x

Iklan

Arai Amelya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 April 2022

Senin, 11 Juli 2022 06:07 WIB

Perkaya Diri Lewat Lomba Menulis, Tak Hanya Uang Tapi Pengalaman

Sejak kembali ke dunia kepenulisan, aku mulai memperbanyak diri ikut lomba menulis karena menurutku ini adalah cara terbaik meningkatkan kemampuan diri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mengikuti sebuah perlombaan atau kompetisi sebetulnya bukanlah sesuatu yang kupilih. Hanya saja kalau diingat-ingat sejak masih TK dan SD dulu, Ibuku sudah sangat sering mengikut sertakan diriku dalam berbagai perlombaan. Mulai dari lomba mewarnai, menggambar, paduan suara bahkan menari.

Semakin beranjak dewasa, aku menilai kalau ikut dalam sebuah perlombaan itu bukanlah sesuatu yang buruk. Kita bahkan bisa tahu sampai sejauh mana kemampuan itu dimiliki, sehingga bisa melakukan latihan dan pembelajaran lebih lagi agar lebih baik. Tak heran ketika duduk di bangku sekolah menengah, aku pun beberapa kali terlibat dalam lomba-lomba teater.

Ya, seni memang sudah begitu menarik perhatianku, alasan terkuat kenapa aku sangat menyukai dunia film.
Namun semenjak aku menjadi karyawan media online, kepenulisan sepertinya kupilih menjadi bidang yang ingin kujelajahi. Lewat tulisan-tulisan itu, aku sempat dibawa ke tempat-tempat yang tak terduga. Sayang aku sempat mencoba berkhianat hingga akhirnya hampir dua tahun penuh tak menyentuh kepenulisan.

Berani Ikut Lomba, Berani Bermimpi

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika aku masih menjadi karyawan media online, ada sebuah kompetisi tahunan yakni Anugerah Perwarta Astra. Menurutku kompetisi kepenulisan itu sangatlah keren karena mengumpulkan para jurnalis-jurnalis hingga masyarakat umum penggila tulisan feature. Saat berstatus budak korporat, aku sempat ingin mengikuti ajang itu tapi lagi-lagi kulepaskan begitu saja dengan alasan kesibukan kerja.

Barulah di akhir tahun 2020, aku yang baru beberapa bulan membeli domain untuk blog pribadi, memberanikan diri ikut Anugerah Pewarta Astra. Mengumpulkan karya jelang deadline, aku sangat tidak menduga kalau tulisanku kala itu terpilih sebagai Favorit 4.

Saat itulah aku merasa kalau kepenulisan sepertinya layak dipilih menjadi jalan hidupku.

Aku mencoba memberanikan diri terlibat dalam kompetisi lain yang juga digelar instansi besar. Selang beberapa bulan kemudian namaku terpilih sebagai 35 Besar Feskabi Bank Indonesia Blog Competition 2020 dan 10 Besar Blog Competition Challenge Bank Indonesia Feskabi di gelaran yang sama.

Bisa dibilang 2021 memang menjadi titik balik dalam kehidupanku. Bahkan di tahun itu pula aku memboyong dua gelar juara dari kompetisi yang sama-sama digelar Blogger Perempuan Network yakni Juara III Lomba Blog Golongan Hutan serta Juara 1 Kompetisi Blog #IndonesiaBikinBangga.

Aku tak mau munafik mengakui bahwa hadiah uang dan produk berharga dari lomba-lomba yang kuikuti itu memang menggiurkan. Hanya saja keberuntunganku menjadi berlipat ganda ketika Tuhan memberikan kesempatanku untuk menjejak tanah-tanah asing berkat tulisan.

Keinginanku sejak masih muda itupun akhirnya terwujud ketika aku diberi hadiah jalan-jalan gratis.

Peserta Toraja Highland Festival 2021
 
Pengalaman luar biasa itu dimulai di ajang Toraja Highland Festival 2021. Ya, tulisan di blog membawaku pergi ke Toraja Utara di Sulawesi Selatan sana. Melihat kegiatan Rambu Solo secara langsung, termasuk datang ke pemakaman-pemakaman mistis masyarakat Toraja seperti Bori Parinding, Lokomata sampai Goa Londa adalah sesuatu yang mungkin dulu hanya bisa kubayangkan dalam mimpi dan kuucapkan tanpa beban, terwujud secara nyata.

Lomba kepenulisan pun membawaku menjelajah petak lain di Indonesia lewat dua event yang dilangsungkan Kemenparekraf. Ya, aku terpilih terbang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat di bulan Desember 2021 kemarin untuk melihat secara langsung betapa megahnya sirkuit Mandalika, serta menyapa Gunung Rinjani yang begitu kukagumi itu. Event kedua membawaku ke tempat yang semakin luar biasa yakni Likupang di Manado, Sulawesi Utara pada Maret 2022.

Dalam dua ajang kepenulisan ini, aku bergabung dengan sembilan penulis lain dari seluruh penjuru Nusantara. Sebuah pengalaman menyenangkan bertemu teman-teman baru, bukti memperkaya diri memang tak haruslah dari pundi-pundi Rupiah semata.

Kedua perjalanan yang menghabiskan waktu masing-masing satu pekan itu semakin meyakinkan diriku bahwa bermimpi menjadi seorang traveler writer bukanlah asa lagi. Saat itulah aku menyadari bahwa lomba menulis bukan hanya mampu memberitahuku sejauh apa kemampuanku, tapi juga sebuah kesempatan yang mungkin saja tak setiap orang bisa mengalaminya.

Lomba Menulis, Panggilan Jiwa yang Terjawab

Kini di tahun 2022, jelas lomba kepenulisan yang digelar semakin banyak mengingat pandemi Covid-19 sudah mulai terkendali. Salah satunya yang begitu menarik perhatian banyak penulis digelar oleh IndiHome. 
Berlangsung dari 17 Juni hingga 17 Juli 2022, IndiHome menggelar lomba kepenulisan yang bisa dibilang salah satu dengan tawaran hadiah terbesar yakni total mencapai Rp170 juta!

Yang menarik, lomba menulis dari IndiHome ini dibagi menjadi sepuluh kategori yakni:

  • Teknologi dan Internet (ICT)
  • Lifestyle
  • Parenting
  • Gamer & eSport
  • Pendidikan
  • Profesi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Creative & Culture
  • Kesehatan
  • Tourism & Hospitality 

Banner Lomba Kepenulisan IndiHome 2022

Demi memperbesar peluang kemenangan untuk semua orang, masing-masing kategori itu rupanya akan memilih tiga orang juara utama dan lima juara harapan. Akan ada juga seorang pemenang utama dengan gelar Best of the Best yang bakal diganjar hadiah Rp20 juta! Yang menarik, seluruh pemenang dari event ini juga otomatis bakal memperoleh golden ticket menuju bootcamp yang digelar IndiHome.

Aku tak menyalahkan kalian jika memang alasan mengikuti lomba adalah mengincar hadiah uang yang diberikan. Hanya saja sebagai orang yang baru beberapa kali mengikuti lomba dan meraih kemenangan, hal terpenting dalam sebuah kompetisi adalah bagaimana menikmati pengalaman memproses tulisan tersebut.

Pakar Human Performance bernama Anders Ericsson dalam bukunya yang berjudul Peak: The New Science of Expertise pernah menyinggung betapa pentingnya pengalaman dan pembelajaran agar seseorang menjadi ahli, lewat konsep aturan 10 ribu jam. Menurut Ericsson, saat seorang melakukan sesuatu hal meskipun awalnya sama sekali tidak paham selama 10 ribu jam, maka dia bisa menjadi seorang master dan mencapai peak performance. Jika dikaitkan dengan kepenulisan, kalau kita terus menulis, menambah pengalaman lewat lomba-lomba menulis terlepas dari hasil menang atau kalah selama 10 ribu jam, bolehlah kita bangga mencapai level mastery dalam kepenulisan.

Tentu saja untuk bisa menjadi seorang ahli dalam dunia kepenulisan lewat konsep aturan 10 ribu jam, dibutuhkan yang namanya Deliberate Practice. Namun lepas dari itu semua, pada dasarnya sangat menyenangkan menghabiskan waktu untuk mengumpulkan bahan menulis, mencari data dan fakta demi mendukung opini yang disertakan. Bagaimanapun juga, proses inilah yang akhirnya meningkatkan kredibilitas kita sebagai penulis, terlepas dari bidang apapun kepenulisan yang kalian pilih. 

Karena bukankah menjadi seorang penulis itu kita tak ubahnya fotografer meski dalam medium berbeda? Aku percaya lewat kata demi kata yang kita tuliskan, kita tengah mengabadikan waktu dan menciptakan sejarah. Jika Descartes sang filsuf Prancis berkata Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir Maka Aku Ada), bolehlah aku meniru kalimat dalam judul buku Kang Maman, Aku Menulis Maka Aku Ada.

Semangat untuk ikut lomba menulis, ya!

Ikuti tulisan menarik Arai Amelya lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler