x

Iklan

SITI SAROH

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 April 2022

Rabu, 15 Juni 2022 15:16 WIB

Perkembangan Kesusastraan Indonesia Periode Orde Baru

Kesusastraan Indonesia terbagi ke dalam beberapa periode atau pembabakan. Periodisasi sastra ditentukan oleh norma, konflik, budaya, dan pendapat menurut ahlinya. Salah satunya kesusastraan Indonesia periode Orde Baru.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kesusastraan Indonesia telah melewati berbagai proses sesuai periodisasi dan karakteristiknya. Salah satu periode sastra yang melewati berbagai problem ialah kesusatraan Indonesia periode orde baru. Menurut Ajip Rosidi, periode ini merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa sudah sejak awal pertumbuhan sastrawan-sastrawan di Indonesia menunjukkan perhatian yang serius kepada politik. Keith Foulcher dalam salah satu Majalah Prisma No. 8 tahun 1988, menguraikan tentang perkembangan sastra Indonesia pada masa Orde Baru selama 22 tahun (1966-1988).

Keith Foulcher menjelaskan bahwa yang membuat karya satra Indonesia itu ada dua generasi, yaitu generasi 1945 yang merupakan generasi Indonesia terakhir yang dididik Belanda, dan generasi baru (1950-an) yang dididik di Indonesia dan berorientasi kedaerahan. Kedua generasi itu hidup berdampingan dan saling mewarnai. Kedua generasi tersebut ada dalam kelompok ideologis seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dominan pada tahun 1960-an.

Pada tahun 1960-an merupakan periode tergelap dalam sejarah maupun kesusastraan Indonesia.  Selama periode ini, Lekra dan Manikebu terdapat banyak pergolakan yaitu saling menyerah dan saling menjatuhkan. Pergolakan tersebut terjadi karena tumpang tindih perbedaan dasar-dasar dalam berkarya. Lekra yang mendukung realisme sosial, sedangkan Manikebu menganut humanisme universal.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada tahun 1961, Lekra yang merupakan organisasi PKI yang memperjuangkan komunisme yang dideklarasikan sebagai lembaga budaya yang menganut slogan "Politik adalah panglima". Manifes Kebudayaan (Manikebu) adalah sebuah konsep atau gagasan di bidang budaya, reaksi terhadap ketakutan budaya yang ditimbulkan oleh masyarakat Lekra saat itu. Manifest budaya harus dihapuskan dari Indonesia karena dituduh anti-manifest dan kontrarevolusioner.

Di masa pemerintahan Soekarno, perbedaan ideologi yang tajam nasionalisme, agama, komunisme juga berdampak langsung terhadap perkembangan sastra Indonesia, yakni dengan merasuknya ideologi dalam diri sastrawan maupun dalam karya sastra yang dihasilkan. Karena hal itu, Lekra memiliki paham-paham realisme sosialis yang menjadi filsafat seni komunis. Pemahaman ini mengandaikan "seni untuk manusia". Di sisi lain, pengarang dari Manifes Kebudayaan memiliki konsep universal humanisme yang menetapkan yaitu "seni untuk seni".

Foulcher melihat bahwa perkembangan awal sastra Indonesia di masa Orde Baru adalah pemekaran karya-karya sastra yang tidak mendapat tempat pada awal tahun 1960-an sampai tahun 1965, ketika kesetiaan terhadap politik masih dominan. Di bidang prosa, terdapat Danarto yang menciptakan cerpen berjenis fantasi. Cerpen yang dibicarakan Foulcher adalah “Rintrik”, yang mendapat penghargaan dari majalah Horison pada 1968.

Di bidang puisi, terdapat Subagio Sastrowardoyo yang menggunakan pengungkapan simbolik dalam puisinya, “Salju”, yang terdapat dalam Daerah Perbatasan (1970). Danarto dan Subagio Sastrowardoyo secara paradoksal tidak mempercayai kata-kata, sebab kata-kata memaksakan definisi yang kaku tentang pengalaman, mereka menoleh kepada penggunaan simbolisme yang sangat pribadi dan individualistik, untuk menangkap makna pengalaman.

Pada periode 1971-1998 terdapat pembaharuan berbagai genre. Setelah melewati masa-masa yang penuh konflik, kesusastraan Indonesia menapaki tahap pematangan dengan munculnya bentuk-bentuk sastra yang jauh meninggalkan konvensi seperti sastra eksperimentasi yang didorong oleh banyaknya minat anak muda untuk menulis karya sastra, majalah sastra yaitu Horison. Selain munculnya majalah yang memuat puisi-puisi mbeling, semarak pula periode ini dengan majalah-majalah khusus wanita yang itu mengentalkan tradisi sastra populer di Indonesia.

Pada periode ini melahirkan beberapa sastrawan atau pengarang perempuan, salah satunya yang menonjol pada masa itu adalah N.H. Dini dan Titie Said. Dini aktif menulis pada tahun 1950-an dan menghasilkan kumpulan cerpen Dua Dunia (1956). Setelah itu, Dini menghasilkan novel Hati yang Damai (1961), ketika dini ke Jepang, ia menghasilkan tulisan Namaku Hiroko kemudian Pada Sebuah Kapal. Selain itu, Titie Said juga menghasilkan beberapa karya, seperti cerpen dan dibukukannya dalam Perjuangan dan Hati Perempuan (1962). Adapun tokoh lainnya juga, yaitu: Enny Sumargo menulis novel Sekeping Hati Perempuan (1969), S. Tjahjaningsih, menulis kumpulan cerpen Dua Kerinduan (1963), Sugiarti Siswadi, menulis kumpulan cerpen Sorga di Bumi (1960).

Berdasarkan penjelasan di atas mengenai konflik, tokoh, dan karya memberikan pemahamahan kepada kita bahwa setiap periodisasi sastra memiliki ciri khasnya masing-masing.

Sumber:
Erowati, Bahtiar. Sejarah Sastra Indonesia. Tangerang Selatan: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011.

Ikuti tulisan menarik SITI SAROH lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB