x

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 26 Mei 2022 07:11 WIB

Modernisasi dan Tata Krama

Meskipun kita mewarisi kebudayaan yang bertata krama, sebagian anggota masyarakat masih belum mampu mempraktekkannya. Masih banyak orang yang kasar. Bagaimana mengatasinya? Silahkan baca terus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pernahkah Anda kaget melihat kata kata dan perbuatan orang Indonesia yang tidak sopan? Saya sering. Bahkan kemarin ketika belanja di sebuah toko saya kaget melihat seorang ibu muda yang memaki anaknya hanya karena anaknya minta susu kotak.  Media sosisal juga dipakai sebagai  media anti sosial.  Maka peringkat netizen Indonesia rendah dalam survey Microsoft.  Saya juga terkejut ketika dalam sebuah diskusi ada seseorang yang mengatakan bahwa kita sudah modern jadi wajar saja meninggalkan budaya tradisional termasuk tata krama. Saya sering menemukan pendapat serupa.  Modernisasi dipahami sebagai meninggalkan budaya tradisional termasuk tata krama.

Dulu pernah seorang penulis senior menganjurkan agar kita sepenuhnya mengadopsi kebudayaan Barat dan meninggalkan kebudayaan Timur agar kita maju. Kemudian timbul kontroversi apakah modernisasi identik dengan Westernisasi.  Sebagian orang sepakat tapi tidak sedikit yang menentang.

Sejak dasawarsa 80’an sampai sekarang dunia sudah banyak sekali berubah.  Negri Asia sudah maju pesat.  Jepang menjadi negri Asia pertama yang bangkit.  Kemudian menyusul Korea, Cina, Vietnam, Singapura, dan India. Kebangkitan mereka itu mematahkan pendapat si penulis senior.  Negri Asia itu maju dalam ekonomi, iptek dan milter tanpa memunahkan budaya tradisional mereka.  Mereka tetap mempertahankan budaya tradisional seperti arsitektur, musik, pakaian, termasuk tata kramanya.  Satu hal yang mengesankan buat saya adalah perilaku mereka yang sangat sopan.  Terutama Jepang, Korea dan Thailand.  Mereka sangat sopan dan tertib.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jangan dikira kalau negara Barat yang maju itu meninggalkan tata krama. Mereka sangat sopan meskipun egaliter.  Inilah salah satu hal yang harus kita pelajari.  Sopan tapi egaliter.  Setara tapi sopan. 

Bagaimana membuka mata dan meluaskan wawasan masyarakat agar mereka belajar banyak dari kemajuan orang lain tanpa meninggalkan budaya sendiri?  Pariwisata adalah salah satu jawabnya.  Bersafarilah ke manca negara dengan tujuan belajar agar bisa maju dalam iptek dan finek tapi tetap bertata krama.

Dengan semangat belajar Anda akan melihat betapa majunya mereka dalam iptek dan finek tapi tetap bertata krama.  Tentu saja ada orang kasar dan bahkan jahat di setiap negara.   Awali dengan safari ke negara Asia dulu lalu lanjutkan dengan negri Barat.  Selain melihat alam cantik dan kota yang megah dan rapi jali, amati juga budaya mereka.

Perhatikan cara mereka bicara dan berinteraksi.   Contohlah cara mereka bicara dengan halus dan sopan.  Kalau Anda kurang paham bahasa Inggris cobalah pakai aplikasi penerjemah. Tapi sejatinya Anda mampu memahami tata krama mereka tanpa memahami bahasa mereka. Fokuskan perhatian pada bahasa tubuh mereka.

Di Seoul, Korea saya pernah naik kereta semacam KRL di Jabodetabek. Ketika saya duduk, di depan saya berdiri dua orang anak kecil kira kira seusia SMP. Satu anak perempuan dengan adiknya laki laki. Saya lalu berdiri untuk memberikan tempat duduk kepada mereka. Si anak perempuan lalu membungkuk dalam dalam sembari berbicara dalam bahasa Korea. Saya hanya paham sebagian kata kata yang mengutarakan terima kasih.  Meskipun sudah modern orang Korea tetap memegang teguh tata krama mereka.

Monggo siapkan rencana bersafari ke manca negara dengan niat dan semangat belajar, tidak sekedar selfie, makan makan dan bersenang senang.

 

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu