x

Iklan

Aulia Azzahra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 April 2022

Minggu, 12 Juni 2022 23:50 WIB

Mengenal Sastrawan Indonesia Periode Reformasi hingga Kini

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke B.J. Habibie lalu K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, dan sastra reformasi bermunculan. Munculnya generasi ini ditandai dengan maraknya penggunaan karya sastra, puisi, cerpen, dan novel bertema sosial-politik, terutama yang berkaitan dengan reformasi. Misalnya, di rubrik Sastra Harian Republika,  rubrik "Keprihatinan Negara" atau "Puisi Reformasi" sudah beberapa bulan dibuka. Tahapan pembacaan berbagai puisi dan penerbitan buku  puisi juga dibentuk oleh puisi bertema sosial politik.  Para penulis Angkatan Reformasi melihat kembali situasi sosial dan politik yang muncul pada akhir 1990-an dengan runtuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 melatarbelakangi munculnya karya-karya sastra, puisi, cerpen, dan novel pada masa itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda,  Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, turut menambah suasana dengan puisi sosio-politik.  Runtuhnya pemerintahan Suharto yang militeristik dan menindas mungkin berdampak besar pada pengucapan dan pemikiran penulis kita. Selain itu, kehidupan pers dalam penyebaran berita lebih jelas dan transparan, yang berdampak sangat luas terhadap perilaku budaya dan sosial. Tempat pergerakan masyarakat yang semula tertindas dan dibatasi oleh gaya opresif Pemerintah Orde Baru, tiba-tiba mendapat jalan kebebasan. Sastra itu seperti panggung yang  terbuka dan luas. Di sana, pemain bisa melakukan apa saja.     Setelah wacana penulis tentang lahirnya Tentara Reformasi mengemuka, namun tidak dapat dipastikan karena tidak memiliki “pembicara”, Cory Rayun Lampang membuat wacana tahun 2002 tentang kelahiran penulis pada tahun  2000. .. Buku tebal terbitan Gramedia di Jakarta pada tahun 2002. Seri 2000 mencakup 100 penyair, cerita pendek, novelis, dan kritikus sastra  yang  mulai menulis pada 1980-an, termasuk Afrisarmarna, Abmadunyoshi Helfanda, dan Senommira Azidarma. Ayu Utami dan Dorothea Rosa Heliany yang muncul di akhir 1990-an.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejarah merupakan topik yang kerap kali kurang populer di kalangan mahasiswa. Mendengar kata sejarah menjadi momok karena mengandung gagasan bahwa mempelajari topik tersebut berarti harus menghafal atau mendengar ceramah tentang berbagai peristiwa di masa lalu. Pemahaman semacam ini perlu diperhatikan oleh para pengajar sejarah agar mata kuliahnya tidak jatuh menjadi peristiwa menghafal bagi mahasiswa. 

Meski kurang populer, mempelajari sejarah selalu diwajibkan oleh semua institusi. Hanya dengan mengetahui sejarah di masa lalu, kita tahu apa yang harus kita lakukan kini. Salah satu jargon Bapak Revolusi Indonesia, Bung Karno, “Jas Merah! Jangan pernah melupakan sejarah!” seharusnya mampu menjiwai perjalanan kita mempelajari sejarah.

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke B.J. Habibie lalu K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, dan sastra reformasi bermunculan. Munculnya generasi ini ditandai dengan maraknya penggunaan karya sastra, puisi, cerpen, dan novel bertema sosial-politik, terutama yang berkaitan dengan reformasi. Misalnya, di rubrik Sastra Harian Republika,  rubrik "Keprihatinan Negara" atau "Puisi Reformasi" sudah beberapa bulan dibuka. Tahapan pembacaan berbagai puisi dan penerbitan buku  puisi juga dibentuk oleh puisi bertema sosial politik. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Para penulis Angkatan Reformasi melihat kembali situasi sosial dan politik yang muncul pada akhir 1990-an dengan runtuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 melatarbelakangi munculnya karya-karya sastra, puisi, cerpen, dan novel pada masa itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda,  Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, turut menambah suasana dengan puisi sosio-politik. 

Runtuhnya pemerintahan Suharto yang militeristik dan menindas mungkin berdampak besar pada pengucapan dan pemikiran penulis kita. Selain itu, kehidupan pers dalam penyebaran berita lebih jelas dan transparan, yang berdampak sangat luas terhadap perilaku budaya dan sosial. Tempat pergerakan masyarakat yang semula tertindas dan dibatasi oleh gaya opresif pemerintah Orde Baru, tiba-tiba mendapat jalan kebebasan. Sastra itu seperti panggung yang  terbuka dan luas. Di sana, pemain bisa melakukan apa saja.  

Setelah wacana penulis tentang lahirnya Tentara Reformasi mengemuka, namun tidak dapat dipastikan karena tidak memiliki “pembicara”, Kory Layun Rampang membuat wacana tahun 2002 tentang kelahiran penulis pada tahun  2000.  Buku tebal terbitan Gramedia di Jakarta pada tahun 2002. Seri 2000 mencakup 100 penyair, cerita pendek, novelis, dan kritikus sastra  yang  mulai menulis pada 1980-an, termasuk Afrisarmarna, Abmadunyoshi Helfanda, dan Senommira Azidarma. Ayu Utami dan Dorothea Rosa Heliany yang muncul di akhir 1990-an.

Pengertian sastra

Kata “sastra” dalam Bahasa Indonesia, sebenarnya mengambil istilah dari bahasa Sansekerta yaitu “shastra”. Kata “sas” memiliki makna instruksi atau pedoman, dan “tra” berarti alat atau sarana.
Dalam pemakaiannya, kata “sastra” sering ditambah awalan su sehingga menjadi susastra. Awalan su tersebut memiliki makna baik atau indah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kata “susastra” berarti hasil karya yang baik dan indah.

Sebelumnya, telah banyak ahli sastra yang menyampaikan pendapatnya mengenai pengertian dari sastra, yakni sebagai berikut:

Menurut Plato, sastra merupakan hasil tiruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Hal tersebut karya sebuah karya sastra harus merupakan bentuk teladan alam semesta sekaligus menjadi model kenyataan kehidupan manusia sehari-hari.

Lalu, menurut Sapardi Djoko Damono (1979), sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium penyampaiannya. Sastra juga menampilkan gambaran kehidupan manusia dan kehidupan tersebut adalah suatu kenyataan sosial.

Kemudian, menurut Mursal Esten (1978), sastra merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai bentuk perwujudan (manifestasi) dari kehidupan manusia dan masyarakat. Dalam sastra, penyampaiannya menggunakan bahasa dan memiliki efek positif bagi kehidupan manusia.

Selanjutnya, menurut Taum (1997), sastra adalah bentuk karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif dan menggunakan bahasa yang indah serta keberadaannya dapat berguna untuk hal-hal lain.

Terakhir, menurut Semi (1988), sastra merupakan bentuk dan hasil pekerjaan seni secara kreatif yang menggunakan manusia dan kehidupannya sebagai objek sastra. Selain itu, dalam sastra juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Melalui pengertian-pengertian sastra yang disampaikan oleh beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sastra adalah hasil karya manusia yang menceritakan mengenai kehidupan manusia dan disampaikan melalui bahasa.

Perkembangan sastra di Indonesia

Sastra Indonesia telah berkembang di Indonesia sejak sebelum abad ke-20.  Sastra Indonesia adalah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah dari Sastra Indonesia merujuk pada kesusastraan dalam bahasa Indonesia yang bahasa akarnya berdasar pada bahasa Melayu. Pembabakan dalam sejarah Sastra Indonesia dibagi berdasarkan angkatan.
Angkatan adalah suatu usaha pengelompokan atau periodisasi karya sastra berdasarkan ciri khas karya yang dihasilkan. 

Angkatan-angkatan dalam sejarah sastra di antaranya adalah sebagai berikut: 
•    Angkatan Pujangga Lama 
•    Angkatan Sastra "Melayu Lama" 
•    Angkatan Balai Pustaka 
•    Angkatan Pujangga Baru 
•    Angkatan '45 
•    Angkatan '50-an 
•    Angkatan '66-'70-an 
•    Dasawarsa 80-an 
•    AngkatanReformasi

 

  •     Peristiwa Penting Angkatan Reformasi
    1.      Terbitnya Jurnal Cerpen (2002), oleh Joni Ariadinata, dkk.
    2.      Lomba Sayembara Menulis Novel, Dewan Kesenian Jakarta (2003).
    3.      Festival Seni Surabaya (2005).
    4.      Kongres cerpen yang dilaksanakan secara berkala 2 tahun sekali. Kongres ini berhasil mengangkat citra cerpen secara lebih terhormat. Kegiatan ini sekaligus untuk menyosialisasikan keberadaan cerpen sebagai bagian dari kegiatan kesusastraan yang penting.
    5.      Munculnya Cybersastra.
  • Tokoh-Tokoh Angkatan Reformasi dan 2000-an
    Adapun tokoh angkatan Reformasi adalah sebagai berikut:
    1)      Ahmadun Yosi Herfanda 
    Ahmadun Yosi Herfanda  atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YHlahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah,17 Januari 1958; umur 56 tahun), adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia. Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia dan jurnalis yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ia juga banyak menulis esei sastra.
    Sejak menjadi mahasiswa, Ahmadun telah aktif sebagai editor dan jurnalis. Dimulai dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1983-1999), lalu di Harian Yogya Post (1999-1992), Majalah Sarinah (bersama Korrie Layun Rampan, 1992-1993), dan terakhir di Harian RepublikaJakarta (1993-2010). Di Republika ia lebih banyak dipercaya sebagai Redaktur Sastra, namun sempat juga menjadi Koordinator Desk Opini dan Budaya, serta Asisten Redaktur Pelaksana. Karier strukturalnya tidak begitu ia perhatikan, karena kesibukannya dalam menulis karya kreatif, mengelola acara-acara sastra, dan menjadi nara sumber berbagai workshop penulisan, mengajar di sejumlah perguruan tinggi, mengisi diskusi, pentas baca puisi, serta seminar sastra di berbagai kota di tanah air dan mancanegara. Dalam perjalanan karier terakhirnya (di Republika), aktivitas sastra lebih banyak menyedot kecintaannya daripada kerja jurnalistik.
    Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:
    a)       Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
    b)       Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
    c)       Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
    d)       Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
    e)       Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
    f)        Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
    g)       Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997).
    2)      Acep Zamzam Noor 
    Acep Zamzam Noor  (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Februari 1960; umur 54 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Acep adalah putra tertua dari K. H. Ilyas Ruhiat, seorang ulama kharismatis dari Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. menikahi seorang santri bernama Euis Nurhayati dan dikaruniai orang anak bernama Rebana Adawiyah, Imana Tahira, Diwan Masnawi, Abraham Kindi. dan Luna. Acep menghabiskan masa kecil dan remajanya di lingkungan pesantren, melanjutkan pendidikan pada Jurusan Seni Lukis FakultasSeni Rupa dan Desain ITB, lalu Universitá Italiana per Stranieri, Perugia, Italia. Kini, tinggal di Desa Cipasung, Tasikmalaya. Karya Acep Zamzam Noor adalah sebagai berikut:
    a)       Tamparlah Mukaku! (kumpulan sajak, 1982);
    b)       Aku Kini Doa (kumpulan sajak, 1986);
    c)       Kasidah Sunyi (kumpulan sajak, 1989);
    d)       The Poets Chant (antologi, 1995);
    e)       Aseano (antologi, 1995);
    f)        A Bonsai’s Morning (antologi, 1996);
    g)       Di Luar Kata (kumpulan sajak, 1996);
    h)       Dari Kota Hujan (kumpulan sajak, 1996);
    i)        Di Atas Umbria (kumpulan sajak, 1999);
    j)        Dongeng dari Negeri Sembako (kumpulan puisi, 2001);
    k)       Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004);
    l)      Menjadi Penyair Lagi (antologi, 2007);
    Adapun tokoh angkatan 2000-an adalah sebagai berikut:
    1)   Korrie Layun Rampan 
    Korrie Layun Rampan  (lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953; umur 60 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ayahnya bernama Paulus Rampan dan ibunya bernama Martha Renihay-Edau Rampan, beretnis Dayak Benuaq. Semasa muda, Korrie lama tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub sebuah klub sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini telah lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif, Arwan Tuti Artha, Suyono Achmad Suhadi, R.S. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi, diantaranya Aliran-Jenis Cerita Pendek.
    2)   Ayu Utami
    Ayu Utami adalah satu di antara pelopor atau tokoh yang paling populer pada angkatan reformasi dengan karyanya “Saman” yang memenangkan sayembara  penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Sedikit singkat mengenai Ayu Utami, Justina Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968, umur 43 tahun) adalah aktivis, jurnalis dan novelis Indonesia. Ia besar di Jakartadan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
    Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memrotes pembredelan.  Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Karya Ayu Utami di antaranya:
    a)      Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998;
    b)      Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001;
    c)      Kumpulan Esai "Si Parasit Lajang", GagasMedia, Jakarta, 2003;
    d)      Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008.
    3)      Dewi Lestari
    Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan br Siagian (alm). Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" kemajalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul "Rico the Coro" yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.
    Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Karya Dewi Lestari di antaranya:
    a)      Novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, 2001;
    b)      Novel Supernova: Akar, 2004;
    c)      Kumpulan Prosa dan Puisi "Filosofi Kopi" 2003;
    d)      Novel Supernova: Petir, 2005;
    e)      Kumpulan Cerita Rectoverso, 2008;
    f)       Novel Perahu Kertas, 2009.
    4)      Habiburrahman El Shirazy
    Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 37 tahun) adalah novelis nomor. 1 Indonesia dinobatkan oleh Insani Universitas Diponegoro. Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara sepertiMalaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.
    5)      Andrea Hirata
    Andrea Hirata  terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun (lahir di Belitung, 24 Oktober 1976; umur 37 tahun) adalah novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia. Ia berasal dari Pulau Belitung, [provinsi Bangka Belitung]. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi. Karya Andrea Hirata antara lain:
    a)         Laskar Pelangi (2005)
    b)         Sang Pemimpi (2006)
    c)         Edensor (2007)
    d)         Maryamah Karpov
    e)         Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010)
    f)          Sebelas Patriot (2011)
    g)         Laskar Pelangi Song Book (2012).
  •     Ciri-Ciri Angkatan Reformasi dan 2000-an
    Berikut adalah ciri-ciri sastra angkatan Reformasi:
    1)      isi karya sastra sesuai situasi reformasi;
    2)      bertema sosial-politik, romantik, naturalis;
    3)      produktivitas karya sastra lebih marak lagi, seperti puisi, cerpen, novel;
    4)      disebut angkatan Reformasi karena tahun 1998 merupakan puncak dari angkatan 90-an;
    5)      banyak munculnya sastrawan baru yang membawa angin baru dalam kesusastraan Indonesia, contohnya Ayu Utami yang muncul di akhir 90-an dengan karyanya Saman.
    Berikut adalah ciri-ciri sastra angkatan 2000-an:
    1)      tema sosial-politik, romantik, masih mewarnai tema karya sastra;
    2)      banyak muncul kaum perempuan;
    3)      disebut angkatan modern;
    4)      karya sastra lebih marak lagi, termasuk adanya sastra koran, contohnya dalam  H.U. Pikiran Rakyat;
    5)      adanya sastra bertema gender, perkelaminan, seks, feminisme;
    6)      banyak muncul karya populer atau gampang dicerna, dipahami pembaca;
    7)      adanya sastra religi;
    8)      muncul Cybersastra di internet.
  • Kelebihan Karya Sastra Angkatan Reformasi dan 2000
    Kelebihan karya sastra angkatan Reformasi adalah sebagai berikut:
    1.      mulai muncul sastrawan wanita;
    2.      banyaknya rubrik yang berisi karya sastra bertema percintaan hingga sosial-politik, tidak seperti angkatan sebelumnya;
    3.      mulai banyak media percetakan yang dijadikan sarana untuk mempublikasikan hasil karya sastra;
    4.      adanya kebebasan berekspresi dan pemikiran;
    5.      mulai timbul kesadaran sastrawan untuk mengambil tema sosial-politik yang ada di Indonesia.


Sumber rujukan :
Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia. Bening Publishing: Jakarta Timur.

Nurcahyo, Dwi. 2012. Puisi-puisi Ahmadun Yosi Herfanda angkatan 2000an. (Online). (http://dwinurcahyo87.wordpress.com/2012/07/25/puisi-puisi-ahmadun-yosi-herfanda-angkatan-2000-an/, dikunjungi 5 Juni 2014).

Padi, Editorial. 2013. Kumpulan Super Lengkap Sastra Indonesia. CV Ilmu     Padi Infra Pustaka Makmur: Jakarta.

Safitria, Ayu. 2012. Sejarah Sastra Indonesia Angkatan 90. (Online). (https://ayusafitria-mencoret.blogspot.com/2012/01/sejarah-sastra-indonesia-angkatan-90.html?m=1, diakses 22 Februari 2014).


Erowati, Rosida dan Bahtiar, Ahmad. 2011. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta : Lembaga penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ikuti tulisan menarik Aulia Azzahra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu