Permainan Bikinan Belanda, Het Teukoe Oemar Spel - Analisis - www.indonesiana.id
x

Teuku Umar. Wikipedia

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Kamis, 26 Mei 2022 06:59 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Permainan Bikinan Belanda, Het Teukoe Oemar Spel

    Di sisi Belanda, masyarakat umumnya menanggapi dengan sangat marah "pengkhianatan"; Toekoe Oemar. Oleh Belanda, Teuku Umar disebut dan dituliskan sebagai “veraad”, penghianat. Agaknya Belanda sakit kepala dan lupa bahwa Teuku Umar adalah orang Aceh. Bukankah, justru sewaktu bersama Belanda sebutan itu mestinya disematkan!?

    Dibaca : 488 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nampaknya, Teukoe Oemar sangat terkenal pada saat itu sehingga sebuah permainan pun dibuat dengan namanya. "Het Toekoe Oemar Spel", dengan narasi “mengepung atau menangkap Teuku Umar”. Permainan ini pertama kali dibuat pada tahun 1898, tepat setahun sebelum gugurnya Teuku Umar.

    Cara bermainnya mudah, dengan dua pihak pemain. Dengan Toekoe Oemar Spel, setiap saat Perang Aceh seakan dapat diputar kembali, bahkan dengan probabilitas yang seimbang. Anda tinggal memilih peran menjadi Teuku Umar atau tentara Belanda.

    Prajurit Belanda, dengan bilah berwarna kuning sebanyak 25 buah, memiliki tugas mengepung Teuku Umar. Sedangkan, satu buah bilah hitam yang berperan sebagai Teuku Umar --atau yang Belanda biasa tulis Teukoe Oemar, dapat meloncati bilah kuning agar lolos dari kepungan. Bilah yang terloncati akan dianggap mati, sehingga setiap pemain mempunyai kesempatan untuk menang.

    Di dalam riwayatnya dulu, selama kurun waktu tertentu Teuku Umar memang pernah bertempur bersama Belanda. Akan tetapi, ia kemudian menyatakan bahwa dirinya tidak terikat lagi dengan Belanda lalu berbalik untuk berperang di pihak Aceh.

    Teuku Umar pergi meninggalkan barisan Belanda dengan membawa banyak uang, ratusan pucuk senjata, dan ribuan munisi. Sambil bergerilya, ia juga meminta ulama-ulama untuk terus membacakan Hikayat Perang Sabil kepada semua anak di Aceh. Baginya, kematian bukanlah akhir dari perjuangan, karena perkara yang hak sama sekali tidak boleh ditelantarkan dan pembelaannya harus terus diwariskan.

    Pernah dalam saran dan pengarahannya, Snouck Hurgronje menulis bahwa untuk mematahkan perjuangan semesta di Aceh bisa dilakukan dengan cara memisah dua sumber kekuatan rakyat. Ia menyarankan agar Belanda mendekati Ulee Balang dan membuatnya menjadi rival bagi Ulama.

    Maksud Belanda adalah agar orang Aceh berperang melawan orang Aceh sendiri, dengan kubu antara adat melawan agama. Namun tetap saja Belanda terkecoh. Perlawanan terhadapnya tetap menjadi-jadi. Rakyat terus memompa perjuangan meski korban sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan sampai ditangkapnya Sultan Aceh, dan Kesultanan Aceh dinyatakan tiada oleh Belanda, perlawanan sama sekali tak pernah surut hingga datangnya Jepang menggantikan Belanda.

    Dalam konflik Belanda - Aceh, lawan terpenting Van Heutsz adalah seorang bernama Toekoe Oemar yang tangguh. Ia sulit disebut pemberontakan awalnya, karena antara tahun 1893 dan 1896 ia adalah sekutu setia Belanda dan berperang melawan gerilyawan lainnya di Aceh.

    Namun, pada tahun terakhir, ia tiba-tiba memberi tahu Gubernur Aceh, Christoffel Deykerhoff (1840-1911), bahwa ia tidak lagi menganggap dirinya terikat oleh kewajibannya. Tentu saja, dia tidak mengembalikan senjata yang diberikan Belanda kepadanya. Senjata-senjata ini, termasuk senapan Beaumont modern, sangat berguna untuk perang melawan bekas sekutunya. Dalam sisi Belanda, masyarakat umumnya menanggapi dengan sangat marah "pengkhianatan" Toekoe Oemar. Oleh Belanda, Teuku Umar disebut dan dituliskan sebagai “veraad”, penghianat.

    Seolah Belanda sakit kepala dan lupa bahwa Teuku Umar adalah orang Aceh. Bukankah, justru sewaktu bersama Belanda sebutan itu mestinya disematkan.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi