x

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 5 Juni 2022 19:36 WIB

Mengatasi Tantangan dengan Jati Diri Baru

Banyak sekali tantangan, kendala, ancaman dan gangguan dalam kehidupan ini. Tidak jarang tantangan itu membutuhkan kualifikasi tertentu. Maka kita harus mampu beradaptasi. Kita harus mampu mentransformasi diri. Kita perlu jati diri baru.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

Ketika menatap situasi kekinian saya tetiba teringat sebuah quote yang sangat indah dan penuh makna dari seorang sufi Turki dari abad ketigabelas.

When you let go of who you are, you become who you might be.”  Artinya kurang lebih  “Ketika kamu lepaskan jati dirimu sekarang, kamu bisa berkembang”.  Demikian terjemahan bebas quote terkenal dari Maulana Jalaludin Rumi. Saya ingin membahas quote ini karena saya yakin sangat relevan dengan situasi kekinian, terutama untuk orang orang yang terdampak oleh pandemi Corona.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebenarnya  saya meyakini quote ini berlaku universal, untuk siapa saja, kapan saja dan di mana saja.  Saya menafsirkannya bahwa manusia sering terjebak dalam jati dirinya yang membatasi potensinya sendiri.  Sebenarnya dia memiliki potensi yang jauh lebih besar lagi tapi terkendala karena dia masih terikat dengan jati dirinya saat ini.  Jadi untuk berkembang lebih jauh lagi dia perlu melepaskan jati dirinya yang sekarang.  

Misalnya orang pariwisata seperti tour guide,   tour leader dan lain lain.   Saaat ini bisnis pariwisata berhenti total entah sampai kapan.  Nah dalam keadaan seperti ini mereka perlu melepaskan diri dari jati diri semula dan mengolah potensinya yang lain.  Tentu saja tidak ada salahnya mempertahankan kompetensi yang sudah ada, tapi jangan terikat hanya kepada itu.  Justru potensi semula itu adalah modal untuk membangun kompetensi yang baru.  Kompetensi bahasa asing dan public speaking  misalnya bisa menjadi modal untuk membangun kompetensi baru dan profesi baru. 

Tidak mudah memang mengubah kebiasaan yang sudah dijalani bertahun tahun.  Pikiran dan sikap sudah terbentuk menjadi jati diri tertentu.  Tapi seperti kata Howard Gardner, kita memiliki kecerdasan ganda.  Ada banyak potensi tersembunyi dalam diri kita.  Itulah yang perlu ditemukan dan dikembangkan.  Sembari mencari peluang.  Tatkala kompetensi yang ada di dalam diri kita bersenyawa dengan peluang maka akan dengan sendirinya akan berkembang semua potensi kita.  

Selain itu saya melihat para pensiunan juga ‘telmi’  alias telat mikir. Dia sudah bukan lagi dirinya yang dulu tapi pikirannya masih seperti dulu.  Mindset  lama masih terbawa.  Ini kadang menyulitkan dia sendiri.  Inilah yang harus ditinggalkan agar mampu memainkan jati diri barunya dengan baik.

Orang yang pernah punya jabatan kadang masih menganggap dirinya adalah seorang atasan yang punya kewenangan memberi perintah. Sedangkan nyatanya dia sudah tidak lagi punya kewenangan.  Ketika mantan anak buah tidak lagi menuruti perintahnya dia akan marah atau kecewa.  Lebih parah lagi kalau orang lain membalas dendam dengan mendiamkan atau melengos ketika bertemu.  Sakit hatilah si mantan atasan.

Kita kenyataannya memiliki jati diri yang terus berubah.  Oleh karena itu sejatinya kita harus terus menerus berubah mengikuti perubahan jaman.  Kita memerlukan ketrampilan transformasi diri menjadi pribadi baru. 

Menata hati, menata perasaan, mencari jati diri baru memang tidak mudah.  Sabar, rido dan iklas adalah salah satu resepnya.  Memang dibutuhkan waktu dan upaya untuk mencapainya. Di awalnya niatkan saja. Nanti akan ada kemajuan asal dilakukan dengan sepenuh hati dan konsisten.

Semoga  bisa membantu anda beradaptasi dengan sikon kekinian. 

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu