x

Perkembangan sastra Lisan dan tulisan di Indonesia

Iklan

Hanna Hanifa Hira

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Maret 2022

Selasa, 24 Mei 2022 07:07 WIB

Perkembangan Sastra Lisan Dan SastraTulisan Di Indonesia

Dari judul ini timbul suatu pertanyaan apakah sastra lisan dan sastra tulisan masih eksis di indonesia? sangat menarik bukan? Mari kita bahas bersama dalam Artikel ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebelum nya kita perlu ketahui pengertian sastra, Dalam bahasa Barat, istilah sastra secara etimologis berasal dari bahasa Latin sastra (littera = surat tertulis). Istilah sastra digunakan untuk menggambarkan tata bahasa dan puisi dalam bahasa Latin. Istilah sastra Inggris, sastra Jerman, dan sastra Prancis sekarang mencakup penggunaan semua jenis bahasa dalam  tulisan. Kata sastra Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta. (Teeuw, 1988: 23) menjelaskan bahwa kata sastra berasal dari akar kata sas. Ini berarti "menginstruksikan, mengajar, menginstruksikan, atau memberi instruksi" dalam kata kerja turunan, dan sufiks tra berarti  "alat atau sarana". Dengan demikian, kata sastra dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi, atau pengajaran yang baik dan indah, misalnya silpasastra (buku petunjuk tentang arsitektur), kamasastra (buku petunjuk mengenai seni cinta).(Suarta dan Adhi, 2014: 10). Menurut KBBI, sastra sangat serius dalam isi dan bentuk, berupa ekspresi dari pengalaman jiwa manusia, yang ditarik dari kehidupan, dibentuk dan ditempatkan dalam bahasa yang indah, sebagai sarana untuk mencapai klaim estetika yang lebih tinggi. sebuah karya sastra. Sedangkan deskripsi "sastra" sedang ditulis: pengetahuan, ajaran, ajaran tentang agama, surat. Penjelasan ini menunjukkan bahwa “sastra” pada awalnya memiliki arti atau pengertian yang luas. Dalam masyarakat kuno, tidak ada perbedaan yang jelas antara sastra dan sains, dan antara fiksi dan nonfiksi (dalam pengertian modern).

Selanjutnya pengertian sastra lisan. Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencangkup ekspresi kesusastraan warga. Suatu kebudayaan yang disebarluaskan secara turun-temurun atau dari mulut ke mulut (Hutomo, 1990:1). Setiap daerah biasanya memiliki sastra lisan yang terus dijaga. Sastra lisan ini adalah salah satu bagian budaya yang dipelihara oleh masyarakat pendukungnya secara turun-temurun. Artinya, sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang harus dipelihara dan dilestarikan.

Dalam khazanah kesusastraan Melayu kuno tradisi sastra lisan baik syair maupun prosa merupakan kekhasan corak tersendiri yang memiliki relasi lajur sejarah yang cukup panjang. Satu pengaruh tradisi cina yang masuk melalui jalur perdagangan kemudian pengaruh India atau Hindu-Budha yang saat itu merupakan agama yang dianut sebagian besar kerajaan-kerajaan di Indinesia. Ditambah dengan sumbangan kebudayaan Arab-Islam yang dibawa oleh para musafir. Ketiga tradisi yang berbeda-beda tersebut tentunya sangat mewarnai sejarah perkembangan sastra di indonesia khususnya sastra lisan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam perjalanannya sastra lisan menemukan tempat dan bentuknya masing-masing di tiap-tiap daerah pada ruang etnik dan suku yang mengusung flok budaya dan adat yang berbeda-beda. Heddy Shri Ahimsya-Putra (1966) mengatakan bahwa sebagai suatu bentuk ekspresi budaya masyarakat pemiliknya, sastra lisan tidak hanya mengandung unsur keindahan (estetik) tetapi juga mengandung berbagai informasi nilai-nilai kebudayaan tradisi yang bersangkutan. Oleh karenanya, sebagai salah satu data budaya sastra lisan dapat dianggap sebagai pintu untuk memahami salah satu atau mungkin keseluruhan unsur kebudayaan yang bersangkutan.

Sastra lisan telah bertahan cukup lama dalam mengiringi sejarah bangsa Indonesia dan menjadi semacam ekspresi estetik tiap-tiap daerah dan suku yang tersebar di seluruh nusantara.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, dalam khazanah kesusastraan modern Indonesia baik dalam ekspresi proses verbal kesastrawanan maupun dalam kajian, sastra tulisan lebih mendimonasi. Hal ini mulai berkembang ketika muncul anggapan bahwa sastra tulis mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding sastra lisan dalam konteks pembangunan kepribadian bangsa yang lebih maju. Ditambah lagi oleh arus modernisasi yang masuk dan membawa corak kebudayaan baru, maka posisi sastra lisan dalam masyarakat mulai pudar bahkan hampir dilupakan.

Sedangkan sastra tulis adalah sastra tulisan (written literature) yaitu sastra yang menggunakan media tulisan atau literal. Menurut Sulastin Sutrisno (1985) awal sejarah sastra tulis melayu bisa dirunut sejak abad ke-7 M. Berdasarkan penemuan prasasti bertuliskan huruf Pallawa peninggalan kerajaan Sriwijawa di Kedukan Bukit (683) Talang Tuo (684) Kota Kapur (686) dan Karang Berahi (686). Walaupun tulisan pada prasasti-prasati tersebut masih pendek-pendek, tetapi prasasti-prasasti yang merupakan benda peninggalan sejarah itu dapat disebut sebagai cikal bakal lahirnya tradisi menulis atau sebuah bahasa yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sastra tulis dianggap sebagai ciri sastra modern karena bahasa tulisan dianggap sebagai refleksi peradaban masyarakat yang lebih maju. Menurut Ayu Sutarto (2004) dan Daniel Dakhidae (1996) tradisi sastra lisan menjadi penghambat bagi kemajuan bangsa. Maka, tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi menulis. Karena budaya tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan peradaban keilmuan. Pendapat ini mungkin tidak keliru. Tapi, bukan berarti kita dengan begitu saja mengabaikan atau bahkan meninggalkan tradisi sastra lisan yang sudah mengakar dan menjadi identitas kultural masing-masing suku dan daerah di seluruh kepulauan Indonesia.

Pada akhirnya, proses pergeseran dari tradisi sastra lisan menuju sastra tulisan tidak dapat dihindari. Karena sadar atau tidak, bagaimanapun proses pertumbuhan sastra akan mengarah dan berusaha menemukan bentuk yang lebih maju dan lebih sempurna sebagaimana terjadi pada bidang yang lainnya. Karena proses perubahan seperti ini merupakan sebuah keniscayaan terutama  dalam struktur masyarakat yang dinamis. Belum ditemukan data yang pasti, yang menunjukan kapan tepatnya tradisi sastra tulis dimulai. Sastra tulis yang tercarat dalam sejarah kesusastraan Indonesia mungkin bisa dikatakan dimulai sejak sebelum abad ke-20, yaitu pada periode Pujangga Lama. Dan, kemudian mulai menunjukan wujudnya yang lebih nyata pada periode Balai Pustaka yang bisa disebut sebagai tonggak perkembangan sejarah kesusastraan modern Indonesia. Dimana dengan lahirnya penerbit pertama di Indonesia ini, bidang kesusastraan mulai dikembangkan secara lebih terorganisir. Dan, pada periode berikutnya, terus berkembang secara lebih luas.

Kesimpulan nya Sastra lisan lebih dahulu hadir dari pada sastra tulisan, karena sastra lisan merupakan waridan turun temurun dari masyarakat.    Dizaman dahulu sastra lisan banyak diminati namun seiring berjalannya waktu sastra tersebutpun tinggal dongeng. Karena sudah digantikan oleh sastra tulisan. Namun meskipun begitu kedua sastra tersrbut saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan sebagaimana 2 sisi uang koin. Sastra lisan dan sastra tulis di indonesia pada masa sekarang kedua nya masih eksis pada semua kalangan. Dapat kita buktikan bersama bahwa masih banyak karya sastra tulisan seperti novel, cerpen, puisi dan lain-lain masih banyak diminati. Karya sastra lisan seperti syair, wayang, dongeng, dan lain nya juga masih esis sampai sekarang. Untuk menjaga supanya tetap eksis kita sebagai generasi muda perlu menjaga dan melestarikan nya dengan cara membuat kegiatan tentang sastra seperti webinar atau seminar, mengikuti lomba tentang sastra atau mengadakan bazar sastra, dengan demikian kita bisa ikut melestarikan perkembangan sastra di Indonesia.

Ikuti tulisan menarik Hanna Hanifa Hira lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu