Ketika Kamu Rido Pintu Akan Terbuka - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Menghidupi Tempat Ibadah: Pixabay

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 15 April 2022 13:08 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ketika Kamu Rido Pintu Akan Terbuka

    Semua orang pasti menghadapi ujian dalam kehidupannya. Bukan ujian sekokah saja tapi ujian kehidupan, kesulitan dan masalah. Ketika mendapat ujian kehidupan apakah kamu menggerutu? Kalau iya apakah situasi semangkin baik? Topik inilah yang kita bahas kali ini. Silahkan baca terus

    Dibaca : 977 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku.

    Kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini masih memrihatinkan.   Harga harga naik, covid masih ada, usaha bisnis belum bangkit. Banyak korban phk belum menemukan pekerjaan baru. Banyak pelaku usaha masih belum pulih bisnisnya.  Pendeknya masih sangat banyak orang yang menghadapi ujian.  Dalam kondisi yang masih sulit ini mari kita perhatikan kalimat bijak dari sang pujangga dari Konya, Turki, yang karyanya sampai hari ini masih digemari.

     The moment you accept all the troubles you’ve been given, the door will open. (Maulana Jalaludin Rumi)  Tatkala kamu menerima kesulitan yang diberikan, pintu akan terbuka. Memang indah sekali kalimat mutiara Jalaludin Rumi ini.  Indah dan sarat makna.  Tidak heran karyanya menjadi abadi, tidak pernah dilupakan orang.  Time stood still.  Waktu seolah tidak berlalu.  Sudah ratusan tahun dia pergi, tapi seolah baru kemarin sore.  Orang masih mengagumi karyanya.  Orang banyak masih saja mendiskusikan dan menafsirkan karyanya.  Demikian juga kalimat di atas.  Seperti lazimnya metafora, ia terbuka terhadap banyak tafsir.  Saya juga menafsirkannya.

    Menerima segala macam kesulitan yang dianugerahkan artinya rido.  Manusia harus rido kepada semua ketentuan Allah swt.  Manusia harus menerima dengan lapang dada, dengan senang hati apapun kesulitan yang dialaminya.  Manakala dia sudah rido dengan semua yang terjadi dalam kehidupannya maka pintu kebahagiaan akan terbuka.  Tidak mungkin manusia mendapatkan kebahagiaan ketika dia masih tidak rido dengan apa yang terjadi padanya.  Tidak mungkin manusia akan bahagia manakala dia masih grenengan dengan kesulitan dan masalah yang dialaminya. Baik kesulitan kecil maupun kesulitan besar harus diterima dengan lapang dada.  Tentu saja dia boleh berdoa dan berupaya agar kesulitannya teratasi.

    Dalam buku One way ticket to happiness saya membahas soal rido ini dalam sebuah bab.  Itupun rasanya masih kurang karena saking pentingnya soal rido ini.  Dalam bab tersebut saya paparkan banyak contoh kejadian nyata yang saya lihat sendiri.  Banyak kejadian yang menjadi kendala tercapainya kebahagiaan.  Tidak jarang hanya soal kecil saja tapi menjadi kendala besar karena sikap mental yang tidak rido ini.

    Saya sering bertemu wisatawan asing dari negara maju. Mereka makmur tapi kebanyakan memiliki sikap mental yang kurang rido dengan apa yang mereka terima.  Kerugian sedikit saja dalam usaha mereka akan menyebabkan mereka sangat kecewa.  Demikian juga dalam kehidupan pribadi.  Mereka berharap tinggi kepada pasangan. Ketika harapannya tidak tercapai mereka kecewa. Akibatnya terjadi pertengkaran.  Tidak sedikit yang berlanjut dengan perceraian.  Tidak heran angka perceraian di negri paman Sam sangat tinggi.

    Tidak ada orang lain yang mampu memperbaiki hati kita.  Hanya Tuhan dan kita sendirilah yang mampu mengubah hati.  Maka niatkan untuk mengubah hati agar mampu menerima segala ketentuan Allah swt dengan rido.   Setelah kita mampu menerima dengan lapang dada segala kejadian maka barulah pintu kebahagiaan akan terbuka.  Jadi kebahagiaan bisa didapat oleh siapa saja asal dia rido.  Tanpa rido susah kita mendapat kebahagiaan meskipun kaya raya dan berkuasa.  

     

    Semoga ini bisa membantu anda mencapai hati yang rido kepada Allah swt agar bisa menggapai kebahagiaan.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.