Ada Penyakit Egois, Apa Respon Publik Bila Timnas Kalah dari Yordania? - Analisis - www.indonesiana.id
x

STy

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 11 Juni 2022 18:13 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ada Penyakit Egois, Apa Respon Publik Bila Timnas Kalah dari Yordania?

    Ingat, bila nanti kalah dari Yordania, kira-kira apa respon publik sepak bola nasional? Pasti sudah terbayang.

    Dibaca : 606 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apakah Jaber Al-Ahmad International Stadium, Kuwait, Minggu (12/6/2022) mulai pukul 02:15 WIB akan menjadi saksi sejarah lagi, timnas Indonesia mampu menekuk Timnas dari kawasan Timur Tengah, setelah sebelumnya sukses membekuk tuan rumah Kuwait?

    Publik masih tak percaya, tapi nyata.

    Saat membekuk tuan rumah Kuwait, sejatinya publik sepak bola nasional banyak yang tak percaya. Pasalnya, fakta dan kenyataan Timnas Indonesia yang tak diunggulkan, kondisi TIPS para pemain Timnas yang masih belum sesuai harapan, keraguan akan kemampuan Shin Tae-yong (STy), ranking FIFA yang rendah, cuaca panas, berlaku sebagai tim tamu, seringnya dirugikan wasit, dan lain sebagainya, yang membikin Timnas selalu terkendala untuk tampil sesuai ekspetasi dan meraih kemenangan.

    Bahkan, melalui chat WA, banyak pihak yang menyampaikan sengaja tak menonton laga timnas vs Kuwait, karena sudah menduga akan kecewa. Bukan hanya berpikir kalah, tapi juga berpikir, para pemain akan tampil mengecewakan.

    Ada juga publik yang memberikan pesan bahwa, meski timnas mampu unggul versus Kuwait dan bikin sejarah, STy masih memiliki banyak pekerjaan rumah (pr) untuk Pasukan Garuda.

    Namun, meski banyak catatan, nyatanya timnas memang telah membuat sejarah. Mampu membekuk tim asal Timur Tengah. Mampu menang versus tim yang peringkat FIFA-nya lebih tinggi. Dan, mampu mempermalukan Kuwait di depan publiknya sendiri. Mampu membuka mata dunia. Bahkan media asing sampai media Amerika pun menyoroti kemenangan Pasukan Garuda ini.

    Kemenangan atas Kuwait pun, membuat timnas Yordania dan timnas Nepal kebakaran jenggot, karena mematahkan prediksi dan membikin persaingan di Grup A semakin sengit.

    Setop egois

    Menghadapi laga krusial versus Yordania di Jaber Al-Ahmad International Stadium, semoga keberuntungan akan kembali berpihak kepada pasukan STy. Apalagi, laga akan dilangsungkan pada malam hari, sehingga temperatur udara tak akan sepanas laga perdana.

    Jangan berpikir Yordania akan seperti Kuwait yang sudah ditaklukkan. Jangan berpikir Yordania hanya mampu menang 2-0 atas Nepal yang peringkat FIFA-nya di bawah Indonesia.

    Berikutnya, setop sikap egois dan individualistis, karena akan sangat berdampak pada kesempatan mencetak gol ke gawang Yordania. Karenanya, setiap ada kesempatan mencetak gol, tidak ada lagi pemain yang memaksakan diri.

    Setiap pemain wajib berpikir timnas mampu mencetak gol di setiap kesempatan yang ada, dengan menomorsatukan siapa pemain yang paling memungkinkan menceploskan bola ke gawang Yordania. Bukan egois mau unjuk gigi dan menjadi pahlawan. Tetapi malah merugikan tim karena membuang kesempatan yang seharusnya bisa menjadi gol, bila bola diumpan ke rekan yang lebih memungkinkan.

    Maaf, bila diturunkan oleh STy dalam laga nanti, khusus untuk Saddil, Irfan, Ricky, Arhan, jangan egois! Juga buat pemain yang lain. Cerdaslah bahwa Timnas butuh menang. Jadi, harus ada gol atau unggul selisih gol bila mau menang versus Yordania. Bila hanya mampu imbang, andai tak mampu mencipta gol, maka pemain belakang didukung pemain tengah dan depan wajib berjuang dengan cerdas agar lawan tak bikin gol. Untuk lolos Babak Kualifikasi bila dari jalur runner-up, produktivitas gol sangat diperhitungkan!

    Sebagai catatan untuk para pemain yang masih egois, coba simak!

    Apakah saat Marck Klok menceploskan gol ke gawang Kuwait lewat titik putih, publik sepak bola nasional hingga dunia yang menyaksikan laga melupakan siapa pemain yang memberi keuntungan lahirnya pinalti untuk Timnas Indonesia? Apakah pemain lain yang memberikan umpan hingga Rachmat Irianto dilanggar di kotak pinalti oleh kiper Kuwait, juga tidak diingat oleh publik?

    Berikutnya, saat Rachmat Irianto membuat gol kemengan Indonesia adalah hanya hasil upayanya? Sebelumnya ada kinerja Witan Sulaiman yang membuat bola terbentur lawan, dan memantul ke kaki Rachmat Irianto. Sebelum bola jatuh ke kaki Witan, siapa yang mengumpan ke kotak pinalti?

    Bila bukan karena adanya kerjasama dan kerja kolektif, mustahil pasukan Shin Tae-yong (STy) akan mampu membukukan dua gol dan berhasil menekuk Timnas Kuwait di hadapan publik sendiri.

    Jadi, kemenangan atas Kuwait tetap hasil dari kerja kolektif, bukan kerja egois. Kerja kolektif saat mampu mencipta dua gol. Kerja kolektif saat mampu mempertahankan keunggulan, meski Kuwait terus menggempur.

    Untuk pemain yang masih egois, jangan membela teman yang egois. Berada dalam tim, adalah kesempatan untuk unjuk gigi bersama tim, bukan untuk kepentingan diri. Bila membela teman yang egois, karena ukurannya diri sendiri, maka wajib mawas diri.

    Ingat, bila nanti kalah dari Yordania, kira-kira apa respon publik sepak bola nasional? Pasti sudah terbayang.

    Untuk itu, berpikirlah menang karena kerja kolektif. Berpikirlah cetak sejarah lagi, taklukkan tim Timur Tengah yang ranking FIFAnya jauh di atas Indonesia. Berpikirlah lolos Babak Kualifikasi sebagai Juara Grup.

    Lupakan ranking, catatan matematis, dan statistik. Maka, Yordania pun dapat ditaklukkan karena cerdas intelegensi dan personality.

    STy, maaf. Timnas butuh menang. Pemain yang egois itu karakter. Mungkin jangan diturunkan dulu demi Indonesia menang.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.