x

Berbicara sastra dan pendidikan karakter merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Iklan

Audi Alya Zuhry

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 April 2022

Rabu, 13 April 2022 20:16 WIB

Sastra Indonesia di Zaman Orde Baru

Perkembangan sastra Indonesia sangatlah berdampak sampai saat ini, prosesnya begitu panjang dan lama. Jika kalian ingin mengetahui perkembangan sastra Indonesia di zaman orde baru, simaklah artikel berikut ini!

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta yaitu "shaastra", yang mempunyai arti teks yang mengandung intruksi atau sebuah pedoman. Sedangkan kesusastraan adalah kumpulan karya sastra atau hal-hal mengenai sastra. Dan sastra Indonesia adalah bidang ilmu yang mempelajari berupa sastra, cerita, puisi, novel, naskah, atau karya sastra lainnya dalam bahasa Indonesia. Sastra di Indonesia ini juga mengalami sebuah perkembangan, dari periode sebelum kemerdekaan hingga sekarang ini. Dan perkembangan itu sendiri membuat sebuah sastra terlihat berbeda dari zaman ke zaman, mengenai sejarah dan tokohnya.

Di pembahasan kali ini akan mengulas tentang perkembangan sastra di zaman Orde Baru. Alasan memilih judul ini karena saya ingin mengetahui seperti apa sastra Indonesia pada periode Orde Baru, dan mengetahui proses perkembangannya. Tujuannya untuk mempelajari perkembangan sastra di zaman orde baru. Manfaat yang dapat diambil dari tulisan ini adalah kita dapat mengetahui apa saja yang terjadi di masa itu, apakah terdapat hambatan atau gangguan, siapa sajakah tokohnya, dan sebagainya. 

Periode orde baru dimulai pada tahun 1966-1998, ditandai dengan dikeluarkannya surat perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) oleh Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto. Pada rezim Soeharto, pemerintah melarang beberapa buku sastra untuk dimiliki, diedarkan, disimpan, dan dibaca. Salah satu korban pelarangan tersebut adalah Bambang Isti Nugroho, ia adalah seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Ia menjadi korban pelarangan itu karena ia membaca dan mengedarkan buku Bumi Manusia, buku tersebut adalah buku keluaran seri pertama Tetralogi pulau Buku karya Pramudya Ananta Toer.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Alasan mengapa rezim Soeharto disebut era Orde Baru terhadap karya sastra? Karena menurut Heryanto (1996) barangkali regim menganggap bahwa karya sastra sebagai isme punya tradisi panjang untuk merayakan keterbukaan makna, ketidakpastian atau ambiguitas, kemajemukan, dan ketidakterpaduan. Karya sastra yang dimaksud adalah karya sastra yang terkurung oleh romantisme dan humanisme, tetapi sastra yang postmodernisme yaitu otokritik terhadap kecongkakan ilmu dan kekuasaan barat.

Foulcher menjelaskan adanya dua generasi yang memproduksi karya sastra Indonesia, yaitu generasi angkatan 1945 (merupakan generasi terakhir yang berpendidikan Belanda), dan generasi angkatan 1950-an (merupakan generasi yang berpendidikan Indonesian dan berorientasi kedaerahan). Keduanya saling berkaitan dan berdampingan. Kedua generasi itupun hadir dalam kelompok-kelompok ideologis, seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dominan pada tahun 1960-an. Namun sayangnya H.B. Jassin muncul dengan angkatan 66 yang menurut Keith Faucher ini menimbulkan kekacauan pada perkembangan sastra Indonesia, karena pendefinisian itu menurut perisitilahan politik dan historis.

Kenyataan sejarah itu sudah membuktikan bahwa awal pertumbuhan sastra Indonesia para pengarang sudah menunjukan perhatian yang cukup serius terhadap dunia politik. Jassin mengkritik semua konsepsi-konsepsi angkatan 50 dan angkatan terbarunya Ajil Rosidi dengan nada yang tinggi atau keras dan emosional. Pada periodesasi ini terjadilah pergolakan yang panas antara dua kelompok, yaitu pengarang-pengarang dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dengan Manifes Kebudayaan (Manikebu). Satu sama lain saling menyerang dan menjatuhkan. Bahkan Lekra, pengarang-pengarang dalam Manifes Kebudayaan disebut "manikebu" yaitu suatu sebutan yang sangat hina.

Para pengarang Lembaga Kebudayaan Masyarakat (Lekra) membawa paham realisme-sosialis yang menjadi filsafat seni kaum komunis. Dan para pengarang Manifes Kebudayaan (Manikebu) mambawa paham humanisme universal yang menduduki "seni untuk seni". Perdebatan ini dipicu oleh persoalan politik pada masa itu. Pengarang Lekra memanfaatkan kekuatan PKI sebagai partai terbesar pada saat itu, sehingga dapat menguasai pemerintahan. Dan Lekra juga menguasai penerbitan dan berani menghancurkan media yang dijadikan sarana berekspresi para pengarang Manifes Kebudayaan.

Pada masa ini juga melahirkan beberapa pengarang perempuan, salah sayunya yang paling menonjol adalah N.H. Dini dan Titie Said. Dini aktif menulis sejak tahun 50-an dan menghasilkan kumpulan cerpen Dua Dunia (1956). Dalam cerpennya, Dini menaruh perhatian besar terhadap kepincangan-kepincangan kehidupan sosial yang terjadi di sekitar kehidupannya. Lalu setelah itu, Dini menghasilkan novel Hati yang Damai (1961), dan ketika Dini melakukan perjalanannya ke Jepang, ia juga menghasilkan Namaku Hiroko kemudian Pada Sebuah Kapal. Titie Said juga menghasilkan beberapa karya, seperti cerpen dan dibukukannya dalam Perjuangan dan Hati Perempuan (1962). Adapun tokoh lainnya juga, yaitu: Enny Sumargo menulis novel Sekeping Hati Perempuan (1969), S. Tjahjaningsih, menulis kumpulan cerpen Dua Kerinduan (1963), Sugiarti Siswadi, menulis kumpulan cerpen Sorga di Bumi (1960).

Sastra Indonesia pada zaman Orde Baru memiliki beberapa hambatan dan gangguan pada perkembangannya. Dengan tulisan ini, dokumen sejarah sastra dan kajian sastra (terutama yang dibuat pada masa orde baru) menunjukkan adanya usaha untuk membuat definisi tentang sastra dan periode1960-an. Definisi ini dibuat tentu saja untuk membentuk wacana dan kekuasaan. Dan pada uraian diatas dapat kita lihat bagaimana terjadinya perebutan kekuasaan antata Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifestasi Kebudayaan (Manikebu).

Tetapi sepertinya ada sebuah konfrontasi yang lebih dalam tidak kasat mata, dan kompleks pada periode 1960-an. Ada perebutan kekuasaan yang lebih besar, lebih ideologis pada sastra periode 1960-an, yaitu terjadinya pembentukan kekuasaan melalui wacana dan ilmu pengetahuan (sastra). Kecenderungan estetika sastra pada masa Orde Baru dibimbing okeh episteme, wacana, ilmu pengetahuan, dan kuasa. Hal ini dilakukan untuk memperkokoh kekuasaan itu sendiri, baik dari kekuasaan makro maupun mikro. Dan tulisan inilah yang dapat membuktikan bahwa perkembangan sangat di zaman Orde Baru tidak selamanya baik.

Ikuti tulisan menarik Audi Alya Zuhry lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini