Minta Maaf, tapi kok Disalahkan? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Kamis, 5 Mei 2022 06:42 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Minta Maaf, tapi kok Disalahkan?

    Penulisan kata “maaf” dan “idulfitri”, banyak dituliskan secara salah. Mana yang benar?

    Dibaca : 862 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pra dan pascalebaran saya mendapat beragam ucapan permohonan maaf. Berikut dikutipkan kalimatnya.

    • Mohon ma’af lahir dan bathin
    • Di hari yang fitri ini, kami sekeluarga minta ma’af ya.
    • Selamat hari raya Idul Fitri, ma’afkan atas khilaf yang tercipta.

     

    Apostrof

    Mari kita cermati penulisan “ma’af” dan “ma’afkan” pada ketiga kalimat tersebut. Penggunaan apostrof (‘) secara tidak tepat. Mengapa?

    Berdasarkan SK Balitbang Keputusan Kepala Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 0321/I/BS.00.00/2021 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tercantum bahwa apostrof atau lazim disebut tanda penyingkat, dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu (h.44).

    Misalnya:

    Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)

    Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)

    Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)

    5-2-‘13 (’13 = 2013)

     

    Itu sebabnya, pemakaian apostrof (‘) pada “ma’af” dan “ma’afkan” tidak tepat.

     

    PUEBI dan KBBI

    Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagaimana dimaksud dalam Diktum kesatu merupakan pedoman dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu,  PUEBI sebagaimana dimaksud dalam Diktum kesatu digunakan oleh instansi pemerintah dan swasta serta masyarakat.

     

    Hal yang dapat ditegaskan adalah bahwa PUEBI hendaknya dipatuhi bagi pengguna bahasa Indonesia, dalam tertib berbahasa tulis. PUEBI yang mengatur tentang penulisan huruf, penulisan kata,dan penulisan tanda baca merupakan pedoman baku dalam rangka pembakuan dan kodifikasi kaidah Bahasa Indonesia.

     

    Di lain pihak, keberadaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hendaknya patut pula dijadikan sebagai rujukan pengguna bahasa Indonesia dalam berkomunikasi lisan dan tulis. Dalam KBBI termuat sejumlah kata bakudan maknanya –sebagai penanda penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

     

    Jika kita ragu akan penulisan sebuah kata, baku atau tidak baku, kita dapat memanfaatkan KBBI. Ketika akan menggunakan kata yang masih sangsi kita tuliskan, seperti :  “doa atau do’a; silaturahmi atau silaturahim maka KBBI-lah pedomannya.

     

    Berkaitan dengan kasus “ma’af” dan “ma’afkan” mari kita tengok PUEBI dan KBBI! Secara tegas KBBI sebagai kamus yang berisi tentang kata baku dan maknanya, mencantumkan bahwa penulisan kata yang benar adalah “maaf” dan “maafkan”. Adapun secara PUEBI, penulisan kata  “ma’af” dan “ma’afkan” dituliskan tanpa menggunakan tanda apostrof (‘). Jadi, cara penulisannya sebagaimana tertera dalam KBBI: “maaf” dan “maafkan.”

     

    Pemakaian apostrof yang keliru juga banyak ditemukan pada kata-kata berikut.

    “jum’at, do’a, assalamu’alaikum.”  Ketiga kata tersebut seharusnya dituliskan  “Jumat, doa, assalamualaikum.”  

     

    Bagaimana dengan penulisan “Idul Fitri”? Jika mengacu ke KBBI, penulisannya pun belum tepat. Sebagai istilah yang bermakna ‘hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan’ termasuk kata tidak baku. Mana bentuk bakunya?

     

    Penulisan yang baku dan sesuai dengan KBBI sebagaimana pada kalimat “Selamat hari raya Idul Fitri, ma’afkan atas khilaf yang tercipta.”seharusnya dituliskan  “Selamat hari raya Idulfitri, maafkan atas khilaf yang tercipta.”  Sering pulakita membaca penulisan idul adha, dengan penulisan yang menyimpang dari KBBI. Padahal bentuk bakunya adalah “iduladha.

     

    Masih “baper” dengan disalahkan, walau sudah minta maaf dan saat idulfitri pula? Yuk, kita tidak membiasakan ngeyel dengan kesewenang-wenangan dan dalih: yangterpenting orang yang kita kirimi pesan minta maaf toh sudah paham niat kita. Tertib berbahasa merupakan cermin kepribadian yang bermarwah.Semoga!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.