x

Salah satu tujuan program guru penggerak adalah bagaimana mengajar yang menyenangkan di kelas.Mungkin seperti iklan rexona, kesan pertama begitu menggoda, seterusnya terserah anda. Pembelajaran dengan menyenangkan akan berdampak pada aktivitas yang penuh dengan semangat, serta motivasi yang terus berkembang. Apakah menyenangkan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi peserta didik?. Akan dikupas dalam tulisan ini.

Iklan

Anisa Nur Maharani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 April 2022

Jumat, 15 April 2022 17:25 WIB

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Anak

Sastra memiliki peran sangat fundamental dalam pendidikan karakter. Karya sastra pada dasarnya membicarakan berbagai nilai hidup dan kehidupan yang berkaitan langsung dengan pembentukkan karakter manusia. Sastra dalam pendidikan anak berperan mengembangkan bahasa, mengembangkan kognitif, afektif, psikomotorik, mengembangkan kepribadian, dan mengembangkan pribadi sosial.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sumardjo (1994: 3) menjelaskan sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. 

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 pada Bab I pasal 1 ditandaskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebijakan terdiri atas sejumlah nilai, yaitu nilai moral, jujur, toleransi, berani bertindak, dapat dipercaya, peduli lingkungan, dan hormat kepada orang lain. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengajarkan cara berpikir dan berperilaku untuk membantu individu dalam hidup dan bekerja sama sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. Pendidikan karakter mengarahkan atau mengajari peserta didik berpikir cerdas, bertanggungjawab, dan santun. 

Berbicara sastra dan pendidikan karakter merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena sastra membicarakan berbagai nilai yang terkait dengan hidup dan kehidupan manusia di bumi yang sekarang dipijak maupun bumi yang kelak akan dipijak (setelah kematian, karena kematian merupakan pintu untuk memasuki atau menapaki bumi lain). 

Terkait peran sastra dalam pembelajaran bagi peserta didik, diungkapkan oleh Tarigan (1995: 10) bahwa sastra sangat berperan dalam pendidikan anak, yaitu dalam:

(1) Perkembangan bahasa

(2) Perkembangan kognitif

(3) Perkembangan kepribadian

 (4) Perkembangan sosial. 

Adapun pemanfaat secara ekspresif karya sastra sebagai media pendidikan karakter dapat ditempuh melalui jalan mengelola emosi, perasaan, semangat, pemikiran, ide, gagasan dan pandangan peserta didik ke dalam bentuk kreativitas menulis karya sastra dan bermain drama, teater, atau film. Peserta didik dilatih mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang diperoleh dari karya sastra. 

Fungsi sastra adalah dulce et utile, artinya indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk, yang apik dan menarik sehingga membuat orang senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu, dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Didalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter (Haryadi: 2011: 4).

Nilai Sastra dalam Pengembangan Karakter

a. Nilai Religius/ Spiritual

Sastra adalah bagian produk budaya yang lahir dari kreasi penulis sekaligus wujud dan gambaran hidup yang terkait dengan tata kehidupan masyarakatnya. Sastra merupakan simbol antara kebebasan kreasi penulis dan hubungan sosial yang di dalamnya sarat etika, norma, aturan, kepentingan ideologis, dan ajaran agama.

b. Nilai Sosial Kultural

Kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi yang bertujuan atau berfungsi sebagai kontrol terhadap sistem sosial atau proses bermasyarakat. Menurut Astrid Susanto (dalam Noor, 201: 25) menjelaskan bahwa yang dimaksud kritik sosial adalah aktivitas yang berhubungan dengan penilaian (juggling), perbandingan (comparing), dan pengungkapan (revealing) tentang kondisi sosial masyarakat yang terkait dengan nilai-nilai yang dianut atau yang dijadikan pedoman. 

c. Nilai Psikologis (Pembentuk Karakter Anak)

Sastra anak atau peserta didik dapat menunjang perkembangan bahasa, kognitif, personalitas, dan sosial anak. Nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra diresepsi oleh anak atau peserta didik dan secara tidak sadar merekonstruksi sikap dan kepribadian mereka. Karya sastra selain sebagai media pengembangan nilai-nilai dan karakter, juga akan merangsang imajinasi kreativitas anak berpikir kritis melalui rasa penasaran tentang jalan cerita dan metafora yang terdapat di dalamnyauntuk melati kecerdasan kognitifnya. 

d. Nilai Moral dalam Pengajaran Sastra yang Menyenangkan 

Guru harus menguasai pengetahuan sastra, teori, sejarah, dan kritik sastra. Mencintai sastra secara pribadi dengan tulus akan berpengaruh terhadap semangat dalam pengajaran sastra. Oleh karena itu, diperlukan apresiasi yang mendalam untuk mengenal karya sastra agar menjadi pegangan dalam membimbing peserta didik. Rasa menyenangkan yang lahir dalam pengajaran sastra akan memengaruhi kematangan jiwa peserta didik, sedangkan kematangan jiwa adalah bagian dari aspek pengembangan moral dan kepribadian ke arah positif.

Karya sastra sarat aspek nilai kehidupan, seperti religius, psikologis, moral, dan sosial kultural. Oleh karena itu, karya sastra sangat berguna dan bermanfaat untuk kehidupan. Selain itu, karya sastra sangat bermanfaat karena menjadi sarana rekreatif bagi pembaca dan penikmatnya, sedangkan proses penikmatan akan melahirkan ketenangan dan kematangan jiwa melalui pencermatan isi karya sastra. Dengan demikian, akan menimbulkan penjiwaan yang penuh dengan pesan moral, sikap, perilaku, dan kepribadian yang diilustrasikan, pada akhirnya terjadilah transformasi nilai-nilai karakter melalui pembelajaran pembiasaan menikmati karya sastra.

 

Sumber:

Kanzunnudin, M. (2012, June). Peran sastra dalam pendidikan karakter. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan: Pendidikan untuk Kejayaan Bangsa (pp. 195-204). Penerbit Universitas Sanata Dharma.

Wulandari, R. A. (2015). Sastra dalam pembentukan karakter siswa. Jurnal Edukasi Kultura, 2(2), 63-73.

Sukirman, S. (2021). Karya Sastra Media Pendidikan Karakter bagi Peserta Didik. Jurnal Konsepsi, 10(1), 17-27.

 

Ikuti tulisan menarik Anisa Nur Maharani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB