Ironi O Nusantara - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 21 September 2022 18:49 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Ironi O Nusantara

    Ada desain konstruksi huruf pada kaligrafi untuk simbol O atau oculi/plural yang menyusun nuansa kedekatan langsung melalui keberjarakan; nuansa cahaya kegelapan. Peperangan dan perdamaian menjadi proses tarik ulur terhadap jalan hidup manusia sebagai mahluk personal sekaligus sosial. Pada akhirnya, masa pandemi hanyalah tentang cara berdamai pada yang asing sebagai atas nadirnya pengabdian dalam evolusi kebudayaan.

    Dibaca : 473 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ironi hebat post-postmodernism sepertinya akan menjadi catatan panjang yang sedang terlampirkan sebagai evolusi kebudayaan untuk kembali memaknai pengabdian/ attacher/ attachment. Hanya saja, di dalam prakteknya, suatu realitas akan dihadapkan pada proses penyangkalan yang bersifat kreatif hingga manuver imajinasi. Hal ini serasa ulang alik pemikiran untuk kembali kepada Plato; the idea of utopia. Esa menjadi titik balik peradaban manusia menjelma yang total merasakan emosi sebagai saksi/akshi proses pembebasan kedirian terhadap diri sendiri atas intuisi, simpati, hingga tanggung jawab.

    Ada disain konstruksi huruf pada kaligrafi untuk simbol O atau oculi/plural yang menyusun nuansa kedekatan secara langsung melalui keberjarakan; nuansa cahaya kegelapan.

    Peperangan dan perdamaian menjadi proses tarik ulur terhadap jalan hidup manusia sebagai mahluk personal sekaligus sosial. Shakuntala dalam manuskrip Kalidasa mendadak membawa ingatan saya atas tahun-tahun yang berjalan selama masa pandemi ini. Naskah epik yang untuk pertama kalinya diterjemahkan oleh Sir William Jones, sekaligus menjadi inspirasi penyair Jerman: Goethe. Sebuah naskah yang memenuhi haru pertemuan antara timur barat di dalam pemanggungan opera gubahan Franz Schubert yang tidak pernah selesai sebagai komposisi musik. Rabindranath Tagore menjadi salah satu budayawan India yang melakukan penelitian mendalam tentang Shakuntala.

    Begitu pula terhadap diri saya secara personal, tentang naskah Shakuntala, yang telah memberikan dampak gelapnya kepedihan mendalam saat penyisiran menuntut penyamaran atas peperangan diri untuk satu-satunya mimpi perdamaian. Seni, kembali menjadi bahasa terdekat yang paling romantis sekaligus tragis, yang tidak dapat diabaikan begitu saja, yang menusuk dengan cara memabukkan. Di sini, pertanyaan saya kembali tergelincir untuk suatu jalan panjang evolusi kebudayaan.

    Apakah evolusi mampu mendayung gulungan individualitas manusia sebagai sekoci kebudayaan?

    Pada akhirnya, masa pandemi hanyalah tentang cara berdamai pada yang asing sebagai pengasingan atas nadirnya pengabdian dalam evolusi kebudayaan. Hal itu mendesak gugur pugar secara total pada new world order yang tidak pernah benar-benar dipersiapkan para pelaku kebudayaan. Juga oleh akademisi yang memiliki perannya masing-masing di ruang seni, budaya, dan pendidikan. Hal yang demikian tragis bahwa, di atas daratan yang damai untuk tenggara (pasifis), masyarakat masih terbata membaca tradisinya sendiri dan menyangkal realita budaya yang sifatnya bergerak.

    Bahwa, yang hilang bukanlah peristiwa budaya melainkan manuver imajinasi yang memperjelas hegemoni keterpaksaan menjadi landasan jalinan antarbudaya. Pembentukan identitas tetap bersifat interaksi ekonomi sebagaimana manusia dengan manusia beserta manusia dengan alam sekitarnya memproduksi lampiran pamrih.

    Penyatuan bukan hanya kerja keras yang dilimpahkan begitu saja kepada negara walau itu memang fungsi negara sebagai eksistensinya. Namun, ada kolaborasi selayaknya lakon drama yang tetap membutuhkan manusia sebagai pelaku/pemeran lakon-lakonnya dengan cara paling fleksibel dan sehati-hati mungkin untuk setia melatih kediriannya; pertimbangan yang mempertimbangkan peperangan serta perdamaian.

    Mungkin, inilah catatan khusus bagi para pelaku kebudayaan antara karya juga inovasi pemikiran akan berdampak langsung terhadap tradisi saat evolusi budaya menuntut totalnya yang plural penuh keyakinan tentang pengabdian hidup yang hidup.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.