini.

Maka telah kita ketahui bersama apa jawaban dari pertanyaan “sastra bersifat sopan namun mengapa diperkenankan kata-kata sarkasme terkandung di dalamnya?” Penggunaan kata-kata sarkasme sangat pantas digunakan untuk menggambarkan hal-hal negatif seperti kerasnya kehidupan pelacur atau sulitnya persaingan dalam bisnis haram jual beli narkoba. Kata-kata sarkasme ini akan membangun suasana yang sesuai dengan latar tempat negatif yang sedang diceritakan penulis. Walaupun kata-kata sarkasme boleh digunakan, namun alangkah baiknya kata-kata sarkasme tersebut dibungkus dengan rapi sehingga akan tetap menimbulkan kesan indah dan menawan khas karya sastra. Penggunaan kata-kata sarkasme juga harus sangat diperhatikan, sebab setiap kata memiliki beban moral dan apa yang ditulis adalah buah pikiran penulisnya. Kata sarkasme yang dianggap sangat kasar ataupun vulgar sebaiknya dihindari dan diganti dengan kata sinonim yang lebih pantas untuk digunakan.

Daftar Pustaka:

Ajidarma, Seno Gumira. Sepotong Senja untuk Pacarku. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2017.

Anwar, Chairil. Aku ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2016.

Mohamad, Goenawan. Asmaranda. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 1992.

Teeuw, A. Sastra dan Ilmu Sastra: Sebuah Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. 1984.

Wellek, Renne dan Austin Warren. Teori Kesusastraan (Diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1995.

Ikuti tulisan menarik Uliana Hidayatika lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB