Tentang Imajinasi di Teluk Perkara - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Minggu, 14 Agustus 2022 06:01 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tentang Imajinasi di Teluk Perkara

    Ada renung yang hening perjalanan hidup serupa kuyup menggenang pada lorong-lorong rendah untuk merasakan “angin berhembus lemah-lembut”, dan berbisik, masih ada harapan untuk kembali menatap “Puncak kelapa melambai-lambai” sambil menikmati getar-getar notasi LoFi dalam imajinasi kota tentang segala perkara, tentang rindu di teluk Jakarta. Mungkin pernah menjadi suatu mitos sebelum berkembang dengan baik-baik saja bagi etika bersosial tentang budaya dan bijaksana. All the choir of heaven and furniture of earth in a word, all those bodies which compose the frame of the world have not any subsistence without a mind. [George Berkeley]

    Dibaca : 515 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ombak memecah di tepi pantai

    angin berhembus lemah-lembut

    Puncak kelapa melambai-lambai

    di ruang angkasa awan bergelut

    [Teluk Jayakatera, Amir Hamzah] 

    Pada hari Jumat di Jakarta. Lembab kota yang panas, dan senja bersama hujan digetarkan petir-petir sebelum terlelap dalam gelap yang meninggi. Ada renung kembali mengheningkan perjalanan hidup sebelum hitungan satu minggu untuk Agustus di tahun ini. Serupa kuyup kembali menggenang pada lorong-lorong pemukiman yang memilih rendah segala harapan tentang fana. 

    Hidup berjalan hingga terperanjat ke dalam lelah untuk perjanjian kosong

    Namun seperti yang ditulis Amir Hamzah, “di ruang angkasa awan bergelut”, mungkin ini selayar Alengka di saat berita-berita menyiar gaduh, angin tetap meneliti, bergerak lembut dalam perubahan iklim yang basah mendaur khatulistiwa. Gunung-gunung dan benua, hanyalah ruang-ruang di mana sunyi dan duka mengenangnya dengan begitu indah. Namun tidak dalam ingatan pikiran manusia. 

    Ada sungai-sungai berkeluk dalam ranting kanal-kanal semacam diagram saraf. Pertemuan antar ras dalam cakap kopi tubruk juga singkong rebus menjadi kenangan berbudaya di Jakarta. Yang gelisah menggubah pada kreasi denah-denah pemukiman hingga sistem pendapatan, dan gedung-gedung di saat semarak remaja mendendangkan syair-syair percintaan yang dipertemukan di ujung pantainya. 

    Rumah-rumah kayu, dan danau-danau menjadi imajinasi komedi putar dalam renungan megahnya kehidupan dari debu-debu yang menyusun gotan sekaligus industrial berjalan berdampingan hingga kini. Kenangan menyelimuti deras hujan saat ini, dan bersama kopi hitam dalam alunan musik LoFi mengingat kembali permainan masa kecil di lapangan serta kunjungan ke taman Anggrek di barat. 

    Sementara pecahan batu-batu dari dinding rumah yang telah tercampur lumut juga tanah, dupa tidak terlalu dibutuhkan, sebab guyuran hujan genap berbagi serumpun plural yang hadir alami. Mungkin pernah menjadi suatu mitos sebelum berkembang dengan baik-baik saja bagi etika bersosial tentang budaya dan bijaksana. "All the choir of heaven and furniture of earth in a word, all those bodies which compose the frame of the world have not any subsistence without a mind." [George Berkeley] 

    Jumat malam di Jakarta. Ada renung yang hening perjalanan hidup serupa kuyup menggenang pada lorong-lorong rendah untuk merasakan “angin berhembus lemah-lembut”, dan berbisik, masih ada harapan untuk kembali menatap “Puncak kelapa melambai-lambaisambil menikmati getar-getar notasi LoFi dalam imajinasi kota tentang segala perkara, tentang rindu di teluk Jakarta.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.