Moral Linguistik - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rani Puspita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Juli 2022

Senin, 4 Juli 2022 18:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Moral Linguistik

    Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Untuk memahami linguistik, di dalam bab ini sudah diuraikan bagaimana sifat-sifat bahasa dengan tujuan agar para pembaca dapat membedakan pemakaian kata bahasa sebagai kata yang lazim dipakai oleh masyarakat umum dan sebagai istilah teknis yang mempunyai pengertian khusus dalam linguistik.

    Dibaca : 235 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Untuk memahami linguistik, di dalam bab ini sudah diuraikan bagaimana sifat-sifat bahasa dengan tujuan agar para pembaca dapat membedakan pemakaian kata bahasa sebagai kata yang lazim dipakai oleh masyarakat umum dan sebagai istilah teknis yang mempunyai pengertian khusus dalam linguistik.

    Pada bagian ini kita juga akan membicarakan linguistik sebagai ilmu. Dengan demi kian, Anda dapat secara cermat menandai konsep ilmu dan pendekatan ilmiah di dalam linguistik serta secara mendalam dapat memahami perbedaan pendekatan linguistik dan pendekatan lain kepada bahasa yang lazim dalam dunia pengajaran di Indonesia dewasa ini.

    Linguistik dipelajari dengan pelbagai maksud dan tujuan. Bagi sebagian orang, ilmu

    Letak Keilmiahan Linguistik

    Adalah wajar bila kita bertanya di mana letak keilmiahan linguistik. Para pemikir ilmu pengetahuan di luar maupun di dalam bidang linguistik pada umumnya sepakat bahwa setiap usaha yang memakai sifat ilmiah harus memenuhi tiga syarat, yaitu syarat keeks plisitan, syarat kesistematisan, dan syarat keobjektifan.

    Syarat keeksplisitan dipenuhi dengan menyatakan secara jelas kriteria yang menda sari suatu penelitian dan menyusun peristilahan secara jelas dan konsisten. Kriteria yang eksplisit diperlukan oleh seorang penyelidik untuk menandai apa-apa yang diteliti nya. Misalnya, jika hendak menyelidiki kalimat dalam bahasa Indonesia, kita harus mengetahui dan kemudian menentukan apa saja yang ada dalam sesuatu yang disebur kalimat itu, sehingga bagi orang lain jelas apa yang kita maksud. Peristilahan yang kon sisten pun merupakan syarat pendekatan ilmiah. Definisi istilah-istilah yang kita pakai harus jelas dan tidak boleh ada kontradiksi antara satu istilah dan istilah lain.

    Seorang pemikir ilmu pengetahuan bernama EN. Kerlinger mengatakan bahwa pendekatan ilmiah adalah bentuk pemikiran dan pencarian yang sistematis.

    Untuk memenuhi syarat kesistematisan, setiap ilmu menyusun prosedur standar yang harus dipergunakan dalam penelitiannya. Dalam hal ini, peneliti memulai analisisnya dengan melihat pelbagai aspek dari data dan menghubungkan 

    aspek-aspek yang lain dengan titik tolak itu. Seorang ahli bahasa yang menyelidiki bunyi bahasa akan memulai pene litiannya dengan menentukan apa yang dimaksud dengan vokal dan konsonan. Kemu dian, ia akan menyelidiki bagaimana satuan-satuan yang lebih besar seperti kata, kali mat, dan sebagainya. Setelah itu, ia akan menyelidiki makna. Pada akhirnya, ia menyelidiki bunyi yang menjadi tujuan semula penelitiannya.

    Tahap-tahap dalam Penelitian Linguistik

    Dapat dikatakan pula bahwa letak keilmiahan penelitian di dalam akcelera pada tahap rahap yang dilalui oleh disiplin ilmu lain. Tahap tahap itu adalah taha spekulasi, tahap observasi dan klasifikasi, serta tahap perumusan teor Tahap spekulasi dapat dijelaskan melalui contoh berikut. Dulu orang mengira babes

    Semua bahasa di dunia ini diturunkan dari bahasa Ibrani, karena Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani di Taman Firdaus. Suku Dayak Iban di Kalimantan mem punyai legenda yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu manusia hanya mempuny satu bahasa, tetapi karena mereka keracunan cendawan, mereka mulai berbicara dalam pelbagai bahasa sehingga timbul kekacauan, dan manusia berpencar ke segala penjuru dunia. Itu semua tentu saja hanya spekulasi yang pada zaman ini sulit diterima.

    Di dalam tahap observasi dan klasifikasi, para ahli mengumpulkan dan menggolong golongkan segala fakta secara teliti, tanpa memberikan teori apa pun. Tahap ini dialami, misalnya, dalam penelitian yang dijalankan sarjana-sarjana Belanda terhadap bahasa bahasa di Indonesia sebelum zaman kemerdekaan. Sekarang cara pendekatan semacam ini masih diperlukan karena banyak bahasa di Indonesia belum diselidiki. Namun, pen dekatan demikian belumlah dapat dikatakan "benar-benar ilmiah" karena ilmu yang marang bukan hanya merupakan kumpulan fakta belaka, ilmu yang matang harus meng alami tahap tersebut di bawah ini.

    Di dalam tahap perumusan teori, suatu disiplin ilmu berusaha memahami masalah masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah itu. Kemudian, dirumuskanlah hipotesis atau teori yang berusaha menjawab pertanyaan pertanyaan itu dan disusunlah tes untuk menguji hipotesis-hipotesis itu terhadap fakta fakta yang ada. Di dalam kajian linguistik dewasa ini, tahap ketiga tersebut diakui pentingnya. Untuk dapat diterima, suatu teori harus

     

    Runtas, artinya dapat mencakup semua fakta;

     

    ⚫ konsisten, artinya tidak mengandung pernyataan-pernyataan yang saling berten tangan;

     

    ⚫ sederhana, artinya mengungkapkan pernyataan-pernyataan secara lugas tentan data.

     

    Ikuti tulisan menarik Rani Puspita lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.