Postkolonialisme, Sastra, dan Religi

Senin, 30 Mei 2022 06:17 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Artikel ini merupakan artikel populer berupa opini pribadi mengenai pengaruh pasca kolonial di Indonesia yang meliputi Sastra dan Religi.

Postkolonialisme, Sastra, dan Religi

By Anut Muniroh

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Postkolonialisme merupakan cara-cara yang digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kultural, seperti: sejarah, politik, ekonomi, sastra, dan berbagai dokumen lainnya, yang terjadi di negara-negara bekas koloni Eropa modern (Ratna, 2008:90). Postkolonialisme di Indonesia sendiri lebih banyak berkaitan dengan negara yang paling lama berkuasadi negeri ini, yaitu Belanda. Dikatakan demikian karena sampai saat ini maish terdapat banyak “peninggalan-peninggalan” negara kincir angin tersebut.

Namun tidak hanya Belanda yang sukses masuk dan menguasai Nusantara (Indonesia) tetapi juga ada Portugis, Inggris dan Spanyol yang memasuki wilayah Indonesia melalui proses pelayaran. Berawal dari penjelajahan yang dilakukan oleh orang-orang Portugis, salah satunya ialah Bartolomeu Dias pada tahun 1487. Ia berlayar dari Portugal dan menyusuri pantai Barat di Afrika sampai akhirnya terhenti di ujung Afrika Selatan karena adanya serangan badai yang membuat Dias tidak melanjutkan penjelajahannya dan berbalik arah ke negara asalnya.

Setelah itu dilanjutkan oleh salah seorang penjelajah pengganti Dias yaitu Vasco da Gama sampai mendarat di India. Lalu Alfonso de Albuquerque menjadi penjelajah selanjutnya yang menggantikan da Gama. Ia berlayar pada tahun 1511. Rute pelayarannya pun sama dengan Vasco da Gama, yang membedakan adalah jika da Gama berhenti di India, sementara Alfonso meneruskan pelayaran sampai ke Selat Malaka (Indonesia). Awal perjalanan Alfonso ke Indonesia yaitu mendarat di Maluku dan diterima oleh Kerajaan Ternate.

Namun negara-negara penjajah tersebut seperti “hilang” dalam buku sejarah bagai ditelan bumi karena durasi jajahannya tidak lama dan tidak begitu membuat rakyat Indonesia tersiksa. Belanda lah yang menjadi pemeran utamanya. Sepertinya Belanda lah yang menjadi landasan atau alasan terbesar adanya teori postkolonialisme atau pasca penjajahan. Karena Belanda yang membuat buku sejarah kita kelewat tebal, hehehe....

Seperti yang dikatakan Ratna diawal, postkolonialisme ini banyak  mengandung unsur-unsur kehidupan yang banyak dipengaruhi oleh penjajahan, salah duanya yaitu sastra dan religi. Sastra dan religi dalam era kolonial sangat dipengaruhi oleh Belanda pada saat itu. Mulai dari kajian-kajian karya sastra dan kepercayaan atau sifat religisuitas masyarakat Indonesia pada masa penjajahan. Bagaimana rakyat Indonesia dahulu menjalani hidup, bekerja, berpendidikan sampai beribadah, semuanya dipengaruhi oleh Belanda.

Dalam masa kolonial, sastra yang berkembang adalah sastra Hindia Belanda yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Indonesia. Dalam masa ini, karya-karya sastra banyak berisi tentang orang-orang Belanda (tentunya) sebagai pemeran utamanya. Salah satu karya yang terkenal adalah novel Max Havelaar karya Mulatuli atau Douwes Dekker. Karya ini tentunya menceritakan potret kehidupan di tanah jajahan Belanda, yaitu Indonesia. Tidak hanya itu, sastrawan-sastrawan Indonesia juga banyak mengisahkan tentang kesengsaraan rakyat Indonesia dan kondisi alam Indonesia sebelum datang para penjajah. Karya-karya sastra tersebut lebih banyak  mengisahkan tentang cinta yang tidak bisa digapai, seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Sementara tingkat religiusitas di Indonesia pada masa kolonial cukup dipengaruhi oleh Belanda, karena tahun-tahun sebelumnya Indonesia kedatangan para pedagang dari India dan Persia yang menyebarkan agama Hindu, Budha, dan Islam pada masyarakat Indonesia. Lalu ketika Belanda datang pada abad ke 16 membawa ajaran agama baru yaitu Kristen dan Katolik. Kedatangan bangsa barat jelas-jelas memiliki maksud kepentingan secara ekonomi, kekuasaan, dan agama. Dengan adanya anggapan bahwa bangsa Barat memiliki peradaban yang lebih tinggi daripada bangsa Timur, maka pada akhirnya agama Kristen menjadi legitimasi kolonialisme. Pada zaman kolonial, agama Kristen dianggap sebagai agama Belanda; beragama Kristen dianggap menjadi bangsa Belanda (Ratna, 2008:363).

Perkembangan sastra saat ini menjadi semakin besar dan maju, bergerak bebas tanpa hambatan dan tanpa takut kepada siapapun yang dapat berpengaruh terhadap kelangsungan karya sastra. Masyarakat saat ini memiliki kebebasan untuk bereskpresi, serta untuk menyuarakan dan menuangkan gagasan dan idenya lewat karya sastra. Tidak perlu takut ditangkap hanya karena mengkritik sebuah pemerintahan atau tokoh tertentu, karena setiap masyarakat memiliki kebebasan yang sama dalam menyampaikan aspirasinya. Karena sejatinya karya sastra bisa dijadikan sebagai media kritik yang cantik.

Begitu pun dengan religi. Saat ini masyarakat bebas sebebas-bebasnya untuk menentukan agama dan kepercayaan masing-masing tanpa harus ada desakan dan tuntutan. Saat ini masyarakat bisa beribadah dengan lebih baik tanpa takut adanya sekelompok masyarakat lain yang melanggar hak-hak beribadahnya.

 

 

Artikel ini ditulis oleh Anut Muniroh, mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Pamulang untuk mata kuliah Postkolonialisme yang diampu oleh ibu Dwi Septiani.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
anut muniroh

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua