Ambisi Membawa Alpa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ketika pemenang mendekati titik tertinggi mendapatkan cahaya baru.

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 3 Juli 2022 15:25 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ambisi Membawa Alpa

    Nenek moyang kita memiliki sebuah peribahasa yang indah dan sarat makna. Inilah salah satunya.

    Dibaca : 845 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Filosofi  kehidupan orang Jawa adalah salah satu pokok bahasan menarik yang pernah kita bahas kemarin.  Sekarang mari kita bahas lagi filosofi kehidupan orang Jawa yang tercermin dari peri bahasanya. 

    Kita sudah lama berkelana secara maya, yaitu berkelana di alam pikiran banyak tokoh dan pakar manca negara.  Kita sudah berkenalan dengan pemikiran banyak orang manca yang luar biasa.  Mereka mencerahkan dan meluaskan cakrawala pemikiran kita.  Maka sekarang kita pulang ke negri sendiri.  Kita tengok peninggalan budaya dari nenek moyang kita.    Apakah mereka meninggalkan budaya yang adi luhung?  Ternyata mereka meninggalkan warisan budaya banyak sekali, antara lain peribahasa yang mencerminkan pemikiran mereka yang unggul.  Mari kita bahas.

    Di Jawa Tengah dan Yogyakarta saya sering melihat hiasan dinding berupa lukisan kaca dengan gambar Punokawan – Petruk berpakaian seperti raja dengan Semar, Bagong, Gareng dan seorang perempuan.   Ada kalimat yang tertulis dalam huruf Jawa atau Latin, “Mélik nggéndong lali” .  Tentu saja di masa kecil saya tidak paham artinya dan tidak berminat bertanya ke orang tua saya.  Ketika sedang Kuliah Kerja Nyata saya melihat lagi lukisan itu di rumah seorang warga desa.

    Arti kalimat mélik nggéndong lali

     

    Sengaja saya memakai tanda baca seperti yang dipakai dalam bahasa Prancis untuk menjelaskan ucapan “Mélik nggéndong lali”.   Dalam kata ‘mélik’ dan ‘nggéndong’ ada tanda yang dalam bahasa Prancis disebut sebagai ‘accent aigu’.  Jika anda tanda tersebut maka huruf di bawahnya dibaca seperti dalam kata ‘lélé’.  Dengan cara ini jelas kan cara ucapannya?  Kemudian kita bahas artinya.

    Mélik’  dalam kalimat tersebut adalah sebuah kata benda yang berfungsi sebagai subyek kalimat, artinya nafsu ingin memiliki harta atau kekuasaan.  Kata  ‘nggéndong’ sebagai predikatnya sudah masuk ke bahasa Indonesia, artinya memondong, membawa, seperti menggendong bayi dsb. Kata ‘lali’ sebagai obyeknya, artinya lupa.  Jadi arti harafiah semuanya - nafsu memiliki membawa lupa. Maksudnya nafsu memiliki harta dan kekuasaan bisa membuat manusia lupa kepada aturan Allah dan aturan hukum.

    Rambu kehidupan

     

    Jadi kalimat mutiara ini adalah cerminan pemikiran nenek moyang kita tentang filosofi kehidupan.  Inilah local wisdom  yang luarbiasa dari nenek moyang kita.  Mereka sudah mengingatkan agar kita tidak menjadi hamba sahaya dari kekuasaan dan harta duniawi.  Mereka mengingatkan agar kita tidak menuruti nafsu memiliki harta dan kekuasaan.  Karena banyak sekali manusia yang lantas menghalalkan segala cara, artinya menganggap semua cara adalah benar, untuk mendapatkan harta dan kekuasaan, sehingga mereka melanggar hukum negara dan hukum Allah swt.   Mereka lupa dengan aturan Allah swt akibatnya bukan kebahagiaan yang didapat tapi justru penderitaan.  Tidak sedikit yang terkena hukuman di dunia.  Mungkin ada juga yang lolos dari hukuman di dunia tapi pasti tidak akan lolos dari hukuman di akherat. 

     

    Hakekatnya orang orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dan kuasa itu adalah orang yang terjajah nafsunya sendiri. Mereka orang kerdil meskipun hartanya banyak.  Kerdil, kecil kekuatannya melawan nafsunya.

     

    Itu adalah salah satu jebakan dalam kehidupan yang harus diwaspadai agar kita selamat di dunia dan di akherat.  Sungguh bijaksana sekali nenek moyang kita.  Agaknya mereka mampu belajar dari sejarah panjang yang sudah dilalui. Di masa lalu agaknya sudah banyak orang yang terjebak dalam tindakan ini sehingga nenek moyang kita memberi peringatan agar kita tidak tersandung dalam jebakan yang sama.  Nenek moyang kita sudah melihat pola itu dan mengharapkan kita selamat dunia dan akherat. 

    Jadi kalimat itu sejatinya adalah rambu kehidupan. Dengan kata lain semacam rambu lalu lintas dalam perjalanan hidup.

    Relevansi dengan parenting

     

    Anda mungkin bertanya, apa relevansinya dengan parenting?    Jelas ada relevansinya.  Kita sebagai orang tua harus memberi contoh, tidak hanya omongan, kepada anak anak keturunan kita.  Jadi kita sebagai orang tua harus menjaga agar jangan sampai melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah swt agar dicontoh oleh anak cucu  kita.

     

    Kuncinya adalah menghambakan diri secara total kepada Allah swt.  Kita selalu memohon petunjuk, tuntunan, rejeki halal, perlindungan dsb.

    Ringkasan

     

    Kehidupan duniawi memang banyak menyesatkan. Banyak godaan untuk menggapai sukses dengan menghalakan semua cara.  Nafsu memiliki itu membuat manusia lupa kepada Allah swt.  Maka nenek moyang kiat menganjurkan agar kita jangan sampai dikuasai oleh nafsu ingin memiliki harta dan jabatan setinggi tingginya dengan melanggar aturan Allah swt. Dalam kaitannya dengan parenting kita sebagai orang tua harus memberi kata dan contoh agar anak keturunan kita tidak terpedaya oleh nafsu itu.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.