Mampukah Indonesia Menuju Swasembada Jagung pada 2024? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Swasembada Jagung

Alfina Julianti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Jumat, 23 September 2022 07:24 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mampukah Indonesia Menuju Swasembada Jagung pada 2024?

    Membahas mengenai produksi komoditas jagung di Indonesia beserta datanya.

    Dibaca : 1.415 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jagung merupakan komoditas strategis kedua setelah komoditas padi. Sebagai salah satu komoditas utama dunia, jagung sangat digemari masyarakat. Bahkan jagung digadang-gadang bisa menjadi pengganti beras di masa depan karena dianggap sama-sama mengandung karbohidrat dan tak kalah bergizi.

    Di sisi lain, jagung mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam peningkatan perekonomian Indonesia. Komoditas ini mempunyai fungsi multiguna, baik untuk konsumsi langsung, sebagai bahan baku utama industri pangan dan industri pakan, bahkan di beberapa negara sudah dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi.

    Menyadari semakin pentingnya peranan jagung kedepan dan dalam rangka penguatan ekosistem pangan serta penguatan pangan nasional, Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi jagung, termasuk melalui ekstensifikasi dan intensifikasi lahan. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan komoditas jagung dengan menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024.

    Untuk mencapai target produksi jagung, pemerintah mendorong pengembangan jagung hibrida, budidaya jagung wilayah khusus, pengembangan jagung pangan serta di kawasan sentra produksi pangan/food estate. Dapat diakui bahwa potensi peningkatan produksi jagung dalam negeri cukup besar. Hal ini berasalan, karena Indonesia memiliki beberapa keunggulan, seperti potensi lahan yang cukup luas, iklim yang mendukung, tersedianya teknologi pengembangan jagung, inovasi jagung yang sudah cukup banyak, tenaga kerja yang banyak, dan mekanisasi yang sudah berkembang.

    Berdasarkan data prognosa Kementrian Pertanian dan BPS, luas panen jagung nasional dari Januari hingga Desember 2021 adalah sebesar 4,15 juta Ha, produksi bersihnya sebesar 15,79 juta ton dengan Kadar Air (KA) 14%. Sedangkan kebutuhan jagung setahun untuk pakan, konsumsi, dan industri pangan totalnya sekitar 14,37 juta ton sehingga masih ada cadangan jagung nasional sekitar 1,42 juta ton. Cadangan itu kemudian ditambah dengan stok akhir Desember 2020 (carry over) sebesar 1,43 juta ton sehingga diperoleh stok jagung nasional 2021 sebanyak 2,85 juta ton.

    Dengan demikian, dari data statistik itu, upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung di tahun 2021 memberikan hasil yang cukup memuaskan, dengan kata lain kebutuhan nasional terpenuhi. Dengan terpenuhinya kebutuhan nasional tersebut membuat Indonesia terjauhkan dari keran impor jagung yang merugikan petani.

    Data statistik yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor jagung Indonesia pada tahun 2020 mencapai US$ 172,65 juta atau mengalami penurunan sebesar 18,82% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2021, nilai impor jagung Indonesia mencapai US$ 297,3 juta atau mengalami kenaikan sebesar 41,93% dari tahun sebelumnya.

    Grafik Nilai dan Volume Impor Jagung Indonesia 2011-2021 (Sumber: Badan Pusat Statistik)

    Jika dilihat trennya, nilai impor jagung Indonesia mengalami fluktuasi dalam sepuluh tahun terakhir. Nilai impor jagung sempat turun ke titik terendahnya pada tahun 2017 dengan nilai sebesar US$ 114,08 juta.

    Berdasarkan nilai impor tersebut, hingga saat ini, Indonesia masih belum mencapai swasembada jagung. Namun, tidak menutup kemungkinan di tahun 2024 melalui besarnya upaya Indonesia dalam meningkatkan produksi jagung dengan berbagai terobosan dapat mewujudkan swasembada jagung serta menjadikan Indonesia sebagai lumbung jagung dunia. Indonesia diharapkan tidak bergantung lagi dengan negara lain dalam hal ini dan menjadi negara yang mampu dan mandiri dalam pemenuhan kebutuhan masyarakatnya.

    Ikuti tulisan menarik Alfina Julianti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.