Taufiq Ismail sebagai Pengamat Tinju - Analisis - www.indonesiana.id
x

Taufiq Ismail. Wikipedia

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Kamis, 12 Mei 2022 20:48 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Taufiq Ismail sebagai Pengamat Tinju

    Puisi-puisi Taufiq Ismail berkontribusi dalam tiga hal. Pertama, puisi-puisinya dikaji dan dipelajari di ragam jenjang pendidikan. Kedua, muatan puisinya mengandung unsur didik. Ketiga, penyebarluasan puisi-puisinya demikian masif.

    Dibaca : 359 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Taufiq Ismail: 69 Tahun Berpuisi (Bagian 2)

    Secara garis besar, puisi-puisi Taufiq Ismail memberikan sumbangan di  bidang pendidikan dalam tiga hal. Pertama, puisi-puisi yang ditulisnya dikaji dan dipelajari mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, terutamayang berkaitan dengan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua, muatan puisinya selalu mengandung unsur didik. Ketiga, penyebarluasan puisi-puisinya kepada khalayak menyebabkan terutama dengan menggandeng grup musik Godbless dan Bimbo,  keberadaannya sebagai pendidik semakin kokoh.

    Sebagaimana diketahui, Taufiq Ismail dikenal sebagai sastrawan Angkatan 66. Dalam kaitan ini, karya-karyanya –terutama puisi—dipelajari mulai dari siswa SMP, SMA dan mahasiswa jurusan sastra maupun mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Secara khusus kumpulan antologinya seperti “Tirani” (1966), “Benteng” (1966), “Buku Tamu Musium Perjuangan” (1972), “Sajak Ladang Jagung” (1974), “Kenalkan, Saya Hewan” (sajak anak-anak) (1976), “Puisi-puisi Langit” (1990), “Ketika Kata Ketika Warna” (1995), “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) merupakan sejumlah karyanya yang dijadikan rujukan bahan pembelajaran.

    Teknik dan isi yang ditampilkan melalui puisi-puisi tersebut didiskusikan, dipelajari dan diapresiasi dengan beragam keperluan. Ada yang menjadikan puisi tersebut sebagai lomba baca puisi. Ada pula yang memanfaatkan puisi-puisinya  sebagai makalah baik siswa, mahasiswa, maupun pakar pada sebuah seminar. 

    Puisinya yang berjudul "Karangan Bunga"  termasuk bahan puisi yang banyak dikutip pada buku-buku pelajaran bahasa Indonesia pada tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah. Sedangkan puisi berjudul “Kembalikan Indonesia Padaku” menjadi puisi wajib pada lomba-lomba baca puisi antarsekolah.

    Sumbangan kedua Taufiq Ismail lewat puisi-puisi yang ditulisnya banyak bermuatan unsur didik. Dalam Tirani (1966), Benteng (1966), Buku Tamu Musium Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1974), Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak) (1976), Puisi-puisi Langit (1990), Ketika Kata Ketika Warna (1995), Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998), dan puisi-puisi lain yang tersebar di berbagai media massa dan acara-acara penting — yang belum sempat dibukukan; unsur didik diungkapkan dalam berbagai bentuk.

    Ada protes Taufiq Ismail terhadap rezim yang lalim masa Orde Lama sebagaimana dalam Tirani  dan Benteng. Nada pahit, perih, pekik, keluh, amarah diungkap kembali dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (MAJOI) sebagai wujud protes atas Rezim Orde Baru yang menyebarkan virus kebobrokan akhlak kepada masyarakat. Ada pula sindiran parodi sebagaimana diungkapkan kala ia mengritik prinsip ekonomi yakni mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya; lalu oleh Taufiq ditulis: /sesal dahulu pendapatan/sesal kemudian pengeluaran // dalam “Sajak Ladang Jagung.”

    Puisi “Takut ’66, Takut ’ 98” ditulis Tauifiq dengan penuh humor, meledek sekaligus ironis. Amanatnya seperti ingin mengingatkan kepada pemimpin bangsa (Indonesia) yang lengser karena adanya -siklus takut –baik saat Orde Lama maupun Orde Baru– mahasiswa. Simak tuturannya:

    Mahasiswa takut pada dosen 

    Dosen takut pada dekan

    Dekan takut pada rektor

    Rektor takut pada menteri

    Menteri takut pada presiden

    Presiden takut pada mahasiswa

     

    Pengamat Tinju

    Taufiq Ismail adalah pengamat dan praktisi  yang tajam. Lontaran kritiknya sering membuat orang terpana.   Orang seperti sering ditepuk-diingatkan. Ketika pertandingan tinju menjadi idola masyarakat, Taufiq Ismail menulis tiga puisi “Lupa Aku Nomor  Teleponnya,”  “Lonceng Tinju” dan “Tak Tahan  Aku Menatap Sinar Matamu” pada 25, 26 dan 27 Februari 1989. Kebetulan ketiga pusi tersebut ditulis menjelang pertandingan tinju : Ellyas Pical melawan Mike Phelps di Singapura dan Mike Tyson melawan Frank Bruno di Las Vegas Amerika Serikat.  Kemudian Taufiq Ismail kembali mengangkat puisi tinjunya pada 3 September 1988 dengan judul “Memuja Kepalan Menghina Kepala.”

    Animo purba masyarakat (modern) terhadap tinju yang begitu menggebu, membuat Taufiq Ismail prihatin dan geram. Ia ingin mengingatkan masyarakat, jika tinju — yang diistilahkannya dengan ‘adu manusia’ — tidak saja membuat seseorang menjadi kecut, namun menimbulkan penyesalan bagi sang petinju sendiri. Setelah pertandingan adu manusia, salah satu dari mereka mungkin terkena KO (Knock Out) jatuh terkapar, pingsan, terkena Parkinson, koma bahkan banyak juga yang akhirnya meninggal dunia dengan batok kepala yang remuk akibat dihujani bertubi-tubi kepalan sang lawan.

    Dalam “Memuja Kepalan Menghina Kepala” Taufiq Ismail melukiskan wawancara seorang wartawan olah raga dengan dua tengkorak petinju yang sudah meninggal dunia. Dengan imajinasinya Taufiq Ismail merekam wawancara itu melalui baris-baris puisinya: /Sesudah sepuluh tahun berlalu/ sesudah seribu juta di saku/orang melupakan daku/ketika aku lumpuh dan gagu//kata tengkorak yang satu//. Lalu: /Bangsaku pemuja kepalan/karena tujuh hurufnya/Bangsaku penghina kepala/karena hurufnya enam Cuma// Jawab tengkorak yang satunya//.

    Nasib petinju pada akhirnya seringkali sampai begitu. Saat sang petinju sedang di puncak popularitas, ia dipuja-puja. Lalu dilupakan saat keadaannya tidak lagi populer: jelek, tua, dan pikun! Maka, lewat puisi “Lupa Aku Nomor  Teleponnya” (dalam antologi MAJOI ditambah judulnya menjadi “Lupa Aku Nomor  Telepon Hakim Agung Bismar Siregar”),  Taufiq Ismail tidak habis pikir, mengapa adu manusia terus diminati orang? Semua orang tahu, bahwa sasaran tinju adalah kepala.

    Kepala tempat bersarangnya otak. Otak, sebagai pusat kecendekiaan kemanusiaan –dihantam, ditinju, dibentur, dan dibantai berkali-kali hingga mata  sang petinju nanar, tubuhnya limbung, danterkulai-terkapar.  /Aku bingung/ Ini bagaimana?// ungkapnya melalui puisi tersebut.

    Korban adu manusia dari hari ke hari semakin berguguran. Laporan Majalah Ring terbitan Amerika (1989, entah pada 2022 ini bertambah berapa) mencatat dalam kurun waktu 70 tahun terakhir 500 petinju Amerika meninggal karena perdarahan otak. Bagaimana dengan kita? Cukup membuat bulu kuduk kita merinding. Sejumlah anak muda kita yang menggeluti pertinjuan juga mengalami nasib yang sama tragisnya! Nama-nama seperti: Ricky Huang, Aceng Jim, Nasir Kitu, Domo Hutabarat, Agus Souissa dan Wahab Bahari adalah mereka yang mati tragis karena perdarahan otak setelah bertinju di atas ring.

    Itu pula yang menjadi titik tolak puisi Taufiq Ismail berjudul “Wahab Bahari, Tak Tahan Aku Menatap Sinar Matamu.” Lewat larik-larik puisinya, ia berkabar: /Mereka anak-anak kita/Penuh cita-cita/Tapi mati muda/Mati sesudah naik gelanggang/atau sehabis latihan/Otak mereka gegar dan berdarah/Itu sakit sekali/Mereka meninggal dalam sunyi/Tidak masuk berita televisi/Tidak dimuat halaman satu Koran pagi/Mereka dilupakan/Tidak punya uang/Dan pergi/Dalam sepi//.

     

     

    (Bersambung)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.