Menelusuri Zaman - Memoar dan Catatan Kritis Kwik Kian Gie - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Menelusuri Zaman

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 3 Juni 2022 20:35 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Menelusuri Zaman - Memoar dan Catatan Kritis Kwik Kian Gie

    Memoar Kwik Kian Gie yang merefleksikan berbagai peristiwa dalam sejarah Indonesia, dari jaman sebelum Kemerdekaan sampai era Reformasi.

    Dibaca : 1.114 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Menelusuri Zaman – Memoar dan Catatan Kritis Kwik Kian Gie

    Penulis: Kwik Kian Gie

    Tahun Terbit: 2017

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: 447

    ISBN: 978-602-03-7971-5

     

    Ada berbagai macam gaya dalam penulisan biografi dan memoar. Pada umumnya biografi dan memoar ditulis secara kronologis perjalanan hidup sanga tokoh. Paparan secara kronologis tersebut kemudian diberikan konteks terhadap peristiwa-peristiwa penting sesuai dengan peran sang tokoh. Dengan demikian, peran sang tokoh dalam konteks sejarah/peristiwa menjadi semakin kelihatan. Tak jarang ada juga yang melakukan glorifikasi supaya peran sang tokoh kelihatan semakin kokoh.

    Memoar Kwil Kian Gie ini terasa berbeda. Alih-alih fokus kepada detail peristiwa yang dialami, Kwik lebih suka menggunakan pengalamannya untuk merefleksikan kondisi bangsa. Cara Kwik dalam menulis memoar ini tentu menyebabkan detail peristiwa yang dialami dan peran dirinya menjadi kurang terekspose. Namun cara Kwik ini justru membuat kita bisa mengetahui peristiwa-peristiwa besar tentang negeri ini yang berhubungan dengan pengalaman pribadi Kwik.

    Pengalaman keluarganya sebagai keluarga Cina yang mengalami perundungan, bahkan kekerasan di masa Jepang justru membuat kita memahami tentang pentingnya kesadaran berwarganegara. Kita tidak disuguhi detail penderitaan Kwik dan keluarganya. Sebab penderitaan itu hanya disampaikan sekilas. Tetapi pembahasan tentang pentingnya kesadaran sebagai warga negara justru diungkap dengan mendalam. Demikian juga di masa sekolah SD sampai SMA, dimana Kwik sudah sangat terlibat dalam organisasi. Ia tidak membeberkan perannya dalam berorganisasi secara detail. Tetapi peristiwa tersebut digunakan untuk membahas tentang tanggungjawab seorang warganegara.

    Kwik mempunyai pengalaman yang luar biasa saat kuliah di Belanda. Kwik tidak saja menuntut ilmu saat belajar di Rotterdam. Ia terlibat dalam kegiatan intelejen untuk urusan Pembebasan Irian Barat dan urusan dengan Republik Maluku Selatan. Kwik sangat aktif alam mencari informasi dari Belanda dan meneruskan kepada Pemerintah Indonesia.

    Buku ini juga membahas pengalaman Kwik di dunia perdagangan. Melalui pengalamannya tersebut Kwik secara mendalam mengupas kebijakan-kebijakan perdagangan Indonesia yang saat itu masih muda. Ia membahas tentang bisnis mutual funds di awal tahun 1970-an. Ia juga membahas tentang perdagangan antar negara, khususnya hasil bumi. Di sinilah Kwik menggambarkan betapa lemahnya posisi tawar Indonesia dalam dunia perdagangan di awal Republik.

    Dua topik lain yang dibahas oleh Kwik adalah dunia pendidikan dan dunia pemerintahan. Kwik membawa pengalaman dan jaringannya saat kuliah di Belanda sebagai bekal untuk berkiprah di dunia pendidikan. Ia membantu Ferry Sonnevile yang saat itu mengelola Universitas Trisakti untuk mencari peralatan praktik bagi Fakultas Teknis dan Fakultas Kedokteran Gigi. Peran Kwik hanya diungkap sekadarnya saja. Kwik lebih banyak mengulas tentang praktik korupsi dan berbagai intrik di dunia pendidikan tinggi, khususnya Trisakti.

    Kwik juga secara langsung terlibat dalam pendirian dan pengelolaan Prasetiya Mulya dan IBII. Dua institusi tersebuty didedikasikan untuk melatih para manager Indonesia. Sekolah ini didukung oleh para konglomerat. Kwik mengungkap berbagai manuver para pihak dalam pengelolaan kedua lembaga pendidikan bisnis ini.

    Keterlibatan Kwik di dunia politik dan pemerintahan diawali saat Kwik menjadi kolumnis. Artikel-artikelnya tajam dan mudah dimengerti oleh awam dalam menganalisis kebijakan-kebijakan dunia bisnis. Tak jarang Kwik secara berani menelanjangi praktik busuk pihak-pihak tertentu. Salah satu artikelnya adalah tentang akal-akalan perdagangan saham.  

    Kegarangannya sebagai kolumnis ini membuatnya dikenal oleh para politisi. Pada tahun 1986 Kwik memutuskan untuk bergaung dengan PDI. Ia diterima dengan sukacita oleh Partai yang saat itu dipimpin oleh Drs. Soerjadi. Kwik segera saja menjadi anggota partai yang memberi kontribusi besar dalam perumusan kebijakan ekonomi. Sebab Kwik memang pakar dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

    Kwik banyak mengungkap bagaimana kondisi pemerintahan di masa Orde Baru mulai melemah. Kisah kerundungan PDI oleh Pemerintah menjadi salah satu bahasan Kwik dalam buku ini. Kwik menggambarkan betapa tegangnya saat Pemerintah mencoba membendung Megawati dan PDI supaya tidak menjadi alat bagi rakyat untuk menggusur Orde Baru. Di sela-sela paparan tentang upaya-upaya Pemerintah untuk menekan tumbuhkan PDI dan Mega, Kwik mengungkapkan betapa matangnya Mega sebagai seorang politisi. Mega secara terang-terangan mencegah para pihak untuk menghujat Suharto. Padahal saat itu semua pihak sedang menghujat Presiden di masa Orde Baru tersebut.

    Di bidang Pemerintahan, Kwik pernah menjabat sebagai Menko Ekiun dan Kepala Bappenas. Ia menolak ajakan Habibie untuk ikut menjadi Menteri di masa pemerintahannya. Namun di era Gus Dur dan di era Megawati, Kwik ikut serta dalam Kabinet. Ia menjadi Menko Ekuin di masa Gus Dur dan menjabat sebagai Kepala Bappenas di masa Megawati.

    Saat menjadi pejabat Pemerintah inilah ia menyaksikan betapa Indonesia dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain di awal Reformasi. Ia menyampaikan betapa dinginnya Ziang Jemin saat menerima delegasi Indonesia. Betapa arogannya pejabat Singapura dalam bernegosiasi dengan pejabat Indonesia. Demikian pun dengan pejabat Jerman yang menerima Gus Dur tanpa membahas agenda penting. Hanya Jepang yang cukup menghargai Indonesia. Itu pun karena Jepang ingin Indonesia membantu mencegah kebangkrutan Marubeni, sebuah perusahaan Jepang yang salah satunya beroperasi di Indonesia. Kwik juga mengungkap betapa arogannya IMF di masa krisis moneter Indonesia.

    Kwik sering dijadikan ujung tombak oleh Megawati dalam berkomunikasi dan bernegosiasi dengan partai lain. Tiga peristiwa dimana Kwik menjadi penghubung antara Megawati dengan pihak luar adalah saat Kwik diminta oleh Gus Dur menjadi juru kampanye PKB di Pati, Jawa Tengan dan saat persiapan Sidang MPR untuk pemilihan Presiden di tahun 1999.

    Kwik mengungkapkan bahwa sesungguhnya sudah terjadi deal antara PDIP dengan Golkar sebelum Sidang Umum MPR. Kwiklah yang mewakili PDIP untuk membahas pembagian kekuasaan antara PDIP dengan Golkar. Saat itu terjadi kesepakatan bahwa Megawati akan jadi Presiden dan Wakil Presiden dijabat oleh orang Golkar. Namun deal ini tiba-tiba dibatalkan oleh Golkar karena adanya isu suap yang diberikan kepada Megawati.

    Saat ternyata Gus Dur yang terpilih menjadi Presiden, ada kekhawatiran bahwa masa PDIP akan marah dan membaut kerusuhan. Satu-satunya cara untuk mencegah kerusuhan adalah jika Megawati dipilih menjadi Wakil Presiden. Di sinilah sekali lagi Kwik mendapat peran sebagai penghubung antara PKB (Matori Abdul Jalil) dengan Megawati. Megawati meminta supaya dia dipilih secara aklamasi tanpa melalui voting. Namun negosiasi tidak berhasil. Akhirnya voting untuk memilih Megawati sebagai Wakil Presiden harus dilakasanakan. Megawati melawan Hamzah Haz. Megawati menang. Dalam pidato pelantikannya, Megawati berhasil menenangkan para kader Banteng. Maka kerusuhan yang dikhawatirkan tidak terjadi.

    Cara menulis memoar oleh Kwik Kian Gie ini sungguh menarik. Sebab Kwik tidak menonjolkan perannya dalam uraian-uraian dalam memoarnya. Ia menggunakan pengalamannya yang disampaikan sekadarnya sebagai tumpuan untuk merefleksikan hal-hal penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Meski tidak diungkap secara mendalam pengalaman-pengalaman hidupnya, namun kita tetap bisa melihat peran penting Kwik Kian Gie dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang dialami bangsa ini. Terima kasih Kwik Kian Gie. 680

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali