Santri Sebagai Pewaris Tunggal Sastra Pesantren - Analisis - www.indonesiana.id
x

Belajar via https://images.app.goo.gl/2vdK8btXGDT8oUeC6

Zieyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Selasa, 12 April 2022 10:25 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Santri Sebagai Pewaris Tunggal Sastra Pesantren

    Fenomena menjamurnya karya pician merupakan sebuah tantangan bagi santri sebagai generasi literasi dan sastra pesantren. Perlu kesadaran kembali bahwa sebuah karya itu dibaca bukan hanya untuk dinikmati tetapi lebih untuk dikaji dan dipelajari.

    Dibaca : 297 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sastra pesantren merupakan salah satu kearifan lokal dan subkultur bangsa Indonesia yang harus senantiasa dijaga, dipertahankan, dan dilestarikan. Sastra pesantren yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren merupakan suatu yang karya yang memiliki ciri khas tersendiri yang sebenarnya tidak bisa dengan mudah ditiru atau bahkan menyamakannya. Karena, sastra pesantren tersebut sangat erat kaitannya dengan interaksi yang berlangsung di dalam pesantren, seperti halnya hubungan antara santri dan kiai, hubungan kemanusiaan dan spiritual yang mengikat, kajian ilmu pengetahuan melalui kitab kuning, dan sebagainya.

    Etika yang memenuhi gaya hidup santri juga ikut membentuk karakter literasi dan sastra pesantren. Sebut saja berjiwa ikhlas, cinta ilmu, dan rendah hati. Hal itu tidak terlepas dari sistem pendidikan pesantren yang lebih mengutamakan penanaman karakter daripada sekadar pencerapan ilmu pengetahuan. Demikian juga dengan identitas pesantren yang berupa lebih mengedepankan kebersamaan. Santri telah mengeksplorasi roh kepesantrenan tersebut dalam karya-karyanya dan secara otomatis menjadi identitas pesantren. Berbeda dengan sastra produksi non-pesantren yang mengambil latar belakang dunia pesantren. Fenomena tersebut telah banyak dijumpai dalam maraknya media-media yang mewadahi orang-orang yang memiliki keinginan menulis.

    Saat ini, karya tulis dengan tema pesantren memang cukup digandrungi. Bukan hanya di kalangan orang-orang pesantren tetapi juga di kalangan orang-orang di luar pesantren. Banyak penulis –terutama penulis pemula yang mengangkat tema pesantren meski si penulis tidak pernah hidup di dunia pesantren. Ciri khas umum pesantren lah yang justru menjadi rujukannya yang dipadukan dengan imajinasinya sendiri. Semisal budaya sarungan, ngaji kitab, ceramah, dan menutup aurat. Hal yang paling mencolok dari karya ‘bertema pesantren’ tersebut adalah esensi yang ada di dalamnya.

    Jika dilihat berdasarkan sejarahnya, menurut Toha Machsum, karya literasi dan sastra yang lahir di lingkungan pesantren nota bene mengangkat tema nilai esoterik keagamaan, cinta ilahiyyah, dan pengalaman-pengalaman sufistik. Hal itu dapat dilihat dalam karya-karya penulis asal pesantren tahun 1980-an, seperti D. Zawawi Imron, Zainal Arifin Toha, Jamal D. Rahman, Kuswandi Syafi’i, dan lain sebagainya.  Esensi yang tersimpan di dalamnya juga tidak lepas dari sisi-sisi keruhanian. Adapun karya yang hanya ‘bertema pesantren’ –yang tengah menjamur saat ini, esensinya tidak lebih sekadar untuk membuat pembacanya baper (bawa perasaan) dengan kalimat-kalimat yang membuat baper pula.

    Sebenarnya, karya bagus dan bermutu yang bisa dijadikan bahan kajian untuk menambah pengetahuan kesusastraan para santri sangat banyak dan mudah ditemukan. Misal, karya-karya milik Pramoedia Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, Ahmad Tohari, Agus Noor, dan lain sebagainya. Namun mirisnya, karya-karya bermutu yang sejatinya fenomenal dan penting untuk dipelajari tersebut justru dianggap sulit dan berat sehingga banyak yang enggan untuk membacanya –khususnya di kalangan penulis pemula. Pemikiran itulah yang tidak boleh dikembangbiakkan bagi seorang penulis terutama penulis santri.

    Fenomena menjamurnya karya pician tersebut merupakan sebuah tantangan bagi santri sebagai generasi literasi dan sastra pesantren. Perlu kesadaran kembali bahwa sebuah karya itu dibaca bukan hanya untuk dinikmati tetapi lebih untuk dikaji dan dipelajari. Para santri tidak boleh terlena dengan euforia sastra modern yang secara tidak langsung mencetak generasi literasi baperan. Santri harus pandai men-filter bacaan yang dikonsumsi agar pola pikirnya tidak terkontaminasi karya yang tidak bermutu, karena ciri khas literasi sastra pesantren sebagai kultur kebudayaan pesantren sangat penting untuk dilestarikan oleh santri sebagai pewaris tunggal literasi dan sastra pesantren.

    *penulis merupakan santri sekaligus mahasiswa

    di Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Jawa Timur 

    Ikuti tulisan menarik Zieyo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.