Sesepuh dan Pinisepuh - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 3 September 2022 07:39 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Sesepuh dan Pinisepuh

    Banyak orang sekedar menjadi tua. Ada lagi yang dituakan. Apa bedanya?

    Dibaca : 853 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bambang Udoyono, penulis buku

    Kosa kata bahasa Jawa mungkin lebih luas daripada bahasa Indonesia. Saya tidak tahu pasti sih, karena belum pernah menghitungnya. Jadi ini hanya perkiraan saja. Saya ingin mengambil contoh kata sesepuh dan pinisepuh. Dalam bahasa Indonesia padanan kata tersebut adalah tua. Meskipun demikian sejatinya kurang tepat. Dalam bahasa Jawa ada juga kata tuo ( huruf o diucapkan seperti dalam kata wall) sebagai padanan kata yang pas untuk tua. Sedangkan kedua kata tadi memiliki pengertian agak lebih lengkap.

    Tua dan dituakan

    Sesepuh artinya orang yang sudah lama hidup di dunia. Oleh karena itu dia dihormati. Masyarakat yang beradab pasti akan menghormati orang yang lebih tua. Dalam budaya Jawa penghormatan itu diungkapkan dengan memakai bahasa kromo inggil atau bahasa halus. Kosa katanya berbeda dengan kromo madyo (bahasa menengah) dan ngoko (bahasa akrab).

    Pinisepuh artinya dituakan. Bisa jadi dia belum lama hidup di dunia, namun dia diperlakukan dengan hormat, dituakan, ditokohkan karena kebijaksanaannya, karena ilmunya, karena sifatnya yang baik hati, penolong, pemecah masalah, ulama dsb.

    Bisakah keduanya menyatu? Saya yakin bisa. Orang yang sudah lama tinggal di dunia sekaligus bijaksana tentu banyak jumlahnya, tapi kalau persentasenya saya yakin minoritas, meskipun saya tidak tahu pasti angkanya. Jadi sesepuh sekaligus pinisepuh adalah orang yang sudah lama hidup di dunia sekaligus bijaksana, kaya ilmu, bersifat baik hati, penolong dsb.

    Proses menuju kematangan

    Menjadi sesepuh sangat mudah. Semua orang bisa jadi sesepuh karena tidak memerlukan upaya apapun. Orang yang menganggurpun bisa jadi sesepuh suatu hari nanti kalau Allah memberinya umur panjang. Tapi tidak mudah menjadi pinisepuh karena perlu usaha, kerja keras, waktu dsb. Bayangkan berapa banyak waktu dan enerji yang dialokasikan untuk menguasai ilmu, merenung, berpikir, olah batin dsb sehingga dia mencapai suatu tahapan yang hanya sedikit orang saja mampu mencapainya.

    Bijaksana

    Penguasaan ilmu dan kebijaksanaan itu membutuhkan upaya keras, meskipun demikian orang yang oleh Allah dikarunia kelebihan tertentu mampu menguasainya dengan cepat sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Orang yang demikian mampu belajar dari sekolah dan dari kehidupan, dari ayat al Qur’an dan dari ayat kauniyah. Dia belajar tidak hanya dari pengalamannya sendiri saja.

    Sebaliknya orang yang memang lemah, meskipun sudah lama hidup di dunia dia tidak mampu menguasai banyak ilmu apalagi kebijaksanaan. Meskipun dia memiliki banyak pengalaman, belum tentu dia mampu belajar dari pengalamannya. Maka dia hanya menjadi sesepuh saja. Jadi kemampuan belajarlah faktor pembedanya.

    Hikmah

    Orang yang mendapat hikmah adalah puncaknya. Orang seperti ini tidak hanya memiliki ilmu akal dan banyak pengalaman saja. Orang yang memiliki hikmah ini adalah orang yang mendapat pencerahan. Tentu saja karena dia betul betul mengabdikan diri secara total kepada Allah swt. Hatinya bersih dan sehat. Pikirannya cerdas dan membawa manfaat. Tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya tapi juga untuk masyarakat. Dia memiliki karya yang membawa manfaat untuk liyan. Dia ini ibarat rembulan atau bahkan matahari.

    Di dalam Al Qur’an ada gambaran orang yang diberi hikmah.

    “Allah menganugerahkan hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)

    Menebar manfaat dengan menulis

    Itulah sebabnya pinisepuh sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Merekalah yang mampu memberi sumbangan positif kepada masyarakat. Akan lebih baik lagi kalau mereka juga menuliskan pengalamannya, ilmunya, kebijaksanaannya dalam bentuk buku. Dengan demikian akan semakin banyak orang yang mendapat manfaat dari ilmunya dan kebijaksanaannya.

    Benang merah

    Seseorang menjadi sepuh dengan perjalanan waktu. Tidak perlu ada upaya. Semua orang bisa jadi sepuh kalau diijinkan tinggal lama di dunia oleh Allah. Tapi menjadi pinisepuh tidak mudah. Dia adalah orang yang menguasai ilmu akal dan bijaksana. Bahkan mungkin dia mendapat hikmah.

    Jadi mari kita berupaya menjadi pinisepuh, tidak sekedar sesepuh dan menuliskan ilmu dan kebijaksanaan kita agar tersebar ke masyarakat. Monggo.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 215 kali