Pattingalloang, Cendikiawan di Hemisfer Timur Kartografi Joan Blaeu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Lukisan Karaeng Pattingalloang karya Suriadi Mappangara

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Minggu, 29 Mei 2022 17:51 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pattingalloang, Cendikiawan di Hemisfer Timur Kartografi Joan Blaeu

    Delapan tahun sejak wafatnya Pattingalloang, terbit Atlas Maior Joan Blaeu. Joan adalah generasi kedua keluarga pembuat peta dan bola dunia yang paling ternama di Amsterdam. Dia juga yang sebelumnya membuatkan bola dunia pesanan Kompeni untuk Pattingalloang. Dengan 600 halaman rangkap peta dan 3000 halaman naskah, Atlas karya Joan Blaeu merupakan pencapaian kartografi-artistik yang sampai kini tak tertandingi. Dalam karyanya itu, pada bagian Peta Dunia, terlihat dua sosok besar tergambar di sudut atas kedua sisi. Di hemisfer Barat tampak tokoh besar kartografi dunia modern awal, Mercator. Dan, di hemisfer Timur, di atas belahan Asia, tampak Kraeng Pattingalloang sedang menetapkan jarak Celebes dari Kutub Utara dengan mempergunakan jangka. Dua orang pemikir yang dengan caranya sendiri menyusun petak-petak bumi itu kini terlihat bekerja di langit, di antara dewa-dewi mitologis Yunani Kuno dan di antara planet-planet pada tatasurya.

    Dibaca : 673 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perdana mentri Kesultanan Gowa yang sekaligus juga raja di Kerajaan Tallo, Karaeng Pattingalloang, wafat (15 September 1654) dan dimakamkan di Bonto Biraeng. Setelah itu Sultan Hasanuddin mengumumkan bahwa jabatan perdana menteri bagi Kesultanan Gowa akan dirangkapnya sendiri.

    Selama masa hidupnya sebagai penanggungjawab pemerintahan di Kesultanan Gowa, Pattingalloang berhasil mengupayakan munculnya tradisi baru berkat kemampuan berbahasa asing yang dimilikinya, yaitu penterjemahan berbagai naskah berbahasa Eropa dibidang ilmu dan teknologi kedalam bahasa lokal. Beberapa naskah tentang senjata api, serbuk mesiu, dan pembuatan bedil telah diterjemahkan dari bahasa Spanyol, Portugis, Turki dan Melayu; seperti salah satunya, naskah berbahasa Spanyol karya "Andreas dari Monyona" yang telah diringkas kedalam bahasa Makassar pada tahun 1635 dan diterjemahkan secara lengkap pada tahun 1652. Naskah ini berisikan tentang persenjataan abad ke-16.

    Selain itu, muncul pula tradisi kepenulisan di Makassar yang begitu dikenal karena kelengkapan catatan-catatan hariannya tentang berbagai peristiwa penting. Jika di era sebelumnya catatan sejarah dibuat beberapa waktu yang cukup lama setelah kejadian berlangsung, maka di masa Pattiangaloang pencatatan tersebut dilakukan di hari kejadian sedang berjalan.

    Sejak masa mudanya Pattingalloang adalah seorang pemuda yang cerdas. Selain bahasa Makassar, ia juga mahir berbahasa Melayu, Portugis dan Spanyol. Dan, Pattingalloang memiliki keingintahuan yang besar pada segala bidang. Hal ini terlihat, misalnya, dengan meminta Inggris untuk mengirimkan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang perkapalan yang ada di Inggris. Bahkan, disebutkan pula dalam satu catatan bahwa Pattiangaloang sangat tertarik untuk membeli "Teleskop Galileo" melalui orang-orang Inggris.

    Maka, pada tahun 1652, teleskop yang terkenal tersebut dibawa ke Makassar dan dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Padahal, jenis teleskop tersebut baru dibuat untuk pertama kalinya oleh Galileo di tahun 1609.

    Alexandre de Rhodes, seorang misionaris Katolik yang berada di Makassar, menerangkan kekagumannya terhadap Pattingalloang yang memiliki gairah besar pada ilmu pengetahuan. Dari pastor yang inilah antara lain diketahui betapa besar minat Pattingalloang pada agama, sejarah dan peradaban Eropa, dimana untuk hal ini ia memberikan catatan khusus: Gubernur tinggi seluruh kerajaan ini…bernama Carim Patengaloa, yang saya perhatikan sangat arif bijaksana, dan terlepas dari agamanya yang jelek, dia adalah orang sangat jujur. Dia mengetahui dengan amat baik semua misteri kita, telah membaca secara seksama semua kronik raja-raja di Eropa. Dia senantiasa memegang buku di tangannya, khususnya yang bersangkut-paut dengan ilmu pasti, yang dikuasainya dengan cukup baik. Dia memiliki semacam gairah pada semua cabang ilmu, yang dipelajarinya di siang …dan malam hari. Jika orang mendengar dia berbicara tanpa langsung melihat dirinya, orang bisa menyangkanya orang Portugis asli karena dia memakai bahasa ini sefasih orang-orang dari Lisbon.

    Kegemaran Pattingalloang terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat ensiklopedis dan perkembangan teknologi mutakhir juga terlihat melalui surat-surat yang disampaikan atas nama Kesultanan Gowa kepada Kompeni Belanda di Batavia. Dan, untuk apa-apa yang dipesan oleh Pattingalloang di dalam suratnya, Belanda menyebutnya sebagai rariten, barang langka. Selain peta navigasi dunia yang selama berabad-abad digolongkan sebagai harta dan rahasia negara, yang terpenting di antara rariten yang dipesan Pattingalloang adalah bola dunia.

    Dalam surat panjang yang dibawa ke Batavia pada 22 Juli 1644, dimana Karaeng Pattingalloang menyertakan sebelas bahar kayu cendana seharga 60 real tiap baharnya sebagai uang muka, ia meminta: Pertama, dua bola dunia yang kelilingnya 157 hingga 160 inci, terbuat dari kayu atau tembaga, untuk dapat menentukan letak Kutub Utara dan Kutub Selatan; yang kedua, sebuah peta dunia yang besar, dengan keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis dan Latin; yang ketiga, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang keterangannya ditulis dalam bahasa Latin, Spanyol dan Portugis; yang keempat, dua buah teropong berkualitas terbaik, yang bagus buatannya, dengan tabung logam yang ringan, serta sebuah suryakanta yang besar dan bagus; yang kelima, dua belas buah prisma segitiga yang memungkinkan untuk mendekomposisi cahaya; yang keenam, tiga sampai empat puluh buah tongkat baja kecil; yang ketujuh, sebuah bola dari tembaga atau baja.

    Salah seorang dramawan dan penyair terbesar Belanda, Joost van den Vondel, yang mengetahui adanya daftar pesanan Pattingalloang tergerak untuk mempersembahkan sajak bagi penguasa dari Timur itu. “Bola dunia itu, Perusahaan Hindia Timur Mengirimkannya ke istana Pattingalloang Agung Yang otaknya menyelidik ke mana-mana Menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil. Kami berharap tongkat kekuasaannya memanjang Dan mencapai kutub yang satu dan yang lain Agar keuzuran waktu hanya melapukkan Tembaga itu, bukan persahabatan kita.”

    Selain kegemarannya terhadap ilmu pengetahuan praktis, Pattingalloang juga tidak menutup diri untuk mengetahui Theologi Kristen, dimana hal ini ternyata tidak menggoyahkan keyakinannya sebagai muslim yang teguh seperti dikemukakan pula oleh Pastor Alexander de Rhodes: Dia sangat memahami segala segi ajaran agama kita, dan dia kerap memperdebatkannya dengan orang yang menganut kepercayaan lain serta mematahkan semua pendapat mereka… Saya bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan orang ini bagi Kristus, karena perpindahan agama seluruh kerajaan tergantung kepadanya. Dia tidak pernah menolak saya, tapi dia juga tidak pernah berubah menjadi lebih baik. Saya tidak pernah bisa menemukan harus mulai dari mana karena segala sisi kehidupannya tidaklah buruk. Dia tidak pernah terlibat masalah dengan perempuan. Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa saya adalah seorang pendosa besar yang membawa sebuah tugas sedemikian berat yang bisa membuahkan hasil. Ketika hampir tiba waktu pulang, sekali lagi saya mengunjunginya untuk memecahkan masalah keselamatan jiwanya. Saat berpamitan, saya berkata-kata penuh beruarai air mata dan menuturkan cukup banyak alasan yang sekiranya dapat menyentuh hatinya, namun sesudah saya selesai bertutur panjang lebar dia menjawab tidak lebih dari beberapa kata, "Baiklah, Bapa, anda telah melaksanakan tugas dengan baik sekali." Setelah itu dia membungkukan badan berkali-kali dan mencium saya berulang-ulang, namun tentang soal terpenting itu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

    Sedangkan untuk urusan diplomatik, kepiawaian Pattingalloang dalam membina hubungan luar negeri menjadikan Makassar dapat secara terbuka menjalin hubungan dengan negara manapun. Ia mampu bekerjasama dengan orang Portugis yang amat dibenci Belanda. Dan hal ini tidak serta-merta membuat orang-orang Belanda memusuhinya, bahkan Pattingalloang tetap diperlakukan dengan rasa hormat dan takzim.

    Pattingalloang selalu membuka pintu bagi datangnya utusan-utusan Belanda dengan cara yang amat baik dan berusaha keras untuk meyakinkan mereka bahwa perang akan jauh lebih berbahaya bagi kedua belah pihak ketimbang perdamaian. Disamping itu, terdapat pula catatan yang menyebutkan bahwa periode perdamaian antara VOC dengan Gowa-Tallo (1637 sampai 1654) sebagian besar terjadi karena kearifan dan efektivitas pemerintahan yang dijalankan oleh Pattingalloang.

    Syahdan, delapan tahun sejak wafatnya Pattingalloang, terbit Atlas Maior bikinan Joan Blaeu. Joan adalah generasi kedua keluarga pembuat peta dan bola dunia yang paling ternama di Amsterdam. Dia juga yang sebelumnya membuatkan bola dunia pesanan Kompeni untuk Pattingalloang. Dengan 600 halaman rangkap peta dan 3000 halaman naskah, Atlas karya Joan Blaeu merupakan pencapaian kartografi-artistik yang sampai kini tak tertandingi.

    Di dalam karya tersebut, pada bagian Peta Dunia, terlihat dua sosok besar tergambar di sudut atas kedua sisi. Di atas hemisfer Barat tampak tokoh besar kartografi dunia modern awal, Mercator. Dan, di hemisfer Timur, di atas belahan Asia, tampak Kraeng Pattingalloang sedang menetapkan jarak Celebes dari Kutub Utara dengan mempergunakan jangka.

    Dua orang pemikir yang dengan caranya sendiri menyusun petak-petak dunia itu kini terlihat bekerja di langit, di antara dewa-dewi mitologis Yunani Kuno dan di antara planet-planet pada tatasurya. Karaeng Pattingaloang wafat dengan meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Karaeng Karunrung (1631-1685). Putranya itu mewarisi perpustakaan berisi buku sangat banyak yang terdiri dari berbagai bahasa.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.