Maaf Gianna, Tak Mengajakmu Pergi - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Traveling Backpacker

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 06:56 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Maaf Gianna, Tak Mengajakmu Pergi

    Sebelum mengakhiri perjalanan hari pertama, berasa kurang etis jika tak duduk manis di depan Saint Simeon Piccolo.

    Dibaca : 716 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebelum berjingkrak-jingkrak di panggung selebrasi, sebelum rencana berganti secarik wacana, sebelum stok makanan habis, maklum anak rantau terlampau jauh dari kampung halaman. Tak kalah penting sebelum harga tiket keburu naik sih. Sedikit gelisah tentunya dimana empat bulan belakangan terkungkung berotasi ke manusia fakir ekspresi. Terang saja kondisi lockdown menuntut diri lebih banyak menghabiskan waktu dalam ruang berukuran 3 x 4 meter, berwisata virtual, zoom meeting bersama teman-teman lama, belum lagi lahirnya grup whatsapp. Sangat membosankan.

    Ujian kampus dan lockdown paripurna. Awal summer 2020 baru realisasi ngebolang rame-rame. Mari saatnya keluar dari selatan Itali. Berjalan ke Utara menapaki rute Lamezia Terme, Venezia, Lago di Braies, Dolomiti, Duomo Milan, Budapest lalu kembali ke selatan bersua kota Naples. Kurang lebih tujuh hari untuk rute tadi.

    Perjalanan dimulai ketika terik tanpa kompromi. Meski panas sangat terasa faktanya tak mengurangi realisasi rencana lama yang tersusun rapih di ruang fantasi. Acapkali fantasi itu bermain sesaat sebelum badan terbujur diatas kasur. Ketika aksi rencana tadi, masih saja ada upaya negosiasi. Bisa nggak sih kurangi sedikit teriknya? Oh ternyata tak berhasil. Pekik ketika terik tak berkontribusi banyak atas kelembaban sendi-sendi bersifat nylempit. Ia tetap berkeringat bahkan lembab. Ya sudahlah tidak menjadi soal karena cuaca sedang panas-panasnya sementara perlu segera aksi sebelum catatan liburan mendekati basi.

    Pensilina masih setia di posisinya. Orang datang dan pergi tak merubah struktur bentuk dan warnanya. Pun dengan si anjing Gianna, legacy makhluk hidup dari anak Indonesia sebelum saya sampai disini, ia selalu mengantar kemanapun kami pergi. Darinya kita belajar setia yang hakiki, belajar loyalitas, belajar menjadi pendherek yang sesungguhnya. Meski kadang dibuatnya jengkel karena lebih memilih berhenti berjalan ketimbang harus dikasih beban di punggungnya, hanya sebatas bungkusan makanan misalnya. Yang penting ikut, entah kemana tujuan si tuan pergi. Termasuk saat itu, meski berulang kali ia konsisten berperan sebagai penggembira, sementara sang tuan tetap melanjutkan aktifitasnya. Gianna tetaplah Gianna, tak bisa dipinta agar tetap berbaring santai dirumah saja.

    Perjalanan libur summer tahun pertama ini kami berenam bersama Gianna. Sayangnya jumlah itu hanya berlaku beberapa ratus meter saja atau jarak residen hingga ke Pensilina. Sisanya kami pergi berlima. Menunggu bus menuju Lamezia Terme. Masih dalam tahap recovery atas pandemi di Itali, jaga jarak dan masker selalu dipakai ketika masuk kedalam transportasi publik. Tiba di Lamezia Terme antrian memanjang. Kami harus menunggu kurang lebih dua jam sebelum take off ke Venezia. Ini adalah visual kerumunan pertama setelah hampir empat bulan tak boleh kemana-mana. Agaknya banyak orang tak sabar menunggu waktu liburan. Keramaian itu kita anggap sebagai warming up panorama sebelum mata ini melihat kecantikan pegunungan Dolomiti di Italia bagian utara.

    Penerbangan Lamezia Terme ke Venezia kurang lebih satu jam. Tiba di Venice Marcopolo Airport kami mencari uffici noleggio auto atau kantor rental mobil. Kurang lebih berjarak 1,5 kilometer dari pintu keluar bandara. Di tempat itu ada beberapa rental mobil. Setelah survei kanan kiri akhirnya ketemu harga hemat. Kami berlima, hanya satu orang yang mengantongi SIM Internasional. Mari duduk tenang dan bersiap-siap tarik nafas panjang. Termuda dari kami berlima, termilenial dan paling kekinian sekaligus selebgram terkenal (isunya begitu) bakal menjadi driver selama liburan summer tahun ini.

    Saatnya meluncur ke hotel Alexandra, kurang lebih 45 menit dari Marcopolo Airport. Setibanya di hotel, lebih dulu bongkar perbekalan yang telah dingin dan mengembun didalam kotak tupperware. Habis sudah perbekalan dan kami hanya menyisakan butiran minyak yang menempel pada dinding-dinding kotak tadi. Mari lanjutkan perjalanan ke Venezia untuk cek ombak. Sengaja, kami hanya subsidi waktu kurang lebih tiga jam berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit dihimpit gedung tua dan beberapa jembatan kecil pemisah antar jalan sempit tadi.

    Sebelum mengakhiri perjalanan hari pertama, berasa kurang etis jika tak duduk manis di depan Saint Simeon Piccolo. Cara ini cukup berhasil merelaksasi diri sih, sembari melihat suasana malam dan aktifitas gondola berlalu-lalang. Hah, berasa ingin berjam-jam tak mau pulang. Usai sejumlah gondola mondar-mandir, kami pun nyaris mati gaya lalu berfikir, baiknya segera pulang sebelum relaksasi ini berakhir. Saatnya kembali ke hotel untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

    Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.