Seni Memakai Topeng dalam Masyarakat - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

image: Maxmanroe.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 20 April 2022 07:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Seni Memakai Topeng dalam Masyarakat

    Topeng kekinian lebih bervariasi.  Busana, asesoris, narasi, foto dan video bisa menjadi sarana bertopeng.  Medsos bisa juga dipakai menyebarluaskan topeng ke mana mana. Pertanyannya apakah memakai topeng itu salah?  Sesungguhnya kita membutuhkan seni memakai topeng. Di masyarakat banyak sekali orang yang memakai topeng. Tapi orang yang tidak bertopeng juga tidak kalah banyak. Sesungguhnya kita membutuhkan keterampilan memakai topeng. Apa maksudnya?

    Dibaca : 1.019 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Orang bertopeng dan berjubah abu-abu berdiri tegap menghalangi langkah rombongan Mahesa Jenar di tepi hutan Mentaok. Itulah ciri Pasingsingan! Sebuah nama yang menggetarkan setiap dada.

    Pernahkah anda membaca sekilas cerita seperti di atas?  Itu adalah petilan dari novel SH Mintardja berjudul Nagasasra dan Sabuk Inten, sebuah novel laga berlatar belakang sejarah Jawa di jaman kerajaan Demak.   Tapi kita tidak sedang membahas novel Mintardja.  Kita akan membahas sebuah seni memakai topeng.  Mari kita otak atik.

    Topeng yang saya maksud bukanlah topeng beneran tapi kiasan dari sebuah upaya memoles citra.  Di kalangan masyarakat ada segolongan orang  yang sangat mementingkan tata krama.  Setiap anak sejak kecil sudah diajari dan dilatih cara berbahasa dan bertindak yang sopan dan halus.  Cara bicara, cara makan, cara jalan, cara berpakaian, semuanya ada tata caranya yang ketat.  Hasilnya mereka mampu berbahasa dan bertindak halus sesuai standar yang ketat. Kebanyakan anggota masyarakat akan menilai orang seperti itu adalah orang baik.  Biasanya orang langsung saja percaya karena menilai hanya dari satu sisi dan sangat subyektif.  Ukurannya perasaan. Kalau menyenangkan ya diangap orang baik dan sebaliknya.

    Di sisi lain ada keluarga yang sama sekal tidak melatih anak anaknya untuk berbahasa dan bertindak halus.  Tidak susah menebak hasilnya dan reaksi masyarakat.

    Kasus pertama adalah contoh orang yang memakai topeng dan kasus kedua orang yang tidak bertopeng. 

    Topeng kekinian lebih bervariasi.  Busana, asesoris, narasi, foto dan video bisa menjadi sarana bertopeng.  Medsos bisa juga dipakai menyebarluaskan topeng ke mana mana. Pertanyannya apakah memakai topeng itu salah?  Tidak selalu.  Ada juga manfaatnya bertopeng.

    Sesungguhnya kita membutuhkan seni memakai topeng.  Kita harus terus menerus meningkatkan kompetensi utama dan lebih baik lagi kompetensi tambahan.  Setiap kompetensi pasti ada saja orang yang membutuhkan. Maka masyarakat, terutama yang membutuhkan, perlu tahu kompetensi kita.  Di sinilah perlunya upaya membentuk citra.  Itulah yang saya maksud memakai topeng.  Tujuannya agar masyarakat, terutama yang membutuhkan, tahu dan mudah memakai jasa atau benda yang kita tawarkan.  Itulah gagasan pokoknya.

    Ini adalah seni mengelola di antara dua kutub. Dengan kata lain ini adalah seni menemukan jalan tengah.  Upayakan jangan berada di ekstrim kiri dan jangan di ekstrim kanan.

    Di satu sisi, katakanlah di ekstrim kiri, ini adalah orng orang yang sangat mengutamakan pencitraan.  Saking semangatnya melakukan pencitraan sampai citra mereka beda dengan aslinya.  Misalnya saja orang orang yang terlatih berbasa basi dan berpenampilan bagus.  Mereka bisa mencitrakan sebagai orang yang ramah, santun dan baik hati.  Sifat kaku, keras, tidak mampu kerjasama dan kompromi  bisa ditutupi senyum manis.  Tingkah lakunya, cara omongnya, cara jalannya, cara makannya dsb ditata.  Sebenarnya semua tindakan itu tidak salah. Baik baik saja.  Tidak ada pelanggaran apapun. Tapi kalau itu tidak disertai penataan di dalam jadilah beda luar dalam.  Artinya kompetensinya, karakternya, attitudenya tidak dikembangkan maka terjadi kesenjangan antara citra dengan realitas.  Orang seperti ini hakekatnya menipu atau menyesatkan liyan. Orang jahat bisa dikira orang baik.

    Lebih parah lagi bisa menyesatkan dirinya sendiri.  Kalau hanya penyesatan sedikit masih mending tapi kalau sampai hal yang sangat serius bisa berdampak besar buat masyarakat.

    Di sisi lain, katakanlah di ekstrim kanan ada juga orang yang tidak melakukan polesan sama sekali.  Mereka ini ibarat tanpa topeng sama sekali.  Mereka tidak kenal basa basi alias kurang tata krama. Akibatnya mereka rugi sendiri karena opini publik bisa buruk.  Orang yang memiliki kompetensi tinggi misalnya tapi kesan yang ditimbulkan kurang baik akan mendapat reaksi kurang baik juga dari masyarakat.

    Jadi semua  orang sejatinya membutuhkan topeng.  Ini adalah seni promosi diri.  Tapi harus  dibarengi penataan kualitas dalam dirinya.  Dia harus punya kompetensi. Karakternya harus baik.  Dia harus mampu menjalani sebuah profesi tertentu.  Jadi citra dan ralitas tidak jauh beda.  Maka dia tidak akan menyesatkan alias membohongi masyarakat. Dalam bahasa Jawa ada frasa sak madyo artinya di tengah.  Tidak di ekstrim kanan. Tidak juga di ekstrim kiri. Monggo belajar seni memakai topeng dengan benar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.