Untuk Apa Menangis? - Humaniora - www.indonesiana.id
x

ilustr: PhillyVoice

Fitria Wulan sari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Oktober 2020

Senin, 12 September 2022 21:03 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Untuk Apa Menangis?

    Masyarakat selama ini telah mengidentikkan aktivitas menangis sebagai bentuk ketidakmampuan, kelemahan, dan hal-hal inferior lainnya. Padahal jika menangis dibebaskan dari segala citra yang dikonstruk oleh masyarakat, menangis hanya bagian dari aktivitas kemanusiaan seorang manusia.

    Dibaca : 490 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebagai orang dengan gangguan mental, menangis menjadi bagian dari hidup saya. Meskipun ketika stabil (dari gejala gangguan mental), saya cukup jarang menangis di depan orang lain. Hingga di suatu diskusi kecil, ketika saya diminta menceritakan pengalaman sebagai seseorang dengan gangguan mental, salah satu audiens menanyakan pendapat saya tentang menangis. Si penanya menyatakan bahwa ia pribadi yang mengharamkan menangis. Oleh karena itu ia seringkali menahan diri ketika akan menangis.

    Saat itu saya refleks menanyakan kembali, siapa sebenarnya yang mengkonstruksikan bahwa menangis merupakan aktivitas seorang pengecut dan lemah? Karena jika kita membebaskan aktivitas menangis dari segala citranya, maka kita seharusnya melihatnya sebagai aktivitas yang netral. Tidak hanya melekat pada jenis kelamin tertentu ataupun kepribadian tertentu. Semua orang harusnya bebas menangis.

    Menangis adalah hal yang alamiah, ia muncul sebagai ekspresi bahwa kita sedang merasakan ledakan perasaan. Baik itu emosi senang, malu ataupun sedih. Menangis adalah cara kita untuk menemukan kembali keseimbangan setelah mengalami ledakan perasaan tersebut. Tuhan memberikan kita fasilitas untuk menangis sebagai manusia, sehingga orang lain tau apa yang kita rasakan. Bisa jadi juga untuk kebaikan jiwa kita sendiri.

    Ketika kecil kita menangis untuk berkomunikasi, sebab kita belum mampu mengekspresikan perasaan atau kebutuhan kita menggunakan bahasa yang ada. Bayi akan menangis jika ia merasa lapar atau merasa tidak nyaman dengan popoknya yang penuh. Balita biasanya akan menangis bila terjatuh untuk mendapat pertolongan dan perhatian.

    Namun dikarenakan ketidakmampuan orang dewasa, sedari kecil kita terbiasa dengan asumsi bahwa menangis adalah aktivitas yang buruk. Menangis seolah-olah hanya dilakukan oleh seorang yang lemah, pengecut, dan menyusahkan. Orang dewasa sebenarnya hanya merasa tidak nyaman dan kebingungan ketika menghadapi anak yang sedang menangis. Maka mereka akan mengatakan hal-hal tersebut untuk membuat kita diam. Kita menjadi anak baik jika kita tidak menangis. 

    Ekspektasi paling besar jelas diletakkan pada anak laki-laki. Sebab, menangis kontradiktif dengan sikap laki-laki yang tangguh, kuat, pemberani, dan jantan. Mereka akan mewajarkan bahwa laki-laki memang sepatutnya tidak menangis. Karena dianggap melukai harga dirinya sebagai laki-laki.

    Padahal tindakan tersebut mengingkari kenyataan bahwa laki-laki juga manusia. Mereka memiliki perasaan, emosi dan ekspresi untuk dinyatakan. Namun karena beban maskulitas, laki-laki dipaksa untuk menahan untuk tidak menangis. Dampak buruknya? Semua ledakan yang tidak bisa dimanifestasikan ini akan menumpuk dan seperti bom waktu, tidak ada seorangpun yang tau kapan ledakan besar itu terjadi. Bisa jadi cara memanifestasikannya dengan melakukan kekerasan pada orang lain atau yang terburuk, mengakhiri hidupnya. WHO punya data bung, laki-laki lebih berkecenderungan bunuh diri dibanding perempuan. Ini karena beban psikologis yang terus menumpuk tanpa bisa dimanifestasikan.

    Maka menangis jangan hanya dianggap sebagai bentuk ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi masalah hidupnya. Menangis adalah ekspresi kemanusiaan. Kita manusia, jadi kita bisa menangis. Menangislah untuk hal-hal yang membuat kita kebanjiran luapan perasaan. Tidak apa menangis ketika melihat liputan korban bencana alam. Tidak apa menangis jika gagal dalam kompetisi. Tidak apa menangis jika ditinggalkan seseorang. Tidak apa menangis ketika segala mimpi kita tercapai. Dan tidak apa menangis karena iron man mati dalam film Avengers.

    Mari memanusiakan orang yang menangis dan luangkanlah waktumu untuk menangis.

     

    Salam, manusia.

    Ikuti tulisan menarik Fitria Wulan sari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 215 kali