Desain Bahasa Gagal Kognisi - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Kita perlu selalu membuat jembatan untuk memastikan komunikasi efektif

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Kamis, 4 Agustus 2022 07:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Desain Bahasa Gagal Kognisi

    Apakah hubungan antar manusia benar-benar telah dikembalikan di masa pandemi? Isolasi sebagai renungan psikososial "interpersonal" menjadi satu-satunya layar tragedi kehidupan, yang mungkin tidak akan pernah menjadi penawarnya, bahkan untuk desain budaya digital melalui "remote communication".

    Dibaca : 583 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menjelang berjalan malam, pelik menyesak haluan darah. Pertanyaan-pertanyaan pun pada akhirnya gugur bagaikan embun yang menjemput pecah di mana rintiknya melandas dengan meninggalkan satu-satunya pernyataan; “pertanyaannya adalah tidak ada pernyataan”, namun apakah benar bahwa, penyataan mampu membangun harapan bersama yang telah disepakati bersama? Nyatanya, harapan menjadi kosakata istimewa dalam membawa perjalanan manusia. Hingga, datang pada satu-satunya harapan, bahwa bertahan untuk tetap berjalan menjalani keseharian dengan kehancuran adalah masa depan yang pasti.

     

    Tepat pukul duapuluh kosong dua, seketika saya teringat satu grup musik yang berasal dari Jakarta, Naif dengan lagunya yang berjudul Dimana Aku Disini.

    Telah banyak kisah-kisah yang dituliskan oleh pujangga hingga filsuf sejak ratusan tahun yang lalu, bahwa kebersamaan/togetherness menjadikan satu-satunya harapan untuk meraih kebahagiaan/blissfulness hanyalah senyata imajinasi. Tidak ada seorang manusia yang benar-benar tahu akhir dari perjalanan tersebut, bahwa di dalam realitas hidup para penulis, mengukir rumpun kepedihan, menjadi teman hidup hingga ajal menjemput. Para punjangga hingga filsuf mampu merangkainya menjadi suatu proses baca siklus perjalanan hidup ke dalam ruangnya masing-masing, di dalam dunia yang diyakini tidak akan pernah menyakiti kebebasannya untuk bicara.

    Di sini, mutual/comity berkomunikasi manusia gagal. Bahkan perihal yang bersifat intersectionality seringkali menjadi dilema, khususnya di dalam lingkungan sosial dengan budaya subculture. Kini saya menjadi teringat pada satu acara, seorang wanita muda yang mencoba memberanikan dirinya untuk mengatakan pilihannya memakai burka. Dia merasakan keterasingan, dukungan yang didapat hanyalah penghakiman hingga penghinaan, bahkan, tuduhan yang lebih berdasar pada pemberitaan tentang konflik keagamaan yang kembali menjadi isu cukup kompleks ataupun sebaliknya, mereka yang menggunakan pakaian terbuka dihujat, dan dianggap gampangan/bispak/murahan.

    Bagaimana manusia yang baru saja menginjak masa remaja menelaah kehidupan bersosial dengan beban tertunduk sepanjang hidupnya? Apa fungsi mutual komunikasi; menilai atau mendengar?

     

    Take this kiss upon the brow!

    And, in parting from you now,

    Thus much let me avow —

    You are not wrong, who deem

    That my days have been a dream;

    Yet if hope has flown away

    In a night, or in a day,

    In a vision, or in none,

    Is it therefore the less gone?

    All that we see or seem

    Is but a dream within a dream.

    [A Dream within a Dream, Edgar Allan Poe]

    Menulis, bagaimanapun, suatu aktivitas pengalaman dalam membaca diri sendiri, menerima realitas diri sendiri, beradaptasi dengan menjadikan linimasa prosesnya sebagai suatu kontemplasi dinamika hidup tanpa membuat penilaian atas proses panjang pengalaman hidup sebagai masa yang baik atau masa buruk, bahkan menilai dirinya sendiri. Hal ini menjadikan aktivitas ingatan pada masa kanak-kanak saat melewati masa bosan di ruang kelas sekolah akan mencoba menggambar, menulis, pada carik akhir buku dan tidak jarang yang memiliki buku catatan harian, tumpahan emosi serta perasaan terpenjara di mutual komunikasi.

    Apakah kegagalan bahasa literasi sebagai mutual komunikasi menjadi landasan dalam psikososial atas concept of armour pada masyarakat modern? Bagaimana dengan fungsi memahami pendidikan di berbagai institusi hadir sekaligus membaca keterasingan dipicu di dalam aktivitas bersosial untuk satu-satunya ironi perjalanan manusia, individual psychology, yang tidak juga memiliki penawarnya di dunia kesehatan dan eksperimental medis. “Focus on clarifying what is being observed, felt, and needed rather than on diagnosing and judging” [Marshall B. Rosenberg]

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.