Rasisme dan Diskriminasi Dalam Serial Attack On Titan - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Dwi Kurniadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Mei 2022

Minggu, 29 Mei 2022 18:36 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Rasisme dan Diskriminasi Dalam Serial Attack On Titan

    Dalam serial Attack On Titan terdapat banyak konfilk dan isu yang yang dibawanya. Hajime Isayama penulis Serial tersebut berhasil membawa para penikmatnya terjun kedalam cerita yang dibawakannya. Serial Attack on Titan tak hanya menceritakan tentang perjuangan manusia melawan Titan/Raksasa. Namun, diserial tersebut juga menampilkan politik hitam, rasisme, dan diskriminasi.

    Dibaca : 2.124 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Akhir-akhir ini serial Attack On Titan atau biasa disingkat AOT kembali ramai diperbincangkan didunia live streaming. Meskipun kini sedang jeda untuk lanjut ke Final Season part 3 yang akan rilis pada tahun 2023. Bab terakhir serial ini atau dinamai dengan ''Attack On Titan The Final Arc'' sudah sangat ditunggu penggemarnya diseluruh dunia. 
    Begitu banyak konflik yang terjadi dalam serial ini, termasuk diantaranya ialah kajian turunan dalam poskolonialisme seperti, subordinasi, diskriminasi, dan yang paling sering ditemui dalam serial ini adalah rasisme. 


    Subordinasi sendiri ialah kedudukan bawahan atau penilaian terhadap salah satu gender, ras, kelompok, dan atau golongon tertentu lebih rendah dari yang lain. Dalam contoh ini subordinasi sudah ditampilkan pada awal episode. Seperti pada saat tokoh utama yaitu Eren Yeager bersama dengan Armin dan Mikasa mengungsi akibat serangan yang dilakukan oleh Colosal Titan yang membuat rumahnya hancur. Kejadiannya kala itu Eren sedang lapar dan Armin mengambil makanan di camp pengungsi. Namun, disana terdapat anggota polisi militer yang berjaga. Polisi militer itu mangatakan dengan nada yang cukup keras "Seseorang yang berada diluar tembok tak berhak untuk memakan makanan orang yang berada ditembok dalam.'' Disini saya mencoba menjelaskan sedikit terlebih dahulu. Dalam serial AOT, manusia tinggal disebuah pulau yang dikepung oleh banyak Titan yang siap untuk memakan para manusia. maka dari itu, 100 tahun lalu raja Eldia yakni Raja Fritz membuat tiga lapis tembok raksasa untuk melindungi manusia yang tersisa dari sasaran para titan. Tembok terluar diisi oleh masyarakat buangan atau masyarakat biasa, dan semakin dalam lapisan tembok diisi oleh para petinggi/pejabat disana, dan yang paling dalam adalah tempat tinggal raja. 

    Tak hanya itu, seperti yang sudah dijelaskan tadi, bentuk hirarki dalam serial tersebut terlihat jelas, Bahkan  diserial tersebut mengatakan bahwa manusia yang tinggal dibagian terluar tembok adalah manusia untuk pancingan atau santapan para titan. Tembok bagian terluar itu adalah rumah Eren yang sudah dihancurkan oleh serangan colosal titan, pantas saja Eren mendapatkan diskriminasi terhadap polisi militer karena dia berasal dari tembok bagian terluar.
    Jean Kristen salah satu karakter dalam serial tersebut mengatakan bahwa dia ingin sekali bergabung dengan polisi militer, karena disana Jean bisa hidup nyaman dan aman dibagian dalam tembok dan mengawal sang raja. Hal ini pun berkaitan dinegara ini, yakni banyaknya para lulusan baru ingin sekali lulus CPNS bahkan konon katanya sampai ada yang lewati jalur cepat (nyogok) hingga puluhan juta. Banyak orang tua diluar sana sangat menginginkan anaknya menjadi PNS (Pegawai Negri Sipil) karena pada saat Indonesia dijajah oleh belanda pada masa lampau. Para pribumi yang bekerja pada pemerintahan belanda merasa dirinya dan keluarganya aman dan nyaman dari diskriminasi atau serangan terhadap belanda kala itu. Maka dari itu turunan ideologi pada saat penjajahan belanda masih terbawa hingga saat ini. 

    Hal itu berkaitan juga dengan apa yang dipikirkan oleh Jean Kristein, dia berfikir bahwa lebih baik cari aman dibagian dalam tembok. Namun, dengan banyaknya teman-teman lain yang ikut bergabung dalam pasukan pengintai dan terdoktrin oleh kalimat yang diucapkan Eren Yeager yaitu, ''Meraih kebebasan perlu dibutuhkan pengorbanan, yakni kenyamanan'' akhirnya Jean masuk ke dalam Pasukan Pengintai, pasukan pengintai adalah salah satu dari tiga pasukan yang bertugas untuk menganalisa kegiatan yang berada diluar tembok, termasuk melawan para titan.
    Rasisme juga banyak terdapat dalam serial ini, yang paling terlihat jelas adalah rasisme yang dilakukan oleh bangsa Marley terhadap bangsa Eldia. Pada akhir season ke Tiga diperlihatkan bahwa terdapat peradaban manusia lain yang berada diluar pulau paradise. Peradaban tersebut 100 tahun lebih maju ketimbang pulau paradise. rasisme dan diskriminasi terhadap orang-orang keturunan bangsa Eldia salah satunya adalah mereka ditandai dengan menggunakan ban lengan, yang dimana jika seseorang memakai ban lengan tersebut sulit untuk menggunakan fasilitas umum, hidup didalam pengasingan, dan dijadikannya budak oleh orang-orang marley. bahkan ada salah satu dialog yang mengatakan bahwa bangsa Eldia tidak lebih dari hewan ternak dan iblis. 

    Bangsa marley menganggap bahwa bangsa Eldia telah menghabisi hampir seluruh nenek moyang mereka pada 1000 tahun lalu dengan menggunakan kekuatan titan mereka. ideologi tersebut terus dibawa dan diceritakan oleh anak cucunya hingga saat ini. jika dilihat dalam cerita masyarakat indonesia ini sejalan dengan doktrinisasi terhadap PKI, padahal pada saat ini hanya sedikit yang mengetahui kenbenaran yang sesungguhnya. Itulah sejarah yang (katanya) ditulis oleh para pemenang.

    Kesimpulannya dalam serial AOT banyak hal yang bisa dikaji termasuk dalam kajian poskolonialisme dan turunannnya, seperti subordinasi dan rasisme. banyak juga adegan atau isu yang dibawakan oleh serial tersebut yang sangat relevan dalam dunia nyata, seperti penyebaran ideologi, penindasan, dan lain sebagainya.

    Ikuti tulisan menarik Dwi Kurniadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 595 kali