Cara Menyikapi Jaman Edan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 15 Agustus 2022 13:33 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Cara Menyikapi Jaman Edan

    Ronggo Warsito sudah mengatakan jamannya adalah jaman edan. Banyak juga yang mengatakan jaman kekinian juga jaman edan. Bagaimana kita mesti menyikapinya?

    Dibaca : 975 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Hampir semua orang Jawa generasi baby boomers mengenal frasa jaman édan, tapi belum tentu generasi di bawahnya.  Mari kita mengenang puisi karya anak bangsa  yang ditulis oleh  Raden Ngabèhi Ronggo Warsito dari Surakarta Hadiningrat.   Beliau menulis buku dalam bentuk puisi yang berjudul Serat Kalatida.  Di dalam salah satu baitnya beliau menulis tentang jaman édan sebagai berikut.

    Amenangi jaman édan

    Mengalami jaman édan

    éwuh aya ing pambudi

    Susah payah berupaya
    Melu édan nora tahan

    Ikut édan tidak tahan
    yèn tan mèlu anglakoni

    Kalau tidak ikut menjalani
    mboya kaduman mélik

    Tidak kebagian harta
    kaliren wekasanipun

    Akhirnya kelaparan
    nDilalah kersaning Allah

    Tapi kehendak Allah
    sak begja-begjaning kang lali

    Seuntung untungnya yang lupa
    luwih begja kang eling lan waspada

    Lebih untung yang ingat dan waspada.

     

    Saya tertarik dengan kata mboya dalam kalimat mboya kaduman mèlik.   Ini adalah sebuah kata kuno yang sinonimnya ora atau gak dalam dialek Jawa Timuran.  Kata ini sudah tidak dipakai dalam percakapan sehari hari di kalangan orang Jawa.  Meskipun demikian kata ini masih dipakai dalam percakapan di kalangan tertentu di Yogyakarta.  Ini adalah salah satu kosa kata dalam kromo Bagongan, sebuah ragam bahasa Jawa yang hanya dipakai di kalangan tertentu sehingga mayoritas orang Jawa tidak mengetahui keberadaannya apalagi memakainya.

    Édan yang dia maksud pastilah bukan penyakit jiwa tapi gambaran situasi yang tidak normal. Ronggo Warsito menggambarkan situasi ketika tatanan normal dijungkirbalikkan.   Moralitas diabaikan dan jalan yang melawan kelaziman dilewati dan mendapat hasil bagus.  Éwuh aya ing pambudi  kesulitan berupaya.  Cara cara yang berlawanan dengan moralitas lantas ditempuh.  Tapi mengikuti cara yang tidak benar itupun berat, dia gambarkan mèlu édan nora tahan.  Dan orang yang tidak ikut melakukan cara yang cacat moral itu tidak mendapatkan bagian bahkan akhirnya kelaparan atau kekurangan.  Tapi dia gambarkan juga bahwa orang orang yang mendapatkan keuntungan dengan menempuh jalan tidak benar itu masih kalah beruntung dengan orang yang éling lan waspada  ingat pada Allah swt, ingat pada jalan yang benar, jalan yang dirihoi Allah swt dan waspada kepada cara cara jahat.

    Saya yakin banyak di antara kita yang sudah melihat sendiri orang yang menghalalkan segala cara, menganggap semua cara itu halal.  The end justifies the means kata orang Barat.  Dalam kepustakaan Barat ada sebuah buku yang aslinya ditulis dalam bahasa Italia oleh Niccolo Machiavelli di abad kelimabelas berjudul Il Principe.  Dalam bahasa Indonesia padanan katanya adalah Sang Pangeran.   Isi pokoknya adalah ajaran untuk melakukan segala hal yang diperlukan untuk mencapai kekuasaan.  Prinsip moral dianggap tidak penting.  Jalan kotor yang berlawanan dengan moralitas dibolehkan asal tujuan tercapai.  Tanpa membaca buku itu banyak orang sudah mempraktekkannya. 

    Di Jawa sejatinya politik kotor sudah lama terjadi jauh sebelum Machiavelli menulis bukunya.  Tapi  kita tidak menulis buku petunjuknya.  Di satu sisi ada baiknya juga karena kita bisa lolos dari kezaliman tentara Mongol,   tapi akibatnya tradisi jalan kotor menjadi terbiasa.   Money politics adalah salah satu cara tercela tapi sayangnya sekarang sudah menjadi harapan masyarakat.

    Di bisnis tidak kurang banyak cara kotor ditempuh.  Selain prostitusi, pornografi, narkoba, penyelundupan, human trafficking, Illegal logging ada juga penimbunan barang.  Beberapa kali saya melihat sendiri kelangkaan air minum dalam kemasan.  Ketika harga sudah naik barulah barangnya muncul.  Agaknya ada sekelompok orang yang sengaja menimbun menunggu harga naik.  Inilah tindakan tercela.  Mencari keuntungan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat.

    Semua jalan buruk yang ditempuh itu meskipun membawa hasil cepat dan banyak sejatinya membawa dampak buruk.  Jadi mereka yang melakukannya sejatinya sedang merusak sistem sosial, ekonomi dan politik.

    Ronggo Warsito sangat bijaksana ketika mengingatkan bahwa orang yang éling lan waspada, yang ingat kepada Allah swt dan waspada terhadap cara kotor, sesungguhnya lebih beruntung.  Orang yang ingat kepada Allah swt artinya tunduk, patuh kepada aturanNya.  Maka dia tidak akan berani melanggar aturan Allah swt dalam segala bidang kehidupan karena mengetahui bahwa dampak buruk dalam jangka panjang akan mengenainya.

     

    Dalam jaman édan ini berpegang pada ajaran Allah swt menjadi semakin penting karena banyaknya ‘ranjau’ dalam banyak sektor kehidupan.  Godaan untuk melewati jalan pintas sangat banyak.  Semuanya menjanjikan keuntungan finansial dll.   

     

    Di sinilah pentingnya kita melakukan kaji banding ke manca negara terutama ke negeri yang sudah maju.  Di sana kita akan melihat masyarakat yang sudah maju ekonomi dan teknologinya.  Tapi apa yang terjadi?  Kemajuan ekonomi dan teknologi itu tidak membawa mereka ke jalan yang baik, yang menuju sorga.  Di Barat misalnya, living together alias kumpul kebo sudah lazim dilakukan dan itu hal yang diterima.  Itu tidak boleh disalahkan apalagi digrebeg.  Akibatnya banyak anak lahir di luar nikah dan ini dianggap lazim.  Kasus kekinian di Eropa juga menunjukkan sebagian besar mereka tidak memiliki akhlak mulia. 

     

    Traveling adalah salah satu perintah Allah swt.  Kalau sampai ada perintah artinya manfaatnya banyak.  Salah satunya adalah untuk belajar dari kehidupan sehigga kita tidak melewati jalan orang orang yang salah jalan.

    ”Katakanlah : “Berjalanlah kamu di muka bumi lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang orang yang berdosa”  (Al Qur’an surat An Naml ayat 69)

     

    Kalau Covid sudah berlalu sila jelajahi lagi mancanegara untuk belajar.  Backpacking bisa saja tapi lebih baik group yang dipandu seorang tour leader professional. Keuntungannya perjalanan Anda nyaman, lancar jaya dan Anda mendapat manfaat. Karena Anda mendapatkan insights dari seorang tour leader profesional.

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.