Topeng Jatuh - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 18 April 2022 22:34 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Topeng Jatuh

    Baragkali Anda pernah melihat sendiri orang yang berubah drastis. Orang yang awalnya terkesan baik ternyata sebaliknya. Orang yang awalnya terkesan kaya terbukti sebaliknya. Mengapa demikian? Ternyata dia memakai topeng. Ikuti terus paparannya.

    Dibaca : 1.125 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku.

    Pernahkah Anda merasa heran melihat perubahan sikap seseorang?  Awalnya Anda mengira dia orang baik ternyata setelah beberapa waktu berlalu asumsi Anda keliru. Dia terbukti orang tidak baik.  Apakah asumsi Anda yang keliru atau dia yang berubah? Ada juga orang yang bergaya  kaya. Dia beli barang barang mahal untuk menciptakan kesan bahwa dia seorang pebisnis yang tajir melintir.  Suatu saat ketahuan itu semua hanya pinjaman.  Mengapa begitu?  Mari kita bahas.

     

    Seorang penulis kondang berkebangsaan Jepang memiliki sebuah quote menarik soal ini. Sometimes it is not the people who change, but it is the mask that falls off.  Kadang bukan orangnya yang berubah, tapi topengnya yang jatuh. 

     

    Tepat sekali kata Harumi Murakami.  Sebenarnya yang terjadi adalah topengnya yang jatuh.  Jadi terlihat wajah aslinya.  Selama ini Anda hanya melihat topengnya saja.  Topeng di sini tentu dalam arti kiasan.  Maksudnya pencitraan.  Serangkaian tindakan yang direncanakan, diatur untuk menimbulkan kesan baik di masyarakat.  Itu adalah upaya memengaruhi opini publik agar menguntungkan dirinya.  Penampilan fisik dipoles dengan pakaian, perhiasan, kosmetik.  Kata kata diatur. Hanya kalimat sopan dan baik saja yang diucapkan.  Tindakan juga dilatih. Cara makan, cara jalan, cara minum, cara duduk ada aturannya semua.

     

    Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua tindakan itu.  Serangkain tindakan itu justru merupakan tindakan mulia yang sangat dianjurkan.  Masalahnya bukan di situ.  Masalahnya adalah apabila semua itu hanya tindakan ragawi saja, tanpa niat tulus dari dalam hati.

     

    Idealnya semua tindakan itu berasal dari hati nurani.  Jadi berbicara baik, menulis baik, bertindak baik itu diniatkan sebagai ibadah.  Bukan diniatkan untuk mencari keuntungan apapun. Jangan sampai perbuatan baik  hanya diniatkan untuk memberi kesan positif pada masyarakat demi keuntungan finansial.  Jika tujuannya hanya mencari keuntungan keuangan saja maka sejatinya itu mencederai kemuliaaan tindakan tersebut.

     

    Tentu boleh boleh saja berbisnis benda atau jasa yang sah.  Tidak ada salahnya. Menjadi kaya juga tidak salah secara agama maupun hukum Indonesia.  Menjadi kaya malah baik kok.  Anda jadi bisa banyak bersedekah, bayar infak dan zakat.

     

    Meskipun demikian jika niat Anda hanya keuntungan semata maka sutu saat topeng Anda akan jatuh.  Ada banyak faktor yang membuat topeng Anda jatuh.  Repot sekali mengingat apa saja faktor itu karena banyak. Jadi cepat atau lambat topeng pasti akan jatuh.  Masyarakat atau paling tidak beberapa orang yang jeli amatannya akan melihat wajah asli Anda yang tersembunyi di balik topeng.

     

    Maka upayakan agar niat anda tulus dan mulia untuk mengabdi kepada Allah swt saja.  Tidak perlu terlalu ambisius.  Maka wajah asli anda tidak akan jauh beda dengan topeng.  Sesekali kalau topeng jatuh orang tidak akan kaget karena tidak jauh beda

     

    Berpura pura kaya juga sangat merepotkan.  Setiap bulan membeli barang dan jasa yang jauh di atas kemampuan jelas terasa berat.  Gaya hidup mewah kalau diikuti akan sangat berat.  Maka abaikan iming iming atau tekanan masyarakat untuk bergaya hidup tinggi. Niatkan saja hidup sesuai dengan penghasilan. 

     

    Monggo bersihkan niat. Semoga kita semua bisa mencapainya.  



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.