Fanatisme Penggemar Kpop pada Sosial Media - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Situs Tempat Download Drama Korea

Galuh Permatasari

Sarjana Terapan Administrasi Negara Universitas Negeri Surabaya
Bergabung Sejak: 3 Juni 2022

Jumat, 3 Juni 2022 20:37 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Fanatisme Penggemar Kpop pada Sosial Media

    Fanatisme dapat dilihat dari para fansgirl dan fansboy dalam membeli photocard, album hingga lighstick yang bisa mengeluarkan uang ratusan hingga jutaan rupiah.

    Dibaca : 1.015 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hadirnya berbagai bentuk dan variasi budaya global yang berasal dari berbagai negara selain Indonesia telah mempengaruhi isi budaya populer (musik, televisi,  film) yang berkembang di Indonesia. Kecintaan  penggemar budaya pop asing seperti kpop menjadi fenomena baru dalam konteks konsumsi budaya pop masyarakat.

    Di sisi lain, media massa seolah-olah berusaha merespon tren yang ada dengan memproduksi dan menerbitkan  program budaya pop yang beradaptasi dengan model budaya global. Popularitas  Korean Wave atau  lebih dikenal dengan Korean Wave, awalnya hanya berkembang di negara-negara Asia Timur kemudian menjadi populer di seluruh dunia hingga  Indonesia (Jin, 2016). Perkembangan budaya Korea saat ini sangat populer di kalangan remaja dan dewasa, baik wanita maupun pria di usia remaja dan tiga puluhan. Korean wave dalam perkembangannya, juga memberikan dampak besar di dunia pertelevisian Indonesia, terlihat pada saat ini iklan pada televisi Indonesia banyak menggunakan artis dari Korea Selatan. Seperti pemain K-Drama atau para member dari K-pop.

    Melalui media sosial, para penggemar Kpop melakukan  aktivitas yang disebut dengan fansgirling. Sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegembiraan yang berlebihan atau  ekstrim untuk grup idola tertentu. Fansgirling berasal dari kata fansgirl, dan fans pria disebut dengan fansboys. Fansgirl dan fanboy sering dibedakan berdasarkan praktik tertentu yang  mereka lakukan di dalam fandom (Jenkins, 2007).  Para fansgirl dan fansboy menggunakan media sosial sebagai media mereka untuk melihat postingan idola mereka. Bahkan mereka bisa melihat handphone mereka berjam-jam untuk Streaming Idola mereka dan memberikan komentar pada komen hingga berdiskusi dengan teman sefandomnya atau fandom lainnya untuk membahas idola mereka.

    Fanatisme adalah kepercayaan terhadap suatu objek fanatik yang berhubungan dengan sesuatu yang berlebihan tentang objek tersebut. Sikap fanatik ini ditunjukkan dengan aktivitas, antusiasme yang ekstrim, keterikatan emosional, dan  cinta dan minat yang berlebihan  dalam jangka panjang (Eliani et al, 2018: 62). Fanatisme dapat dilihat dari para fansgirl dan fansboy dalam membeli photocard, album hingga lighstick yang bisa mengeluarkan uang ratusan hingga jutaan rupiah.

    Para fandom berbondong bondong untuk mengumpulkan photocard yang telah di tanda tangani oleh idol mereka, album yang terdapat CD hingga foto para idol serta lightstick terkait fandom yang digemarinya. Bagi para penggemar mengumpulkan sebanyak mungkin koleksi merchandise adalah menjadi sebuah tolak ukur koleksi penggemar, bukan dilihat dari nilai barang secara individu (Mc Cudden, 2011:21).

    Pada diagram diatas data penggemar K-pop naik turun setiap bulan. Kenaik turunan data tersebut tergantung dari idol pada saat comeback hingga memposting foto hingga vidio di sosial media atau bahkan live di Instagram. Pada saat momen itulah para fandom memposting hingga memention para idolanya disosial media mereka yang kemudian menjadi trending. Fanatisme para fandom agar mentrandingkan idolanya sudah dapat dikatakan biasa, dapat dilihat dimana Idol comeback dengan lagu barunya, para fandom pun memention agar para penggemar lainnya streaming hingga memberikan hastag agar idola mereka bisa tranding. Bahkan jika salah satu idol mereka Ulang Tahun para penggemar pun membuat sebuah project besar. Project tersebut berupa membuat ADS Slide sepanjang 100 meter di Coex Underworld Panorama, Menyewa pulau di Nedeoul selama dua hari yang mana pulau tersebut dinamai pulau Idol mereka, Pertunjukan cahaya dibangunan Wenfeng Center di Hefei Distrik  Selatan Ningbo. 

    Fanatisme yang dilakukan oleh para penggemar terebut yang mana tranding di sosial media dan sampai terdengar di telinga para idol mereka. Dari data diagram tersebut dapat dibuktikan bawa terjadi kenaikan data jika para idol dari penggemar merilis lagu, live sosial media hingga berulang tahun.

    Pada data hasil analisis bahwa terdapat opini negatif dan positif dari para K-popers hingga masyarakat lainnya. Menurut masyarakat dengan masuknya K-pop atau Korean Drama di Indonesia menyebabkan tergesernya budaya yang ada di Inonesia, Kita seperti lebih mengutamakan budaya negara lain daripada budaya bangsa sendiri dan seolah kita hanya ingin selalu meniru semua aspek dan kehidupan yang berbau Korea. Hal ini juga sangat membuang waktu dan uang untuk hal yang sia-sia. Karena remaja sekarang ini kadang lupa waktu untuk belajar hanya untuk melihat idolanya. Jam tidur juga terganggu gara-gara menonton drama korea, dan membuang uang hanya untuk membeli hal-hal yang kurang berguna dan kadang membeli kuota internet yang berlebihan hanya untuk melihat idolanya lewat layer handphone.

    Bahkan kesehatan mata juga terganggu karena keseringan melihat ponsel. Kita juga bisa terkena insomnia atau kesulitan tidur karena terlalu sering bergadang hanya untuk maraton menonton drama yang disukai. Hal ini tentu sangat menyita waktu istirahat. Budaya K-Pop mempengaruhi  cara berpakaian anak muda zaman sekarang terutama untuk perempuan yang ingin mencontoh apa yang dipakai oleh idolanya. Kadang mereka memakai baju yang tidak sopan yang bertentangan dengan agama apalagi mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Karenanya diperlukan perhatian dari orang tua untuk mengawasi dan mengontrol anaknya.

    Adapun dampak positif dari opini para fandom mengenai mereka yang suka dengan K-pop karena menurut mereka lirik lagu K-pop membuat mereka lebih percaya diri, K-pop juga mengajarkan tentang pentingnya kerjasama yang harus ditumbuhkan sejak awal lalu Kpop memiliki konsep-konsep yang soft dan fresh yang banyak digunakan oleh penyanyi Indonesia. Menurut mereka mengenal para idol mereka membuat hidupnya lebih baik dan idolnya menjadi penyemangat mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dan Kpoplah yang membuat mereka bahagia.

    Ikuti tulisan menarik Galuh Permatasari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 592 kali