x

Tan Malaka. Foto: Wikipedia

Iklan

Ricko Blues

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Kamis, 21 Juli 2022 16:11 WIB

Jangan Sekali-kali Melupakan Tan Malaka

Tak ada yang pernah mengira kalau di lembah permai, di antara bukit dan sawah hijau di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, lahir seorang pahlawan besar, pada 1897. Seratus tahun kemudian peneliti dari Belanda, Roger Tol bersama Harry A Poeze, datang berkunjung ke tanah subur itu. Ia sempat berseru: Mengapa di tempat yang indah dan subur ini lahir seorang pemberontak?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hidup dan Pengembaraan Tan Malaka; Sebuah Cerita Pelarian nan Mempesona.

Tak ada yang pernah mengira kalau di lembah permai, di antara bukit dan sawah hijau di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada 1897 pernah lahir seorang pahlawan besar. Seratus tahun kemudian tepatnya pada tahun 2008, seorang peneliti dari Belanda, Roger Tol bersama Harry A Poeze, yang datang berkunjung ke tanah subur itu pun masih sempat berseru, ‘Mengapa di tempat yang indah dan subur ini lahir seorang pemberontak?’

Ya, di tanah Minang itu pernah lahir Tan Malaka, seorang pemberontak kolonialisme, pahlawan kemerdekaan Indonesia, filsuf, tokoh pendidikan, pemimpin partai komunis dan pendiri partai murba. Ia terlahir dengan nama Ibrahim, dan pada tahun 1912 gelar Datuk Tan Malaka disematkan pada namanya sebagai pewaris tahta bangsawan minang, meskipun takdir sejarah kemudian menghantar Tan Malaka pergi jauh dari tanah Minang. Dan dari tanah subur inilah Tan Malaka memulai pengembaraannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Atas usul guru Horensma, seorang Belanda yang terkagum-kagum dengan kepandaian Ibra, sebutan untuk Tan Malaka kecil dan berkat bantuan W. Dominikus, kontrolir Suliki, para pemuka warga kampung mengumpulkan f 30 per bulan untuk biaya sekolah Ibra di Belanda. Jaminannya adalah harta keluarga Tan Malaka. Ia harus kembali setelah tiga tahun dan membayar utang itu dengan gajinya sendiri, meski kelak utang itu tak pernah terbayar dan dilunasi sendiri oleh Horensma.

Di Belanda, Tan bersekolah di sekolah guru Rijkweekschool di kota kecil bagian utara Belanda, Haarlem. Di kota yang sedang dilanda kemiskinan ini, selain belajar, ia juga mulai berkenalan dengan politik dan segera ‘terhipnotis’ dengan sosialisme. Diskusinya dengan teman satu kos, Herman Wouters, seorang pengungsi Belgia yang lari dari serbuan tentara Jerman dan Van der Mij, si pemilik kos, membuka cakrawala berpikir Tan; ia menjadi sadar dunia sedang bergejolak. Sebuah ‘kosa kata’ baru yang ia temukan di kota ini pun mulai mengalir deras dalam darah sang calon guru: revolusi.

Setelah sekitar enam tahun sekolah, pada bulan November1919 Tan pulang kampung dan menjadi guru sekolah rendah di perkebunan teh Belanda di Deli, Sumatera Utara. Di Deli ia tidak saja menjalani misi yang dianggapnya suci yakni mengajar anak-anak para kuli perkebunan, tetapi juga sering menulis beberapa tulisan propaganda subversif untuk para kuli dan juga menulis untuk media massa. Pemikiran sosialismenya segera saja terbentur dengan realitas kapitalisme Belanda yang menindas para buruh pribumi secara tidak adil dan tidak manusiawi. Jiwa pemberontak Tan mulai muncul. Para petinggi Belanda menyadari hal ini, dan karena berbagai ketidakadilan yang ia lihat serta perlakuan Belanda yang tidak ramah terhadapnya, pada tahun 1921 Tan hengkang ke Semarang. Di kota ini, Tan turut mendirikan beberapa sekolah rakyat hingga ke kota Bandung. Ia juga bergabung dengan Sarekat Islam dan aktif dalam rapat dan kongres mengkampanyekan penyatuan gerakan komunis dan Islam untuk meruntuhkan dominasi imperialisme dan kolonialisme Belanda. Gara-gara ini, pada 13 Februari 1922, ia ditangkap Belanda di Bandung. Tan dibuang ke Amsterdam pada 1 Mei 1922 melalui Jakarta.

Tiba di Negeri Kincir Angin tepatnya di kota Rotterdam, Tan langsung disambut rekan-rekan sosialismenya. Oleh teman-temannya ia dianggap sebagai ‘martir’ kolonialisme dan imperialisme. Meski Belanda adalah negeri buangannya, aktivitas politik Tan justru semakin intens dan gencar di sana khususnya keterlibatannya dalam Partai Komunis Belanda. Ia mengikuti rapat dan berorasi. Ia menulis di surat kabar komunis dan menjadi calon anggota parlemen nomor 3 di partai komunis Belanda, meski gagal melaju ke parlemen.

Dari Belanda ia melanjutkan pengembaraan ke Jerman, negeri yang ia agung-agungkan. Di negeri yang sedang berjuang bangkit dari kekalahan Perang Dunia I ini, Tan sempat melamar menjadi legiun asing, tetapi ditolak. Lalu, di Berlin ia sempat berjumpa dengan Darsono, pentolan Partai Komunis Indonesia. Setelah dua bulan bersama di Berlin, Tan dan Darsono pun memilih jalan masing-masing; Darsono pulang ke Jakarta, dan Tan memilih bertandang ke Rusia, negeri para komunis tulen. Tak dinyana, inilah pertemuan mereka yang terakhir.

Di Moskow, Tan banyak bertemu dengan para Bolsyewiek, berdiskusi dengan para aktivis komunis dari Asia seperti Ho Chi Minh (Vietnam), dan mendengar orasi para bapak pendiri komunisme Rusia seperti Lenin, Stalin dan si pemimpin tentara merah kala itu, Leon Trotsky.

Pada November 1922, Tan didaulat mewakili Partai Komunis Indonesia dalam Konferensi Komunis Internasional (Komintern) keempat di Moskow. Dalam rapat inilah Tan Malaka membawakan pidato yang sampai hari ini masih dibahas bila orang bicara soal Tan Malaka; yang komunis dan yang beragama islam. Dengan lantang dan penuh semangat, di hadapan para bolsyewiek dan orang-orang kiri Tan kembali mencetuskan ide briliannya mempersatukan perjuangan Pan Islamisme menentang kolonialisme dengan cita-cita komunisme dalam memperjuangkan nasib kaum proletar. Waktu pidato diberikan lima menit untuk wakil dari Asia tetapi Tan berbicara lebih dari lima menit dan hanya sekali diberi peringatan oleh ketua sidang. Gaya bicaranya yang bersemangat dan diselingi humor membuat orang betah mendengar orasinya berlama-lama. Di akhir pidato ia bertanya pada hadirin, “maka dari itu, saya bertanya sekali lagi, haruskah kita mendukung Pan-Islamisme?” Anggota kongres memberi tepuk tangan yang ramai dan isi pidatonya menuai pujian.

Seusai menghadiri kongres, Tan sempat meminta Komintern menyekolahkan dia, tetapi ditolak. Oleh karena itu untuk mengisi waktu luangnya di Moskow, seorang kamerad Rusia meminta dia menulis sebuah buku yang isinya tentang Indonesia. Maka jadilah buku yang dia tulis dalam bahasa Rusia berjudul, Indonesia dan Tempatnya di Timur Yang Sedang Bangkit yang terbit pada 1924. Pemerintah Rusia mencetak ulang buku ini sebanyak 5000 eksemplar pada tahun berikutnya, namun Tan sudah pergi ke Kanton, Cina di akhir 1923 sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur.

Di Kanton, sekarang kota Guangzhou, Tan adalah orang istimewa. Selain sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur, Tan juga adalah teman Dr. Sun Yat Sen atau yang dikenal sebagai Sun Man, seorang bapak nasionalis Cina yang juga menjadikan Kanton sebagai pusat gerakan revolusinya. Ditemani pimpinan Partai Komunis Cina cabang Kanton, Tang Ping Shan, Tan Malaka bertandang ke rumah Dr. Sun Yat Sen, dan di sana ia disambut dengan ramah oleh tuan rumah. Ia mendapat banyak masukan mengenai revolusi Indonesia dan bagaimana cara menaklukan imperialisme di Asia khususnya di bumi Hindia Belanda. Tan Malaka sendiri tidak menerima mentah-mentah masukan Sun Man. Ada perbedaan pikiran di antara keduanya. Namun, menurut Tan karena Sun Man lebih tua dan lebih berpengalaman, ia memilih untuk lebih banyak mendengarkan dan tidak mengumpannya untuk berdebat secara terbuka.

Di kota ini Tan juga menghadiri kongres buruh yang dihadiri para aktivis kiri dari seluruh dunia, menerbitkan majalah ‘merah’ The Dawn dan menulis sebuah buku berjudul Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia pada 1925. Buku ini adalah salah satu karya yang fenomenal karena Tan adalah orang pertama yang menggagas konsep negara Republik Indonesia yang berbeda dengan Trias Politica-nya Montesquie. Buku ini seolah mau menasbihkan dirinya sebagai Bapak Republik Indonesia, julukan yang dilekatkan kepada Tan Malaka oleh Mohammad Yamin. Sejarah memang pada akhirnya membuktikan kalau gelar itu diberikan kepada orang yang tepat.

Buku Naar de Republiek Indonesiaini menjadi buku bacaan wajib para tokoh perjuangan. Bahkan menurut Sayuti Melik, Soekarno sering terlihat menenteng buku ini pada saat ia masih memimpin Klub Debat Bandung. Ini membuktikan seberapa besar pengaruh Tan dalam sejarah pergerakan. Walau fisiknya tak hadir di Indonesia, setidaknya buah pikirannya yang visioner mampu menginspirasi para tokoh perjuangan di Hindia Belanda melalui buku-buku yang ditulisnya.

Dari Kanton, pada Juni 1925 Tan menyelundup ke Filipina dengan menggunakan nama samaran Elias Fuentes. Di sana ia hendak menyembuhkan sakit paru-parunya sambil bekerja sebagai koresponen surat kabar El Debate. Awal tahun 1926, ia masuk Singapura dengan nama alias Hasan Gozali, orang Mindanao dan menulis buku Massa Aktie. Buku setebal 129 halaman ini disambut baik oleh kalangan nasionalis dan menjadi pedoman bagi pejuang melawan penjajah. Ini menjadi semacam cetak biru revolusi dari kalangan bawah yang diharapkan membawa perubahan.

Juli 1927, Tan Malaka kembali mengembara ke Bangkok, Thailand, kota dimana Tan bersama Subakat dan Djamaludin Tamim mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI). Di mata Belanda PARI sendiri adalah partai ilegal yang diisi oleh para pemberontak. Tidak sedikit dari anggotanya dibuang ke Digul dan mendekam di penjara, salah satunya termasuk Subakat yang meninggal dalam bui karena mempertahankan PARI. Di Bangkok Tan hidup terkatung-katung dengan berbagai persoalan. Ia kemudian berhasil lolos ke Manila, Filipina yang pada saat itu dijajah Amerika dengan menggunakan paspor palsu dengan nama Elias Fuentes.

Meski awalnya sempat mendapat kesulitan tempat tinggal dan makanan yang layak dari sahabat karibnya, Dr. Mariano Santos, Tan Malaka alias Elias Fuentes akhirnya ditangkap oleh kaki tangan penjajah Amerika. Penahanan Elias Fuentes membuat geger publik Filipina. Berbagai media turut meramaikan pemberitaan penangkapan Tan Malaka. Muncul pro dan kontra dalam menanggapi peristiwa ini, sebab bagaimanapun juga di mata rakyat jelata Filipina Tan adalah simbol perlawanan rakyat Filipina terhadap imperialis Amerika.

Koran El Debate, media di mana artikel-artikelnya banyak dimuat adalah salah satu media yang mendukung pembebasan Tan dari penjara. Namun sayang Tan dan para pendukungnya harus mengalah. Ia memang bersalah karena telah menggunakan paspor palsu untuk masuk ke Filipina. Sepanjang 1925-1927, Tan memang tiga kali mondar-mandir Filipina. Paspornya berganti-ganti: Hasan Gozali, Elias Fuentes, Estahislau Rivera, Howard Law, atau Cheung Kun Kat. Tan bebas setelah para pendukungnya membayar 6000 peso sebagai jaminan. Namun kasusnya tidak sampai ke pengadilan karena pemerintah kolonial Amerika mengusir Tan keluar dari Filipina pada malam hari. Banyak kolega dan orang-orang Filipina yang mengantarnya ke kapal Suzanna yang akan mengangkutnya ke Amoy, Tiongkok.

Tak mudah bagi Tan untuk masuk ke Amoy. Statusnya sebagai seorang pejuang komunis dan orang buangan Filipina membuat Balaikota Internasional Amoy segera merapatkan barisan untuk menghadanganya di pelabuhan. Namun berkat kerja sama yang baik dengan kapten kapal Suzanna, Tan berhasil lolos setelah ia dititipkan di sebuah kapal inspeksi Tionghoa dan tinggal di Amoy secara sembunyi-sembunyi.

Pada 1930, Tan menyusup ke Sanghai dengan menyamar sebagai Ossario, wartawan Filipina untuk majalah Bankers Weekly. Oktober 1932, ia pindah ke Hongkong karena pecah perang Cina dan Jepang. Di Hongkong ia ditangkap lagi dan pada Desember ia dibuang lagi ke Sanghai. Tak berapa lama di Sanghai, Tan kabur dari kapal untuk menuju ke pulau Amoy dan mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Jerman. Ketika Jepang menyerang Amoy setahun kemudian, ia berhasil lolos ke Birma. 31 Agustus 1937, ia tiba di Rangoon, Birma dan tinggal selama sebulan di sana sebelum menuju ke Singapura.

Di negeri Singa, ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris dan matematika di sebuah sekolah Tionghoa dekat pelabuhan militer. Situasi Singapura yang saat itu berada di bawah kendali Inggris sangat tidak aman dan kondusif. Angkatan udara Jepang terus saja membombardir Singapura secara simultan. Maka jadilah Singapura ladang pertempuran antara tentara Jepang dan Inggris dalam merebut kekuasaan. Tan menjadi saksi mata semua peristiwa ini hingga Singapura akhirnya jatuh ke tangan Jepang.

Tan pun bergegas ke Penang, Malaysia pada April 1942 untuk terus berlayar menuju Medan. Selama kurang lebih 20 tahun hidup di pengasingan, Tan akhirnya kembali ke tanah airnya dengan mengunakan kapal tongkang. 10 juni 1942, ia menginjakan kaki di tanah Medan dengan nama samaran Legas Husein. Dari Medan ia menyusup ke Padang sebagai Ramli Husein dan masuk pulau Jawa melalui Lampung.

 

bersambung...

Ikuti tulisan menarik Ricko Blues lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu