Ironi Film Pahlawan Super di Industri Sinema - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Dok. Marvel Studios/Disney

Mesakh Ananta Dachi

Belajar Menulis.
Bergabung Sejak: 16 April 2022

Sabtu, 28 Mei 2022 17:05 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Ironi Film Pahlawan Super di Industri Sinema

    Pertumbuhan film bertema pahlawan super kini semakin digandrungi. Tingginya tingkat permintaan, menjadikan produkisnya semakin tinggi. Lalu, bagaimana efeknya pada industri film.

    Dibaca : 1.115 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada tahun 2019, Martin Scorsese, Sutradara legendaris, yang menyutradarai film-film hebat seperti Goodfellas (1990),  Taxi Driver (1976), The Wolf of Wall Street (2013) dan lainnya, pernah mengungkapkan bahwa film-film Marvel dan waralaba sejenis, yang bergerak dalam genre pahlawan super, tidak mengandung seni sinema. Film-film itu seperti taman hiburan saja.
     
    Martin menjelaskan bahwa film dengan genre demikian tidak relevan bagi penonton. Sinema seharusnya menghadapkan kita pada penggambaran kehidupan yang didramatisasi, dengan emosi yang nyata, dan kisah yang tidak bisa ditebak. Itulah yang membuat sebuah film disebut sebagai sinema, adanya hubungan antara penonton dengan pemeran dan kisahnya.
     
    Kita tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya terbang, punya kekuatan super, bisa bergerak secepat kilat, karena hal tersebut memang diluar kemampuan kita. Itulah makna dari penjelasan Martin. Saat kita bisa merasakan dan ikut dalam sebuah kisah yang ditayangkan, disitulah sinema sesungguhnya.
     
    Namun, pernyataan ini selalu bisa dilihat dari perspektif yang lain, pada dasarnya seni adalah hal yang subjektif. Namun, standar yang paling umum adalah, seni merupakan sebuah kreasi. Penciptaan film pahlawan super sudah memenuhi kriteria tersebut, adanya kisah yang diciptakan berdasarkan imajinasi.
     
    Film pahlawan super juga tidak melulu mengenai aksi pertarungan diluar nalar, ada kisah yang menunjukkan emosi pemeran dan juga sisi kemanusiaan yang relevan, untuk membangun cerita.
     
    Pada akhirnya, Martin adalah sutradara yang sudah lama berada di industri, karyanya sering kali dijadikan acuan bagi para seniman film. Dengan kisah yang kaya, pemeran yang ekspresif, dan juga alur yang tidak monoton adalah karakter dari ciptaan Martin.
     
    Selera juga selalu subjektif, banyak penonton yang memilih film yang lebih ringan, kaya akan humor dan bersifat populis. Martin seharusnya sadar, bahwa telah memakai perspektifnya sebagai sutradara ulung yang mengenal elemen sinema pada masyarakat yang tidak mengerti hal tersebut. Namun, topik yang lebih besar, bukanlah hal tersebut.
     
    Belakangan ini, pertumbuhan waralaba Marvel dan waralaba sejenis semakin besar. Film pahlawan super semakin digandrungi, cenderung menjadi tren, dan bersifat populer. Selalu menjadi andalan dari bioskop dan penyedia layanan streaming. Bahkan, dari 10 film paling laku, terdapat 4 film bertema pahlawan super, yang berasal dari waralaba Marvel, berupa; Avengers Endgame (2019), Avengers: Infinity War (2018), Spider-man: No Way Home (2021), dan juga The Avengers (2012).
     
    Fenomena ini menunjukan bahwa permintaan dan antusiasme masyarakat pada film bertema demikian, adalah tinggi. Hal ini juga dibuktikan dengan tingginya produksi waralaba Marvel akhir akhir ini. Tidak ada yang salah dari hal tersebut, karena penonton juga tampaknya ikut puas. Namun, fenomena ini bisa saja menciptakan kemonotonan karya pada industri film.
     
    Dalam kacamata bisnis, perusahaan memang akan selalu mengecilkan resiko yang mungkin terjadi. Maka, dengan memilih genre yang paling populer, merupakan solusi yang paling tepat agar tetap aman.
     
    Faktanya, genre petualangan dan aksi adalah genre yang paling populer saat ini, yang dimana, merupakan 2 tema pembangun paling umum pada film pahlawan super. Pada akhirnya, hal ini akan menyebabkan penurunan eksplorasi genre lain, yang berujung pada rendahnya keberagaman opsi film.
     
    Selain itu, fenomena ini juga bisa berakhir pada kemungkinan jatuhnya produser independen dan kecil. Bioskop dan layanan streaming, pada umumnya akan menampilkan dan menyorot film yang populer dan besar, yang biasanya berasal dari produser besar. Yang berujung pada kapitalisasi industri. Banyak produser film kecil dan independen yang perlahan lahan akan tutup, karena gempuran besar besaran dari produser besar. Sebagai informasi, waralaba industri film paling besar saat ini adalah Marvel.
     
    Fenomena ini menunjukkan bahwa kapitalisasi industri film saat ini menjadi semakin besar. Modal yang besar memang akan memudahkan penciptaan film yang bagus dan berkualitas, dan disukai oleh masyarakat. Sirkulasi ini secara terus menerus akan terulang.
     
    Sepertinya, pahlawan super berubah menjadi penjahat super dalam industri ini.
     
    Referensi
    (“Movie Franchises - Box Office History”)
    (“Genres Movie Breakdown 1995-2022”)
    (“Top Lifetime Grosses”)
    (Scorsese)

    Ikuti tulisan menarik Mesakh Ananta Dachi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali