x

Pembelajaran dengan guru keliling mampu menjangkau dari yang tidak terjangkau

Iklan

Ahmad Risani

Pegiat Pendidikan, Penulis buku Netizenokrasi:Sketsa Politik Generasi Milenial
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 12 Juli 2022 18:44 WIB

Apa Saja yang Harus Dimiliki Pendidik Milenial di Era Gen Z dan Alpha?

Guru hari ini adalah guru milenial. Mereka lahir untuk mendidik generasi berikutnya, generasi Z dan Alpha. Bila dilihat dari hitungan usia, mereka guru-guru muda, enerjik, dan memahami betul zaman meminta apa. Betapa pentingnya peran guru milenial hari ini. Dan, betapa krusialnya bila kita tidak mendapatkan nutrisi ilmu yang cukup untuk mengarungi peran-peran mereka di masa depan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Guru hari ini adalah guru milenial. Mereka lahir untuk mendidik generasi setelah mereka: generasi Z dan Alpha. Begitu kira-kira, bila dilihat dari hitungan usia. Mereka guru-guru muda, enerjik, dan memahami betul zaman meminta apa.

guru penggerak

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Betapa pentingnya peran guru milenial di hari ini. Dan, betapa krusialnya bila kita tidak mendapatkan nutrisi ilmu yang cukup untuk mengarungi peran-peran mereka di masa depan.

Sebagai guru milenial yang menjadi bagian kecil dari pendidikan di masa depan, saya ingin berbagi perspektif mengenai atribut yang harus dimiliki guru milenial agar kita mampu memberikan kontribusi terbaik sebagai pendidik. Atribut tersebut merupakan hasil refleksi mandiri saya mengenai filosofi pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang dielaborasikan dengan kondisi kekinian. Tentu, rekan-rekan pembaca boleh memiliki pandangan berbeda dari apa yang saya jabarkan.

Pertama, memegang prinsip Merdeka Belajar secara konsisten. Guru milenial di masa depan, ialah mereka yang menjadikan konsep merdeka belajar sebagai acuan dalam mengembangkan pembelajaran. Konsep ini diejawantahkan dalam oriented student approach, pendekatan pembelajaran berorientasi pada murid. Murid dipandang sebagai objek sekaligus subjek belajar. Di sini, seorang guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing belajar. Bukan menjadi pusat segala ilmu pengetahuan.

Bila kita tarik akar filsofisnya, dalam hal ini seorang guru benar-benar menerapkan Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani dalam proses yang ia jalani. Di depan memberikan teladan, di tengah memberikan motivasi dan bimbingan, di belakang memberikan dorongan kepada murid untuk berfikir kritis dan menjadi pribadi kreatif.

Mengapa konsep ini perlu diterapkan? Agar anak didik merdeka. Tidak dibelenggu oleh teori-teori hafalan. Murid diharapkan mampu menemukan sendiri apa yang mereka pelajari. Lalu mengaitkannya langsung dengan kehidupan secara kontekstual. Dengan begitu, ilmu akan lekat di benak mereka. Tidak menjadi angin lalu yang sesaat akan pudar saat bertemu materi-materi baru.

Kedua, Memegang Prinsip Semua Murid, Semua Guru, dan Semua Tempat adalah Sekolah. Paradigma ini adalah sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat menanamkan pemahaman bahwa setiap orang akan selalu menjadi guru bagi sesama, dan di saat yang sama juga menjadi murid yang terus belajar, tumbuh, dan berkembang. Termasuk dalam memandang pendidikan bukan saja urusan sekolah, tapi merupakan proses kolaboratif antara murid, orang tua, pendidik, dan lingkungan sosial. Dengan paradigma ini, diharapkan semua orang terlibat dalam proses mendidik dengan nilai dan perannya masing-masing.

Lebih dari itu, prinsip ini mengandung nilai kesetaraan, demokrasi, dan keterbukaan. Nilai-nilai ini akan menjadi penopang bagi seorang individu untuk belajar kepada siapapun, dan menjadi guru untuk siapapun. Menghilangkan arogansi ilmu, dan monopoli pengetahuan.

Ketiga, Bernalar Kritis dan Berwawasan Luas. Salah satu keterampilan yang perlu kita asah sebagai pendidik di zaman ini, ialah Critical Thinking. Yaitu, kemampuan untuk berfikir kritis dan menemukan solusi secara sistematis dari permasalahan yang ada. Dengan kemampuan ini, kita dapat menggali lebih dalam suatu persoalan, mempertanyakannya, dan memberikan alternatif opini atas suatu fenomena.

Kemampuan ini akan menjadi kekuatan bila dikombinasikan dengan wawasan yang luas. Baik itu wawasan yang berkaitan dengan keilmuan dan pengembangan profesi diri, maupun wawasan dalam membaca dan memahami situasi sosial-politik yang terus berkembang setiap harinya.

Bila nalar kritis tak didampingi oleh wawasan yang baik. Ia hanya akan menjadi kritisme kosong yang tidak bermakna. Sebaliknya bila disandingkan dengan wawasan yang luas, ia akan menjadi senjata yang mematikan dalam menghadapi perkembangan dunia yang bergerak cepat.

Bila kita analogikan, kemampuan berfikir kritis itu adalah senjatanya, dan wawasan adalah pelurunya. Senjata tanpa peluru hanya akan menjadi keberisikan belaka. Inilah yang sering kita saksikan di media dan ruang-ruang publik kita. Banyak orang mengira dirinya kritis dan memiliki thinking skills yang baik, padahal ia tidak ditopang oleh ilmu pengetahuan yang mumpuni untuk memahami suatu persoalan yang kompleks. Akhirnya, banyak muncul hoax, dan narasi-narasi kosong yang hanya berlandaskan pada kemarahan dan sentimen politik.

Keempat, menuntun murid untuk berimajinasi dan berkolaborasi. Apa yang terjadi hari ini, kemajuan teknologi dan segala fenomena yang ada, tidak bisa lepas dari imajinasi para pendahulu kita. Mereka yang mendesain masa depan adalah mereka yang mengimajinasikannya di hari ini. Imajinasi bukanlah mengkhayal tanpa batasan. Tapi proses menciptakan gambaran visi untuk masa depan.

Bila kita menginginkan perubahan di masa depan melalui pendidikan, maka kita wajib mengimajinasikan gambaran perubahan itu ke arah apa? Menjadi apa? siapa saja yang akan menjadi pelakunya? Dan dengan siapa kita berkolaborasi untuk mewujudkan visi tersebut?

Mewujudkan visi masa depan tak bisa sendirian. Namun, bukan pula berarti kita punya ketergantungan. Kemampuan berkolaborasi artinya mampu mengajak dan melangkah bersama pihak lain untuk mewujudkan imajinasi yang sama. Sebab, kita tak bisa sendirian. Untuk menciptakan banyak hal kita butuh semua orang. Kita tak bisa mengambil semuanya. Fokus pada bagian kita.

Kelima, Melek literasi teknologi dan digital. Melek teknologi dan digital bukan saja untuk memudahkan aktivitas, tapi agar kita tidak menjadi generasi yang naif di masa depan. Naif dalam mengolah informasi, naif dalam merespons peristiwa-peristiwa aktual, naif dalam memegang idealisme yang diyakini, dan bentuk-bentuk naif lainnya.

Saat ini, kemajuan teknologi dan digital menjadikan pemikiran-pemikiran publik teruji. Pemahaman kita semakin dielaborasi. Semakin tajam, meluas, dan menemukan hal baru. Kita tentu tidak ingin menjadi generasi tumpul yang terkungkung oleh pengetahuan subjektif dan bias posisi. Sebagai contoh, seorang guru yang terlanjur mendapat glorifikasi sebagai subjek pendidikan, akan menunjukkan kenaifan dalam proses pembelajaran. Ia selalu merasa benar sendiri.

Oleh karena itu, sebagai generasi milenial, kita seharusnya melihat, di hadapan kita berdiri generasi yang terkoneksi satu dengan lainnya, mereka terdidik baik secara formal maupun informal, dan merupakan wajah generasi yang lahir dari rahim demokrasi dan kemajuan teknologi. Secara potensial, mereka bisa menjadi generasi yang lebih baik daripada generasi hari ini. Tugas kita memastikan itu benar-benar terjadi. []

Ikuti tulisan menarik Ahmad Risani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB