Perbedaan dan Persamaan Cerita Malin Kundang dan Dompu Awang; Pendekatan Sastra Bandingan - Analisis - www.indonesiana.id
x

BAMBANG IRAWAN

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Juli 2022

Selasa, 5 Juli 2022 09:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Perbedaan dan Persamaan Cerita Malin Kundang dan Dompu Awang; Pendekatan Sastra Bandingan

    

    Dibaca : 304 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PENDAHULUAN
     
    Indonesia yang terdiri dari ratusan pulau mengakibatkan munculnya berbagai kebudayaan yang berbeda-beda antara komunitas sosial yang satu dan komunitas yang lainnya. Perbedan tersebut membuat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa kaya di bidang budaya, termasuk di dalamnya cerita rakyat yang pernah hidup dan berkembang. Pola kehidupan suatu komunitas sosial dapat dilihat dari cerita rakyat yang dimilikinya.
     
      Hal tersebut disebabkan cerita rakyat merupakan pencerminan dari kehidupan masyarakat pada saat itu, pola pikir dan khayalan yang menarik, sehingga masyarakat merasa tertarik dan memperoleh keteladanan moral. Keteladanan moral dalam cerita rakyat terepresentasi dari hubungan antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan alam semesta, antara manusia dengan manusia lain sebagai individu, antara manusia dengan masyarakat sosialnya, dan antara manusia dengan dirinya sendiri.
      
       (Nurgiyantoro, 2000,hlm. 324) Zulfahnur dkk. (1997, hlm. 43—44)menyatakan bahwa dongeng (cerita rakyat)meupakan suatu cerita fantasi yang kejadian-kejadiannya tidak benar-benar terjadi.Dongeng disajikan dengan cara bertutur lisan oleh tukang cerita. Pada umumnya dongeng berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan kebudayaan primitif terhadap hal-hal yang supranatural dan manifestasinya dalam alam kehidupan manusia seperti animisme.
     
    Bagi manusia dongeng berfungsi sebagai hiburan, kepercayaan yang bersifat didaktik, yaitu pengajaran moral dan nasehat bagi kehidupan sehari-hari, dan sebagai sumber pengetahuan. Perkembangan dan pesebaran suatu cerita rakyat dilakukan secara lisan atau dilakukan dari mulut ke mulut. Misalnya, pada saat orang tua menidurkan anak, biasanya akan menggunakan media cerita rakyat sebagai pengantar tidur. Tukang cerita yang menceritakan sebuah cerita kepada pendengar.
     
    Dalam proses penyebarannya itulah akan muncul persamaan dan perbedaan karena yang menuturkan berbeda. Bahkan ada kalanya dua cerita rakyat yang hidup dan berkembang di komunitas yang berbeda memiliki persamaan motif ataupun jalan cerita. Namun karena keduacerita dilahirkan, hidup dan berkembang di masyarakat yang berbeda, maka kedua cerita yang memiliki kesamaan ters ebut pasti memiliki perbedaan. Salah satu faktor penyebabnya adalah suatu karya sastra tidak bisa dipisahkan dari lingungan sosial yang adadi sekitarnya. Untuk menelaah kedua cerita tersebut, seorang peneliti dapat menggunakan pendekatan sastra bandingan. Karya sastra, termasuk cerita rakyat,diciptakan bukan dari sesuatu yang kosong.
       
     Seseorang menciptakan karya sastra dengan menampilkan permasalahan sosial yang muncul dalam kenyataan sosial, sehingga karya sastra tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor sosial budaya yang ada dalam suatu komunitas sosial (Damono, 1997, hlm. 3). Dalam cerita rakyat tersirat nilai moral sosialyang dapat dijadikan sebagai pendidikan budi pekerti. Oleh karena itulah cerita rakyat menjadi sarana atau media transformasi nilai-nilai kebaikan yang paling murah dan efektif.
     
    Cerita Malin Kundang dan cerita Dampu Awang adalah dua cerita rakyat yang dimiliki oleh komunitas sosial yag berbeda. Cerita Malin Kundang adalah cerita yang muncul, tumbuh, dan berkembang di komunitass osial Sumatra Barat. Cerita Dampu Awang adalah cerita yang dimiliki oleh komunitas sosial Sumatra Selatan. Kedua cerita tersebut memiliki motif yang sama, yaitu anak durhaka kepada orang tua. Selain memiliki kesamaan kedua cerita tersebut memiliki perbedaan. Untuk menemukan persamaan dan perbedaan kedua cerita tersebut dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan.
     
    Menurut Wellek dan Warren (1989, hlm.40), istilah sastra bandingan pertama dipakaiuntuk kajian studi sastra lisan, cerita rakyat dan migrasinya, bagaimana dan kapan ceritarakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik. Istilah sastra bandingan dalam hal ini, mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh. Lebih lanjut
     
       Darma (2007, hlm.53), mengatakan bahwa sastra bandingan lahir dari kesadaran bahwa sastra tidak tunggal,namun sastra itu plural, serta semua sastra ada kesamaan-kesamaan dan perbedaan- perbedaannya. Di Eropa terdapat bahasa,negara, ras, agama, budaya yang berbeda- beda, tetapi dipersatukan oleh mitologi Yanani/Latin.
     
    Sementara itu, Indonesia terdapat cerita/mitologi, suku, bahasa ibu, budaya, agama, kepercayaan, dan situasi daerah yang berbeda-beda, tetapi disatukan oleh NKRI dan Bahasa Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesamaan dapat terjadi karena masalah manusia, sebagaimana yang terekam dalam sastra, pada hakikatnya universal, dan perbedaan-perbedaan terjadi karena mau tidak mau sastra didominasi oleh situasi dan kondisi tempat anisalnya.
     
    Berdasarkan pada hal tersebut, persoalan yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimanakah persamaan dan perbedaan struktur cerita Malin Kundang dan cerita Dampu Awang Bagaimanakah pola unsurc erita Malin Kundang dan cerita Dampu Awang?
     
    Tujuan penelitian ini mendeskripsikan persamaan dan perbedaan struktur cerita Malin Kundang dan cerita Dampu Awang. Selain itu, penelitian ini juga memiliki tujuanmen deskripsikan pola unsur cerita Malin Kundang dan cerita Dampu Awang Menurut pengamatan penulis, hingga saat 8ini telah banyak penelitian yang mengambil objek dalam sastra bandingan.
     
    Namun, berdasarkan katalog-katalog penelitian dan pencarian yang penulis lakukan, dari penelitian-penelitian tersebut belum pernah ada yang menggunakan objek material cerita rakyat Malin Kundang dari Sumatra Barat dengan cerita rakyat Dampu Awang dari Sumatra Selatan. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa penelitian yang membandingkan kedua cerita rakyat tersebut belum pernah dilakukan.
     
    Setyaning  Nur Asih (2011) yang berjudul “Perbandingan Pencitraan Tokoh Utama Wanita dalam Novel Tumtesing Luh Karya Any Asmara dengan Roman Mbok Randa Saka Jogja”. Dalam penelitian tersebut peneliti membandingkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi tokoh wanita utama dalam novel Tume tesing luh dan tokoh wanita utam adalam roman yang berjudul Mbok Randa Saking Jogja. Tulisan ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu.
     
    Penelitian ini memfokuskan pada anasir instrinsik yang terdiri dari tokoh,alur, dan latar. Selain itu, penelitian ini juga memfokuskan pada persamaan pola kedua cerita rakyat yang berasal dari Sumatra tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Oktavia,lukiana wati yang berjudul Analisis Bandingan Unsur Intrinsik Legenda “Asal-Usul Danau Toba” dan Mukashi Banashi “Tsuru no Hanashi”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Legenda “Asal-Usul Danau Toba” dan mukashi banashi “Tsuru no Hanashi” merupakan cerita prosa rakyat yang berasal dari dua negara berbeda, namun kedua cerita ini memiliki kemiripan.
     
    Kemiripan tersebut muncul di unsur instrinsiknya, seperti tema, sudut pandang, dan alur. Sedangkan perbedaannya terdapat dalam unsur tokoh dan penokohan. Selain itu, perbedaan juga dapat dilihat di latar budaya kedua cerita tersebut. Kemudian Yoga Noldy Perdana melakukan penelitian terhadap struktur naratif Rakyat Momotarou dengan Timun Emas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa muncul persamaan secara instrinsik dari kedua cerita rakyat tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang telah dilakukan. Perbedan tersebut terletak pada objek penelitian. Penelitian yang penulis lakukan ini menggunakan objek material dua cerita rakyat yang berasal dari pulau yang sama, yaitu Sumatra, tetapi memiliki latar belakang sosial, budaya, dan politik yang berbeda.
     
    Untuk memecahkan masalah danmencapai tujuan tersebut di atas, penelitian inimenggunakan teori sastra bandingan. Sastra bandingan merupakan salah satu dari sekian banyak pendekatan yang ada dalam ilmu sastra. Pendekatan sastra bandingan pertama kali muncul di Eropa awal abad ke-19. Idetentang sastra bandingan dikemukan oleh Sante-Beuve dalam sebuah artikelnya yang terbit tahun 1868  (Damono, 2005, hlm. 14).Dalam artikel tersebut dijelaskanya bahwa pada awal abad ke-19 telah muncul studi sastra bandingan di Prancis. Sedangkan pengukuhan terhadap pendekatan perbandingan terjadi ketika jurnal Revue Litterature Comparee diterbitkan pertama kali pada tahun 1921.
     
       Damono (2005, hlm. 7), menyatakan tidaklah benar jika dikatakan bahwa sastra bandingan sekedar mempertentangkan dua sastra dari dua negara atau bangsa yang mempuyai bahasa yang berbeda, tetapi sastra bandingan lebih merupakan suatu metode untuk memperluas pendekatan atas sastra suatu bangsa saja.
     
    Hal senada diungkapkan oleh Basnett (1993, hal. 1), yang menyatakan bahwa sastra bandingan adalah studi teks lintas budaya, berciri antar disiplin dan berkaitan dengan polahubungan dalam kesusastraan lintas ruangdan waktu. Sesuai dengan pendapat Basnettini, kajian sastra bandingan setidak-tidaknya harus ada dua objek sastra yang dibandingkan.Kedua objek karya sastra itu adalah karya sastra dengan latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan latar belakang budaya itu dengan sendirinya juga berbeda dalam ruang dan waktu. Dari pendapat tersebut dapat dinyatakan bahwa kajian bandingan tidak hanya sekadar mempertentangkan dua sastra dari dua negara yang berbeda yang secara otomatis memiliki perbedaan bahasa. Kajian bandingan tidak hanya terbatas pada sastra antar bangsa,tetapi juga sesama bangsa sendiri, misalnya antar pengarang, antargenetik, antar zaman,antar bentuk, dan antar tema.
     
    Menurut Kasim (1996, hlm. 17-18),kajian sastra bandingan mempunyai empat sifat. Keempat sifat itu diantaranya: (1) kajian bersifat komparatif; (2) kajian bersifat historis;(3) kajian bersifat teoretis; dan (4) kajian bersifat antar disiplin
     
    1. Kajian bersifat Komparatif Kajian bersifat komparatif menitik beratkan pada penelaahan teks karya sastra yang dibandingkan, seperti studi pengaruh.
    2. Kajian bersifat historis Kajian bersifat historis memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatar belakangi antara karya sastra dengan karya sastra lainnya atau antar satu kesusastraan dengan kesusastraan lain,atau suatu karya sastra dengan masalah sosial dan filsafat.
    3. Kajian bersifat teoretis Kajian bersifat teoretis adalah kajian pada bidang konsep, kriteria, batasan,atau aturan-aturan dalam berbagai bidang kesusastraan. Misalnya konsep mengenai aliran, genre, bentuk, teori, ataupun kritik sastra.
    4. Kajian bersifat antardisiplin Di dalam kajian yang bersifat antar disiplin merupakan kajian yang cenderung berfokus pada aliran Amerika. Kajian ini membandingkan antara karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan seni yang lain. Dalam melakukan analisis karya sastra dengan menggunakan pendekatan komparatif ,
     
    Francoist Jost (Endraswara, 2011, hlm. 178— 179) menyatakan bahwa terdapat empat tahap analisis sastra bandingan. Keempat tahap tersebut yaitu ,1. mencermati karya sastra satu dengan lainnya, termasuk dalam hal ini adalah interdisipliner sastra bandingan, seperti sosiolog,filsafat, psikologi; kategori yang mengkaji tema karya sastra; 2. kategori yang mengkaji tema karya sastra; 3. kategori yang menganalisis gerakan atau kecenderungan yang menandai suatu peradaban, misalnya realisme dan renaisance; serta 4. analisis bandingan antara genre satu dengan genre yang lain
     
    METODE PENELITIAN
     
    Metode yang digunakan dalam penelitianini adalah metode deskriptif.data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih ditekankan pada teknik analisisisi.
    Krippendorf (1993, hlm. 15) menyatakan bahwa analisis isi merupakan suatu teknikuntuk membuat inferensi melalui data yang sah dengan memperhatikan konteksnya.Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis kedua cerita rakyat tersebut adalah pendekatan struktural dan kajian bandingan.Dalam menelaah kedua cerita rakyat tersebut,prosedur penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut; pertama, dengan melakukan studi pendahuluan,yakni studi literatur mengenai kajian sastra bandingan. Studi literatur dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai sastra bandingan. Hasil dari studi pendahuluan ini dijadikan sebagai dasar penentuan konsep-konsep yang akan diteliti; kedua,mendeskripsikan persamaan dan perbedaan secara tekstual yang terdapat dalam kedua cerita rakyat tersebut. Dalam hal ini, akan dilakukan penelaahan teks untuk menemukan persamaan dan perbedaan kedua cerita rakyat Malin Kundang dan Dampu Awang.
     
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Alur.
     
    Cerita rakyat Malin Kundang (MK) dan Dampu Awang (DA) memiliki alur atau plot yangtersusun secara konvensional. Peristiwa- peristiwa yang terjadi di dalam cerita disusun demikian rupa hingga peristiwa mengalir menuju klimaks dan sampai di anti klimaks.Kejadian-kejadian terjadi secara periodik,yaitu disusun berurutan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dalam kajian perbandingan ini, bandingan alur kedua cerita rakyat tersebut dianalisis dari peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang membangun alur cerita rakyat MK dan DA.
    Persamaan Alur.
    Salah satu unsur terpenting dalam suatu karya, apapun genrenya adalah alur atau plot.Dalam alur atau plot peristiwa atau kejadian dalam cerita tersusun sehingga membentuk sebuah karya. Peristiwa yang muncul pada plot adalah peristiwa yang disebabkan oleh lakuan tokoh-tokohnya. Plot merupakan pola keterhubungan antar peristiwa didasarkan pada efek kausalitas.MK dan DA sama-sama diawali dengan pengenalan cerita yang berupa penderitaan orang tua, ibu, dan anaknya karena kemiskinan yang mengungkung dan membatasi semua ruang gerak atau ruang lingkup mereka sehingga kehidupan sosial tokoh ini sangat lah sulit. Ayah tokoh dalam cerita rakyat ini sama-sama sudah meninggal sehingga tokoh Ibu harus bekerja keras untuk menghidupi dan mencukupi semua kebutuhan hidup. Tokoh Malin Kundang dan Dampu Awang adalah sosok anak yang sangat mengerti kondisi orang tuanya sehingga mereka membantu ibunya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hingga suatu saat kedua tokoh ini memutuskan untuk meninggalkan sang Ibu dan pergi kekota untuk mengadu nasib. Mula-mula sang Ibu keberatan ditinggal pergi oleh anaknya.Karena kasih sayang kepada anaknya lah yang akhirnya membuat sang Ibu merelakan anaknya pergi ke kota dengan pesan jika sang anak sudah berhasil sang anak tidak boleh melupakan orang tua dan kampung halaman.“Bu, saya ingin pergi ke kota. Saya ingin kerja untuk bisa bantu Ibu di sini.
    “Jangan tinggalkan ibu sendiri, nak. Ibuhanya punya kamu di sini.” Kata sang Ibu menolak.
    “Izinkan saya pergi, bu. Saya kasihan melihat ibu terus bekerja sampai sekarang. ”Kata Malin.
    “Baiklah nak, tapi ingat jangan lupakan ibu dan desa ini ketika kamu sukses disana.” Ujar sang ibu berlinang air mata.
    Karena kehidupan mereka yang sangat miskin itu, maka mereka sepakat untuk menjual tongkat emas itu ke Palembang.Sebelum berangkat ibu Dampu Awang berpesan,
    “Kalau nanti kamu sudah kaya, jangan lupa dengan ibumu ini.”
    “Ya Bu...” jawab Dampu Awang.
    Koflik mulai bergerak pada saat sang anak mereguk kesuksesan di daerah rantau.Malin Kundang dan Dampu Awang berubah menjadi sosok saudagar muda yang kaya raya dan memiliki kapal besar yang mewah dan megah. Pada saat pulang ke kampung halaman Malin Kundang dan Dampung Awang tidak mau mengakui sang ibu sebagai orang tuanya karena sang ibu sangat miskin dan pakaiannya sangat dekil. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
    “Jadi wanita tua, bau, dekil ini adalah ibukamu, Malin”
    Karena rasa malu, Malin Kundang pun segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga jatuh.
    “Saya tidak kenal kamu wanita tua miskin” kata Malin.
    “Dasar wanita tua tak tahu diri, Sembarang saja mengaku sebagai ibuku.” Lanjut Malin membentak.
     
    Setelah bertemu dengan perempuan itu Dampu Awang menjadi marah . Dampu Awang tidak mau megakui orang tuanya sebagai ibunya.
    “Ibuku tidak miskin dan jelek sepertikamu.” Kata Dampu Awang.
    Penyelesaian dari kedua cerita rakyat ini adalah munculnya kutukan dari orang tua.Kutukan muncul karena sang anak tidak maumengakui dirinya sebagai ibu kandung. Hal ini membuat sang ibu marah dan menganggap sang anak telah durhaka. Sang Ibu mengutuk putranya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.Mendengar perkataan anak kandungnya seperti itu, sang ibu merasa sedih dan marah. Ia tidak menduga, anak yang sangat disayanginya berubah menjadi anak durhaka.
     
    “Oh Tuhan ku yang kuasa, jika dia adalah benar anak ku, Saya mohon berikan azab padanya dan rubah lah dia jadi batu.” Doa sang ibu murka.
    Terdorong Rasa malu di hadapan pendudku yang mengerumuninya, maka ibu Dampu Awang berkata:
    “Kalau kamu benar-benar tidak mau mengaku aku sebagai ibumu, Tuhan akan mengutukmu...!” Setelah itu perempuan tua itu pergi.
     
    Perbedaan Alur
     
    Perbedaan alur yang terdapat dalam MK dan DA ditemukan pada bagian-bagian tertentu. Perbedaan alur terletak pada bagian pengenalan dan penyelesaian.
     
    Tahap perkenalan
     
    Cerita MK di bagian awal diceritakan jika tokoh Malin Kundang ke kota untuk merantau.Tokoh Malin Kundang ingin memperbaiki nasibnya dan orang tuanya dengan bekerja keras di kota. Kemiskinan membuat tokoh ini harus bekerja keras sehingga dia kesuksesan akhirnya berhasil didapat. Hal ini berbeda dengan bagian awal yang terdapat dalam cerita DA. Dalam cerita DA tokoh Dampu Awang ke kota tidak untuk bekerja, tetapi menjual tongkat emas yang didapatkannya dari seorang kakek tua melalui mimpi. Dengan modal menjual tongkat emas, Dampu Awang menjadi seorang pedagang yang pada akhirnya membuat dia menjadi seorang saudagar muda kaya dan memiliki banyak kapal dagang.
     
    Secara singkat dap at dikatakan bahwa tokoh Malin Kundang merntau ke kota dan bekerja tanpa modal. Sedangkan tokoh Dampu Awang ke kota dan memiliki modal untuk membuka usaha. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.Malin adalah anak yang pintar tapi sedikit nakal. Ketika dia beranjak dewasa, Malin merasa kasihan pada ibunya yang sedari dulu bekerja keras menghidupinya.Kemudian Malin meminta izin untuk merantau mencari pekerjaan di kota besar.
     
    “Bu, saya ingin pergi ke kota. Saya ingin kerja untuk bisa bantu ibu di sini.” Pinta Malin.
    “Jangan tinggalkan ibu sendiri, nak. Ibu hanya punya kamu di sini.” kata sang ibu menolak.
    “Izinkan saya pergi, bu. Saya kasihan melihat ibu terus bekerja sampai sekarang.”kata Malin.
    “Baiklah nak, tapi ingat jangan lupakan ibu dan desa ini ketika kamu sukses disana” Ujar sang ibu berlinang ari mata.
     
    Keesokan harinya Malin pergi ke kota besar dengan menggunakan sebuah kapal.Setelah beberapa tahun bekerja keras,dia berhasil di kota rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Dan Malin pun sudah menikah dengan Wanita cantik di sana
    .“Dampu Awang, kalau kamu ingin kaya ambil lah tongkat emas yang terletak dirumpun bambu di sebelah rumahmu.”
    “Pagi harinya Dampu Awang menuju ke tempat rumpun bambu itu. Di situ ditemukannya sebuah tongkat yang terbuat dari emas murni. Dampu Awang dan ibunya sangat gembira memperoleh tongkat itu.Karena kehidupan mereka yang sangat miskin itu, maka mereka sepakat untuk menjual tongkat emas itu ke Palembang.
    Penyelesaian
    Penyelsaian cerita rakyat MK adalah tokoh Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh ibunya setelah dia tidak mau mengakui orang tuanya karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Malin Kundang malu terhadap istrinya karena kondisi orang tuanya yang sangat miskin dan tidak terurus. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
    Mendengar perkataan anak kandungnya seperti itu, sang ibu merasa sedih dan marah. Ia tidak menduga, anak yang sangat disayanginya berubah menjad ianak durhaka.
    “Oh Tuhan ku yang kuasa, jika dia adalah benar anak ku, Saya mohon berikan azab padanya dan rubah lah dia jadi batu.” Doa sang ibu murka.
    Tidak lama kemudian angin dan petir bergemuruh menghantam dan menghancurkan kapal Malin Kundang.Setelah itu, Tubuh Malin Kundang kaku dan kemudian menjadi batu yang menyatu dengan karang.
       Kedurhakaan Dampu Awang terhadap ibu.nya membuat sang ibu marah. Emosi sang ibu tidak terbendung lagi ketika melihat anak laki-lakinya malu dan tidak mau mengakui dirinya sebagai orang tua. Kemiskinan yang membelenggu sang ibulah yang membuat tokoh Dampu Awang tidak mau mengakui tokoh ibu sebagai orang tuanya.
    Kekecewaan,kesedihan, dan kemarahan tokoh sang Ibu membuat tokoh ibu mengeluarkan kutukan untuk anaknya. Tokoh Dampu Awang dikutuk menjadi burung elang. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
    “Orang tua itu menahan kesabarannya sambil menunjukkan sambal calauk kesenangn Dampu Awang. Tetapi Dampu Awanng tetap murka bahkan ia mengusir perempuan tua itu. Terdorong Rasa malu dihadapan penduduk yang mengerumuni nya,maka ibu Dampu Awang berkata:
    “Kalau kamu benar-benar tidak maumengaku aku sebagai ibumu, Tuhan akan mengutukmu...!”
    Setelah itu perempuan tua itu pergi.Dalam beberapa saat saja ada seekor ular menuju ke perahu Dampu Awang. Ular itu mengejar Dampu Awang. Dampu A wang lari ketakutan, sedangkan istrinya melompat ke darat.
    Dampu Awang naik ke cerobong asap perahunya sambil berteriak-teriak:
    “Ibu.....ibu tolonglah aku!”
    Tak lama setelah itu Dampu Awang berubah wujud menjadi hurung elang dan istrinya berubah menjadi binatang landak.
    Perbedaan juga terdapat pada hasil kutukan. Dalam MK tidak diceritakan bagaimana nasib istri tokoh Malin Kundang. Sedangkan dalam cerita rakyat DA, istri Dampu Awang juga terkena imbas dari perilaku suaminya. Di akhir cerita DA istri Dampu Awang berubah menjadi binatang Landak.Proses kutukan juga berbeda. Dalam cerita MK setelah sang Ibu mengeluarkan kutukan secara tiba-tiba tokoh Malin Kundang berubah menjadi batu telungkup yang menyatu dengan batu karang. Sedangkan dalam cerita DA, hasil kutukan tidak secepat seperti dalam cerita MK.Ada beberapa peristiwa yang terjadi setelah sang ibu mengeluarkan kutukan. Peristiwa tersebut adalah muncul ular yang sangat besar dan menyerang kapal Dampu Awang.Ular tersebut kemudian mengejar Dampu Awang. Dampu Awang ketakutan dan berlari menyelamatkan diri. Setelah naik ke cerobong asap kapalnya dan berteriak-teriak meminta tolong kepada ibunya, Dampu Awang berubah menjadi burung elang.
     
    Tokoh dan Penokohan Cerita
     
    Dalam kedua cerita rakyat yang dibandingkan, pembuat cerita sama-sama menghadirkan tokoh-tokoh yang berdiri di antara dua kutub. Tokoh kaum muda dihadapkan dengan tokoh kaum tua. Kaum muda sebagai simbol anak durhaka sedangkan kaum tua sebagai simbol penderitaan orang tua yang didurhakai oleh anak kesayangan.
    Persamaan Tokoh dan Penokohan
    Tokoh utama cerita rakyat MK dan DA adalah tokoh laki-laki muda dari keluarga miskin yang sukses dengan jerih payahnya dan menjelma menjadi sosok saudagar yang kaya raya. Tokoh laki-laki muda yang dimunculkan dalam cerita rakyat MK dan DA memiliki latar belakang kehidupan sosial yang sama, yaitu kehidupan masyarakat golongan bawah.
     
       Tokoh Malin Kundang dan tokoh Dampu Awang adalah sosok yatim. Ayahnya meninggal ketika Malin Kundang dan Dampu Awang masih kecil. Kedua tokoh dalam cerita rakyat MK dan DA sama-sama tidak memiliki saudara. Persamaan kedua tokoh yang terdapat dalam cerita rakyat MK dan DK dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.Dahulu kala, tersebutlah sebuah keluarga miskin yang terdiri dari seorang ibu dan anaknya yang bernama Malin Kundang.Karena ayahnya telah meninggalkannya,sang ibu pun harus bekerja keras sendiri untuk bisa menghidupi keluarganya.Malin adalah anak yang pintar tapi sedikit nakal. Ketika dia beranjak dewasa, Malin merasa kasihan pada ibunya yang sedari dulu bekerja keras menghidupinya.
    Pada zaman dahulu hiduplah seorang janda dengan seorang anak laki-laki yang masih belum dewasa. Anak itu Dampu Awang namanya. Tidak jauh dari rumah sang janda terdapat rumpun bambu yang sangat lebat. Rumah-rumah di sekitar ini agak jauh, sehingga keluarga ini terpisah dengan penduduk yang lain.Keluarga ini sangat miskin. Tetapi karena mereka saling mengasihi, kehidupan mereka amat bahagia. Sejak kecil Dampu Awang sangat berbakti kepada ibunya. Iarajin membantu ibunya mencari sesuap nasi. Dampu Awang senang makan dengan lauk sambal calauk
    (sambal yang terdiridari garam, cabe, dan terasi). 
     
    ”Selain memiliki persamaan latar belakang yang dibesaran dalam keluarga miskin, kedua tokoh yang terdapat dalam cerita rakyat MK dan DA memiliki watak dan prilaku yang sama ketika mereka menjadi orang yang berhasil dalam mencapai kehidupan ekonomi yang bagus. Keduanya memiliki sifat yang sombong, angkuh, dan congkak sehingga kedua tokoh tersebut tidak mau mengaku iorang tuanya setelah mereka sukses dalam meraih cita dan asa. Tokoh Malin Kundag dan Dampu Awang sama-sama mendurhakai ibunya dan berprilaku kasar terhadap Ibunya.Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.Karena rasa malu, Malin Kundang pun segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga jatuh 
     
    “Saya tidak kenal kamu wanita tua miskin” kata Malin.
    “Dasar wanita tua tak tahu diri, Sembarangsaja mengaku sebagai ibuku.”Lanjut Malin membentak.
     
    Setelah bertemu dengan perempuan itu Dampu Awang menjadi marah . Dampu Awang tidak mau megakui orang tua iuga sebagai ibunya.
    “Ibuku tidak miskin dan jelek sepertikamu.” Kata Dampu Awang.
     
    Orang tua itu menahan kesabarannya sambil menunjukkan sambal calauk kesenangn Dampu Awang. Tetapi Dampu Awanng tetap murka bahkan ia mengusir perempuan tua itu.
    Perbedaan Tokoh dan Penokohan
    Perbedaan tokoh yang terdapat dalam cerita rakyat MK dan DA terletak pada sifat semasa mereka masih kanak-kanak. Perhatikan kutipan berikut untuk mengidentifikasi perbedaan watak yang dimiliki oleh kedua anak tersebut.Karena ayahnya telah meninggalkannya,sang ibu pun harus bekerja keras sendiri untuk bisa menghidupi keluarganya.Malin adalah anak yang pintar tapi sedikit nakal. Ketika dia beranjak dewasa, Malin merasa kasihan pada ibunya yang sedari dulu bekerja keras menghidupinya,Sejak kecil Dampu Awang sangat berbakti kepada ibunya. Ia rajin membantu ibunya mencari sesuap nasi.
     
       Tokoh Malin Kundang semasa kecil merupakan sosok tokoh yang cerdas tapi nakal. Klausa sang ibu pun harus bekerja keras sendiri untuk bisa menghidupi keluarganya
    Merepresentasikan bahwa tokoh Malin Kundang tidak pernah peduli dengan kondisi orang tuanya.
     
       Malin Kundang tidak pernah membantu orang tuanya bekerja sehingga orang tuanya, ibu, sendirian bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Menjelang dewasa kesadaran baru muncul dalam diri Malin Kundang. Oleh karena itu, Malin Kundang memiliki keinginan untuk merantau kedaerah lain guna meringankan beban ibunya.
    Hal tersebut berbeda dengan tokoh Dampu Awang dalam cerita rakyat DA Kalimat Ia rajin membantu ibunya mencari sesuap nasi.
     
       Merepresentasikan bahwa tokoh Dampu Awang adalah sosok anak yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap penderitaan orang tuanya. Oleh karena itu Dampu Awang dengan penuh suka cita membantu orang tuanya, ibu, untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya.Jika dikaitkan dengan kedurhakaan yang dilakukan oleh kedua tokoh terhadap sang ibu menunjukkan perbedaan yang signifikan.Tokoh Dampu Awang mengalami pergeseran atau degradasi prilaku yang lebih parah jika dibandingkan dengan tokoh Malin Kundang.Dari sosok anak yang sangat mencintai dan memiliki rasa peduli terhadap penderitaan ibunya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehingga Dampu Awang dengan suka cita membantu ibunya bekerja menjadi sosok yang berprilaku kasar dan tidak memiliki kepedulian lagi terhadap sang ibu. Hal ini berbeda dengan tokoh Malin Kundang. Kedurhakaan yangdi laukan oleh tokoh Malin Kundang terhadap sang Ibu sudah dapat diprediksi dari awal.Ketika Malin Kundang masih kanak-kanak,dia tidak pernah peduli terhadap penderitaan ibunya dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam cerita MK diceritakan bahwa Malin Kundang semasa kecilnya tidak pernah membantu ibunya dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ia membiarkan sang ibu membanting tulang sendirian.
    Latar.
     
    • Perbedaan Latar
     
    Latar terjadinya peristiwa dalam cerita rakyat MK dan DA berbeda. Perbedaan latar tersebut terlihat pada peristiwa-peristiwa yang muncul dalam cerita rakyat MK dan DA berikut ini.
    Dia selalu menunggu di pantai setiap hari, berharap anak si mata wayangnya Kembali dan mengangkat drajat ibunya...
     
       Mendengar kedatangan Malin, sang ibu merasa sangat gembira. Dia bahkan berlari menuju pantai untuk segera melihat anak yang disayanginya pulang...Tidak lama kemudian angin dan petir bergemuruh menghantam dan menghancurkan kapal Malin Kundang.Setelah itu, Tubuh Malin Kundang kaku dan kemudian menjadi batu yang menyatu dengan karang.
    Setiap hari ibu Dampu Awang menantinya di pinggir sungai, kalau-kalau anaknya kembali. Tibalah waktunya Dampu Awang ke deanya dengan membawa perahu besar itu. Kata pantai dan karang yang terdapat dalam cerita rakyat MK merepresentasikan lokasi pesisir atau daerah yang dekat dengan laut. Dari hal tesebut dapat dinyatakan bahwa latar tempat terjadinya peristiwa kutukan dalam cerita MK terjadi di pinggir laut.
     
       Berbeda dengan MK, kata sungai yang terdapat dalam cerita rakyat DA merepresentasikan bahwa terjadinya peristiwa kutukan disungai. Hal tersebut menunjukkan bahwaletak geogrfis.
    wilayah asal kedua cerita ini berbeda. Sumatra Barat adalah wilayah pesisir sehingga akan ditemukan pantai. Sedang kan wilayah Sumatra Selatan tidak berada diwilayah pesisir sehingga tidak akan pernah ditemukan pantai. Sumatra Selatan memiliki sungai-sungai besar yang dikenal dengan Batang Hari Sembilan. Oleh karena itulah latar tempat yang melatar belakangi terjadinya peristiwa kutukan berbeda. Peristiwa kutukan yang terjadi dalam cerita MK adalah di pantai,sedangkan peristiwa kutukan yang terjadi dalam cerita DA di tepi sungai.
     
    • Persamaan Latar
     
    Beberapa peristiwa yang terjadi dalam cerita rakyat MK dan DA sama-sama terjadi di kapal. Setelah menerima kutukan dari sang ibu, kapal Malin Kundang dihantam badai dan hancur berkeping-keping. Malin Kundang berubah menjadi batu. Dalam cerita DA setelah menerima kutukan dari ibunya, tiba-tiba dari dalam sungai muncul ular raksasa. Dampu Awang dikejar oleh ular tersebut. Dampu Awang naik cerobong kapal.Ia lalu berteriak-teriak meminta tolong kepada ibunya. Setelah itu Dampu Awang berubah jadi burung elang. Sedangkan istri Dampu Awang lari ke daratan menghindari kejaran ular raksasa. Istri Dampu Awang berubah menjadi landak selang beberapa saat Ketika Dampu Awang berubah menjadi burung elang.
    Tidak lama kemudian angin dan petir bergemuruh menghantam dan menghancurkan kapal Malin Kundang.Setelah itu, Tubuh Malin Kundang kakudan kemudian menjadi batu yang menyatu dengan karang.
     
    “Ibu.....ibu tolonglah aku!”
     
    Tak lama setelah itu Dampu Awang berubah wujud menjadi hurung elang dan istrinya berubah menjadi binatang landak.
     
    Pola Anasir Cerita Dampu Awanng dan Malin Kundang
    Pola anasir yang dianalisis dalam tulisan iniadalah anasir instrinsik cerita rakyat MK dan DA. Dari pola yang terdapat dalam dua cerita rakyat tersebut dapat di identifikasi persamaan antara cerita MK dari Sumatra Barat dan DA dari Sumatra Selatan. Persamaan kedua cerita rakyat tersebut sangat dominan, terutama di bagian alur, tokoh dan penokohan, dan latar.Di bagian tokoh dan penokohan, kedua tokoh tersebut sama-sama merantau keluar daerahnya untuk mendapatkan penghasilan yang layak.Kedua tokoh juga berasal dari keluarga yang tidak mampu.Sejak kecil kedua tokoh cerita itu telah menjadi anak yatim. Tokoh Ibu juga dimunculkan dengan pola sosok yang sabar,tabah dan sangat menyayangi anaknya. Selain itu tokoh ibu juga sosok pekerja keras agar dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya dan anaknya.
    Dari segi latar, pola latar yang digunakan oleh kedua cerita rakyat itu menunjukkan beberapa latar yang sama. Latar tempat yang digunakan adalah pola air. Mengingat saat itu transportasi yang paling dominan di Sumatra Barat dan Sumatra Selatan adalah transportasi air. Perbedaan hanya pada bentuknya, yaitu laut dan sungai. Pola strata sosial tokoh yang dimunculkan adalah tokoh yang berasal dari keluarga miskin dan sebagai anak yang hanya diasuh oleh ibu karena ayahnya telah meninggal dunia.Pola alur kedua cerita rakyat yang berasal dari pulau Sumatra tersebut juga memperlihatkan banyak persamaan. Kedua cerita tersebut memiliki pola lima tahapan pengembangan alur, yaitu tahap pengenalan.
       
       Tahap pengenalan berisi mengenai gambaran kehidupan sosial kedua tokoh. Tahap konflik mulai dimunculkan dengan adanya peristiwa atau kejadian keinginan kedua tokoh untuk merantau karena kasihan melihat sang ibu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tahap konflik mulai memuncak ketika terbesit kabar kedua tokoh tersebut akan kembali ke kampung halaman dengan membawa kesuksesan nya sebagai saudagar muda yang kaya raya. Sang Ibu sangat gembira mendengar kabar tersebut dan menantikan kehadiran putranya.Tahap klimaks muncul pada saat pertemuan antara ibu dan anak.Sang anak tidak mau mengakui keberadaan ibunya karena sang ibu sangat miskin sehingga tidak pantas untuk dijadikan sebagai seorang ibu saudagar muda yang kaya raya.Tahap penyelesaian atau anti limaks ditandai dengan munculnya kutukan dari sang Ibu yang mengakibatkan Malin Kundang berubah menjadi batu dan Dampu Awang berubah menjadi burung elang.
     
     SIMPULAN
     
    Hasil penelitian yang ditemukan membuktikan terdapat persamaan antara cerita Dampu Awang dan Malin Kundang.Persaman tersebut terletak pada motif.Kedua cerita memiliki motif anak durhaka.Selain motif, persamaan kedua cerita terletak pada anasir instrinsik cerita.
     
        Di bagian alur, kedua cerita rakyat itu memiliki pola pengembangan alur dongeng, yaitu pengenalan, munculnya permasalahan, konflik,klimaks, dan anti klimaks. Anasir tokoh juga memperlihatkan pola yang sama, yaitu sama-sama menjadi anak yatim dan berasal dari keluarga strata sosial rendah. Latar cerita pada umumnya sama. Hal yang membedakan kedua cerita tersebut adalah penokohan dimasa kanak-kanak mereka. Selain penokohan.Bagian latar juga muncul perbedaan. Latar terjadinya kutukan dalam cerita MK terjadi di laut sedangkan cerita DA latar tempat terjadinya kutukan terjadi di sungai.
     
        Bagian penyelesaian cerita juga muncul perbedaan. Diakhir cerita, Dampu Awang dikutuk menjadi burung elang dan istrinya dikutuk menjadi trengiling. Sedangkan dalam cerita MK, MalinKundang dikutuk menjadi batu karang dan istrinya tidak diceritakan bagaimana nasibnya.Munculnya persamaan pola anasir yang dimiliki oleh kedua cerita tersebut menunjukkan bahwa terdapat persebaran yang saling terpengaruh dan mempengaruhi antara satu cerita rakyat yang satu dengan cerita rakyat yang lainnya.
     
       Selain itu, banyaknya persamaan dalam kedua cerita rakyat tersebut menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara kedua cerita tersebut dalam penyebarannya. Dengan demikian dapat dinyatakan persamaan yang terjadi antara ke dua cerita rakyat tersebut menunjukkan bahwa adanya ketunggalan budaya juga dapat dibuktikan melalui cerita rakyat.
     
    DAFTAR PUSTAKA
     
    Endraswara,Suwardi. 2011.Metodelogi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop.
    Kasim, Rajali. 1996.Sastra Bandingan: Ruang Lingkup dan Metode. Medan:Universitas Sumatera Utara Press.
     
    Krippendorf. 1994. Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi.Jakarta:Rajawali Pers.
    Basnett, Susan. 1993.Comparative: a Critical Introduction.Oxford: Blackwell.
     
    Asih, Setyaning Nur. 2011. Skripsi.“Perbandingan Pencitraan Tokoh Utama Wanita dalam Novel Tumtesing Luh Karya Any Asmara Dengan Roman Mbok Randa Saka Jogja”.Yogyakarta .
     
    Damono, Sapardi Djoko. 1997.Sosiologi Sastra: Suatu Pengantar Ringkas.Jakarta: Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa, DepartemenPendidikan dan Kebudayaan.
     
    Damono, Sapardi Djoo. 2005.PeganganPenelitian Sastra Bandingan, Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional,Pusat Bahasa.
     
    Darma, Budi. 2007. “Sastra Bandingan Menuju Masa Depan”. Dalam Prosiding Seminar Kesusastraan Bandingan Antar bangsa 7—9 Juni 2007. Kuala Lumpur: Persatuan Kesusastraan Bandingan Malaysia.
     
    Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989.Teori Kesusastraan. Terjemahan MelaniBudianta. Jakarta: Gramedia.
     
    Zulfahnur, dkk. 2006. Teori Sastra. Jakarta:Depdikbud. Yogyakarta:Media Press
    Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori PengkajianFiksi. Yogyakarta:Gadjah MadaUniversity Press.
     

    Ikuti tulisan menarik BAMBANG IRAWAN lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.