Terpesona Kesan yang Menyesatkan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 19 Agustus 2022 15:05 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Terpesona Kesan yang Menyesatkan

    Banyak orang memiliki pesona kuat lalu memengaruhi masyarakat bergaya hidup mewah. Banyak juga yang terpengaruh sedangkan kemampuannya rendah. Akibatnya banyak orang konyol. Bagaimana caranya agar tidak jadi korban gaya hidup mewah?

    Dibaca : 923 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Terpesona Kesan yang Menyesatkan

     

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

     

    Dalam bahasa Inggris ada kata art yang artinya seni.  Kalau seniman artist.  Kata artist ini masuk ke Bahasa Indonesia menjadi artis tapi menjadi agak beda karena dalam pemahaman masyarakat artis hanya seniman dan seniwati yang menjadi bintang film atau penyanyi.  Pematung, pemahat, penulis puisi, pelukis tidak disebut artis.  Sedangkan dalam KBBI : artis/ar·tis/ n ahli seni; seniman, seniwati (seperti penyanyi, pemain film, pelukis, pemain drama). Di dalam bahasa Inggris mereka juga termasuk artist.  Apa yang ada dalam pikiran masyarakat dengan apa yang ada di kamus memang bisa beda.

     

    Para artis ini memang memiliki kelebihan.  Selain memiliki ketrampilan dalam bidang seni, banyak dia antara mereka yang memang kecantikan dan kegantengannya di atas rata rata.  Tidak héran kalau mereka memiliki pesona yang kuat.  Apalagi ditambah dengan pemberitaan yang sekarang ini tidak hanya disampaikan oleh pers tapi juga media sosial.   Jadilah mereka ini mahluk istimewa yang menjadi pusat perhatian masyarakat.  Sebenarnya ini tidak khas Indonesia.  Di mana mana juga sama.  Ini fenomena global.

     

    Para pebisnis jeli memanfaatkan mereka untuk promosi dengan cara cara kekinian yang dulu tak terbayangkan.  Sekarang ada istilah influencer, orang yang ditugasi memengaruhi masyarakat untuk membeli produk tertentu.  Selain memakai media sosial mereka juga memakai produk yang diiklankan.  Harapan si pebisnis tentulah masyarakat meniru mereka lalu memakai produk tersebut. 

    Hanyut dalam gaya hidup mewah

     

    Saya percaya tindakan itu memang tentu ada dampaknya pada penjualan.  Tidak jarang saya melihat orang memakai sebuah produk karena terpengaruh iming iming iklan gaya hidup.  Mungkin anda juga sering melihat orang memakai telepon genggam  mahal sampai belasan juta rupiah dengan banyak fitur canggih tapi dia hanya bisa memakai untuk wa, mainan media sosial dan nonton video.  Jadi sebenarnya dia memboroskan banyak uang dengan sia sia.  Ada orang yang dengan sinis mengatakan “smartphone but stupid people”, atau bahkan mengatakan hpnya lebih canggih daripada orangnya.

     

    Itulah akibat dari sawang sinawang dalam bahasa Jawa.  Sawang artinya memandang.  Sinawang adalah bentuk pasifnya, artinya dipandang.  Maksudnya orang hanya melihat sebagian dari kenyataan  saja.    Masyarakat hanya melihat puncak gunung es berupa gaya hidup mewah dari para artis lalu mengidolakannya.  Mereka jadi ingin bergaya hidup mewah.  Mereka mengira kehdupan seperti itu adalah kehidupan impian, kehidupan bahagia.  Lantas tidak sedikit mereka yang ingin menjadi artis.   

     

    Bermimpi tentu boleh saja.  Tidak ada yang salah.  Meskipun demikian kalau melupakan kenyataan ya susah mencapainya.  Impian memang idealnya tinggi tapi agar bisa tercapai orang mesti melihat modal yang dia miliki.  Modal bukan hanya uang tapi bakat, minat, dan segala macam potensinya. 

    Daya baca dan daya pikir lemah

     

    Nenek moyang sudah mengingatkan bahwa kita memiliki kelemahan dalam memandang kenyataan.  Pandangan kita terbatas hanya satu sisi saja.  Hanya puncak gunung es saja yang terlihat lalu sudah menarik kesimpulan.   Ini semua kalau jaman sekarang dugaan saya adalah karena pengaruh kuat sosial media.   Seorang pejabat pernah mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia tinggi tapi sayang daya bacanya rendah.  Apa yang mereka baca adalah hp, itupun cuma wa, bukan buku.  Ada sih pembaca buku yang rajin, tapi persentasenya kecil.

     

    Cara pandang simplistik ini beresiko seperti tadi saya sebutkan – terpengaruh gaya hidup tinggi dari idolanya.  Mengira itulah kebahagiaan.  Sedangkan sejatinya belum tentu.  Jadi mereka ibarat mengejar fatamorgana.  Apa yang dikejar tidak akan pernah dicapai. 

     

    Pertanyaannya, bagaimana mengatasi masalah ini?

    Cara mengatasinya saya kira dengan banyak membaca.  Masalahnya masyarakat kita rendah daya bacanya.  Jadi lingkaran setan.  Tapi saya yakin masih ada harapan.  Salah satunya adalah para orang tua, terutama dari kalangan menengah, belajar menerapkan dan menularkan pengetahuan tentang parenting.  Ini karena peran orang tua kepada anaknya sangat pokok.  Kalau orang tua menanamkan kebiasaan membaca kepada anaknya, maka paling tidak di kalangan menengah akan tercipta generasi pembaca yang kuat daya bacanya.  Dengan demikian mereka tidak lagi memiliki cara pandang simplistik dan tidak mudah terpengaruh gaya hidup yang kurang sesuai dengan nilai nilai Islam.  Karena sesunguhnya bermegah megahan dilarang dalam Islam. 

    AT TAKAATSUR (BERMEGAH-MEGAHAN)

    SURAT KE 102 : 8 ayat

    1.Bermegah-megahan telah melalaikan kamu

    1. sampai kamu masuk ke dalam kubur
    2. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
    3. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui
    4. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
    5. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim
    6. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin ('Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat)
    7. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)

    Kalau dalam bahasa Jawa ada istilah kesiku yang artinya mendapat hukuman dari Tuhan karena bergaya hidup méwah. Lain kali insya Allah kita bahas cerita wayang yang memuat nilai nilai tersebut.

    Penutup

     

    Sekarang banyak orang yang memiliki daya pesona kuat di masyarakat. Mereka memengaruhi masyarakat untuk membeli dan memakai berbagai produk. Di sisi lain mayoritas anggota masyarakat memiliki daya baca dan daya pikir yang lemah. Akibatnya mereka mengidolakan dan mengejar gaya hidup mewah. Sedangkan kemampuan mereka pas pasan saja.  Maka banyak sekali korban gaya hidup tinggi. Oleh karena itu diperlukan langkah oleh kalangan menengah untuk memengaruhi angota masyarakat agar tidak hanyut dalam pengaruh hedonisme.  Para orang tua sebaiknya belajar parenting. Perluas bacaan.  Kemudian tanamkan kebiasaan membaca pada anak anaknya.  Lebih baik lagi kalau menularkan kebiasaan membaca pada masyarakat.  

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Dien Matina

    2 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 168 kali