x

Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) memantau pergerakan persenjataan berat di Ukraina Timur, 4 Maret 2015. Wikipedia

Iklan

Syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 4 Juni 2022 07:25 WIB

100 Hari Perang Ukraina dan Tiga Skenario Utama untuk Menghentikannya

Memasuki hari ke-100 perang Ukraina, ada dua pertanyaan kunci yang saling berkelindan: kapan perang berakhir? Seperti apa skenario akhir Perang Ukraina?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Perang Rusia vs Ukraina sudah memasuki bulan keempat. Tepanya, pada 03 Juni 2022, pertempuran sudah berlangsung persis 100 hari, terhitung sejak 24 Februari 2022. Dan belum ada satupun indikator perang Ukraina akan segera berakhir.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Memasuki hari ke-100 perang Ukraina itu, ada dua pertanyaan kunci yang saling berkelindan: pertama, lantas kapan perang Ukraina akan berakhir? Kedua, akan seperti apa dan bagaimana skenario akhir Perang Ukraina?

Untuk pertanyaan pertama (kapan perang Ukraina akan berakhir?), berdasarkan berbagai indikator dan dinamika medan tempur di berbagai front, kecuali terjadi mukjizat, hampir bisa dipastikan perang masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2022. Artinya, perang Ukraina juga berpotensi berlanjut ke tahun 2023.

Argumennya, pihak Uni Eropa sendiri baru akan selesai mempersiapkan segala langkah antisipasi pada akhir tahun 2022. Kebijakan mengakhiri ketergantungan Eropa terhadap gas Rusia, baru mungkin direalisasikan pada akhir tahun 2022. Itupun kalau semua persiapan teknis berjalan sesuai jadwal.

Denga kata lain, proses negosiasi yang serius antara Eropa versus Rusia baru akan bisa berlangsung vis-a-vis secara berimbang hanya setelah Eropa mengakhiri ketergantungannya terhadap pasokan gas Rusia di akhir tahun 2022.

Posisi Rusia

Militer Rusia memang terpaksa menghentikan penetrasinya ke ibukota Kyiv, kemudian mengubah taktik dan strategi tempurnya dengan lebih fokus menguasai wilayah Donbas (bagian timur Ukraina).

Dan salah satu sukses militer utama Rusia (selain menguasai kota-kota utama) di bagian timur Ukraina adalah Rusia berhasil menutup akses Ukraina ke Luat Hitam. Dengan kata lain, secara praktis, Ukraina saat ini sudah menjadi negara land-lock (tidak punya akses ke laut).

Selain itu, sebenarnya tidak-belum ada penjelasan rinci dan akurat, apakah penghentian gerak maju ke kota Kyiv disusul dengan pengalihan gelaran pasukan Rusia ke wilayah Timur, atau pasukan Rusia yang awalnya menyerbu dari utara masih tetap berada dan tersebar di wilayah utara Kyiv sampai perbatasan Belarusia, namun untuk sementara menghentikan gerak majunya ke arah Kyiv.

Berbagai sanksi ekonomi yang telah diberlakukan oleh Amerika dan Eropa terhadap Rusia, sejauh ini, belum memperlihatkan efektivitasnya secara maksimal. Sanksi-sanksi  ekonomi yang dibuat dan dirumuskan dan diberlakukan secara bergelombang (berpaket-paket) menunjukkan antara lain bahwa paket-paket sanksi awal tidak efektif.

Posisi Ukraina

Ukraina terjepit sebagai proxy Barat (Amerika dan Eropa) yang "terpaksa atau dipaksa” melawan dan menahan gempuran militer Rusia. Namun menurut pihak Ukraina, pasokan senjata dari Amerika dan Eropa belum cukup kuat untuk menahan gerak maju pasukan Rusia, khususnya di wilayah Donbas.

Secara ekonomi, Ukraina membutuhkan perioda lama untuk bisa pulih. Pertanian berhenti berproduksi. Hasil panen yang terlanjur tak bisa dipasarkan. Semua sektor tanpa kecuali tidak-belum bisa beroperasi dengan kapasitas penuh. Infra struktur hancur.

Mengamati dinamika tempur selama periode 100 hari terakhir, tampak jelas bahwa pertempuran di Ukraina hanya intensif di separuh wilayah Ukraina, yakni dari tengah (patokan kota Kyiv) ke timur, sampai Laut Hitam. Sementara wilayah tengah Ukraina ke arah barat sampai perbatasan Polandia, relatif aman. Hanya sesekali terjadi serangan atau pertempuran.

Posisi Eropa

Secara umum, posisi tawar Eropa dalam Perang Ukraina tidak terlalu kuat, bahkan cenderung lemah dalam artian tidak memiliki banyak alternatif opsi, untuk menekan apalagi membendung gerak maju militer Rusia cq Vladimir Putin.

Dan di wilayah Eropa, Jerman adalah negara kunci yang, kalau mau, bisa membantu secara efektif Ukraina dalam melawan Rusia. Persoalannya, Jerman juga yang paling tinggi ketergantungannya terhadap pasokan energi Rusia. Dengan kata lain, Jerman adalah negara Eropa yang dilematis akibat perang Ukraina. Penundaan beberapa reaksi Uni Eropa, sejak awal perang sampai hari ini, terutama disebabkan oleh resistensi Jerman.

Karena itu, sejak awal perang sampai hari ini, bantuan yang bisa dilakukan oleh Eropa Barat kepada Ukraina hanya dalam tiga hal: sanksi ekonomi terhadap Rusia, mensuplai bantuan senjata dan intelijen kepada militer-sukarelawan Ukraina; dan menerima pengungsi Ukraina.

Sejauh ini, tidak ada kabar adanya sukarelawan atau combatan partikelir (apalagi militer organik) dari negara-negara Eropa Barat yang terlibat langsung bertempur melawan pasukan Rusia di Ukraina.

Mungkin karena semua negara dan warga negara-negara Eropa Barat sudah terlanjur terlalu kaya dan nyaman menikmati kemakmurannya, sehingga sangat takut jika agresi Rusia berlanjut ke negara-negara lain (setelah Ukraina) dan merasa berat hati untuk menanggung kepedihan perang secara langsung.

Amerika

Komitmen strategis Amerika dalam Perang Ukraina adalah mencegah atau tidak memberikan "hadiah kemenengan perang" di Ukraina kepada Vladimir Putin. Karena itu, Amerika terus mengguyur Ukraina dengan bantuan militer (senjata dan intelijen).

Namun kalau dicermati, bantuan militer dan intelijen Amerika Serikat kepada Ukraina lebih diarahkan untuk menahan gerak maju pasukan Rusia. Kesulitan militer Rusia melakukan penetrasi ke jantung kota Kyiv disebabkan terutama karena Amerika tampaknya berkomitmen kuat dan maksimal untuk tidak membiarkan Rusia menduduki kota Kyiv.

Dan komitmen Amerika itu juga (mempertahankan Kyiv) yang kemudian disadari oleh Putin, yang lalu menghentikan upayanya memasuki Kyiv, kemudian lebih berkonsentrasi untuk menguasai wilayah Donbas (bagian timur Ukraina).

Bisa dipastikan, seandainya tidak ada bantuan Amerika, seluruh wilayah Ukraina mungkin relatif sudah dikuasai atau diduduki oleh militer Rusia cq Vladimir Putin.

Tiga skenario utama

Semua perang pada akhirnya akan berhenti, karena salah satu pihak menang dan satunya lagi kalah. Bisa juga karena kedua pihak sudah mencapai titik jenuh, sehingga berkesimpulan, tak ada lagi keuntungan strategis yang bisa diperoleh jika perang terus berlangsung.

Namun jika diasumsikan pertempuran di Ukraina tiba-tiba berhenti, setidaknya ada tiga skenario besar yang bisa menjadi gambaran kasar tentang bagaimana Ukraina paska perang:

Skenario pertama: pasukan Rusia mundur tanpa syarat ke garis sebelum 24 Februari 2022. Disusul atau berbarengan dengan pencabutan semua sanksi ekonomi yang telah diberlakukan terhadap Rusia. Ini skenario paling ideal, yang tentu saja diharapkan oleh pihak Ukraina, juga Eropa dan Amerika Serikat.

Namun skenario pertama yang ideal ini tampaknya akan sangat sulit diterima oleh Vladimir Putin. Sebab meskipun babak belur di berbagai front, namun kondisi faktual saat ini, cengkeraman pasukan Rusia di wilayah Donbas relatif semakin meluas dan menguat.

Skenario kedua, pasukan Rusia mundur tanpa syarat ke titik sebelum 24 Februari, yang disertai persyaratan terkait wilayah deployment (penggelaran) pasukan Rusia di dalam wilayah Rusia sendiri. Misalnya, setiap unit tempur pasukan Rusia harus ditempatkan paling dekat 100 km ke semua garis perbatasan antara Rusia-Ukraina.

Sebagai perbandingan, ketika Perang Oktober 1973 antara Mesir dan Israel berhenti, yang disusul Perjanjian Camp David, salah satu klausulnya menyebutkan, Mesir tidak boleh memobilisasi pasukan militernya pada jarak tertentu di sepanjang garis perbatasannya dengan Israel, mulai dari utara (di Jalur Gaza) sampai Teluk Aqabah.

Dalam skenario kedua ini, tentu dimungkinkan akan ada klausul kompromi, yang menyebutkan misalnya Rusia membuka atau memberikan koridor darat kepada Ukraina, melalui kota Odessa di tenggara Ukraina, agar Ukraina tetap memiliki akses ke Laut Hitam.

Skenario ketiga, Rusia akan bersikukuh mempertahankan wilayah yang sudah dikuasai di timur Ukraina. Artinya, meskipun terjadi genjatan senjata (baca: pertempuran berhenti), tetapi "perang" sebenarnya masih berlangsung. Konsekuensi logis terdekatnya adalah war of attrition (perang panjang yang bertujuan saling menguras kekuatan lawan).

Kecenderungan ini sudah mulai muncul di tingkat wacana, meskipun kemudian dibantah, bahwa Amerika dan Eropa konon telah berupaya membujuk Ukraina agar mau memberikan konsesi wilayah (merelakan sebagaian wilayahnya di bagian timur) kepada Rusia.

Konsekuensi lanjutannya, agar bisa bertahan menghadapi tekanan ekonomi dari Amerika dan Eropa Barat, pihak Rusia cq Vladimir Putin akan terus merawat hubungan dekatnya dengan China, baik karena kepentingan ekonomi (karena China merupakan pasar alternatif untuk menggantikan pasar Eropa untuk energi Rusia: minyak dan gas) maupun untuk tujuan diplomasi global. Dan seperti diketahui, hingga hari ini, China belum mengecam secara terbuka serbuan militer Rusia terhadap Uraina.

***

Dari tiga kemungkinan skenario Perang Ukraina itu, ada sejumlah catatan dinamika perang yang tak terelakkan:

Pertama, skenario apapun yang menjadi plihan akhir oleh para piihak, posisi Ukraina tetap yang paling dirugikan. Infrastruktur Ukraina, terutama di wilayah Timur sudah hancur, dan perbaikannya tentu memerlukan waktu bertahun-tahun. Sebagian besar bantuan yang telah-sedang-dan-akan diserahkan kepada Ukraina bukan semuanya bantuan gratis, tetapi bantuan yang punya kwitansi (invoice)-nya.

Kedua, perang Ukraina telah dan akan menciptakan permusuhan kesumat antara rakyat Ukraina dan rakyat Rusia, yang mungkin sulit dipulihkan dalam beberapa dekade ke depan. Sebab bahkan setelah pertempuran selesai pun, perang di media sosial antara komunitas diperkirakan akan terus berlanjut.

Ketiga, selain menciptakan tragegi-tragedi memilukan, setiap perang pada akhirnya juga akan menciptakan cerita kepahlawanan yang sebagian bahkan akan dilegendakan atau dimitoskan. Di antara tragedi dan kepahlanan itu, sisi kemanusiaan manusia berada di titik nadir.

Keempat, bagi negara-negara Eropa Barat dan juga Amerika Serikat, serbuan Rusia ke Ukraina akan diposisikan sebagai peristiwa yang telah sukses meluluh-lantakkan sikap saling percaya antar sesama negara Eropa. Rusia akan diposisikan sebagai negara-bangsa “non-Eropa”, meskipun secara geografis menempel ke Eropa. Secara ekstrem bisa disimpulkan, setalah perang Ukraina, Eropa Barat akan memposisikan Rusia sebagai negara musuh yang selamanya harus diwaspadai.

Kelima, setiap negosiasi untuk mengakhiri perang pada akhirnya adalah proses untuk saling memberikan-melepas konsesi (mengalah), sekaligus saling menjaga air muka. Prinsipnya, dalam proses negosiasi, jangan coba-coba mempermalukan lawan yang memiliki semua potensi untuk menyerang ulang dengan cara yang mungkin lebih brutal.

Syarifuddin Abdullah | Jakarta Kamis, 03 Juni 2022, 03 Dzulqa’dah 1443H

Sumber foto: geology.com

Ikuti tulisan menarik Syarifuddin Abdullah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB