Invasi Rusia dan Kebijakan Covid-19 Sebabkan Dunia di Ambang Krisis Ekonomi - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) memantau pergerakan persenjataan berat di Ukraina Timur, 4 Maret 2015. Wikipedia

Berita Geopolitik

Pengabar Berita Internasional
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Rabu, 28 September 2022 12:20 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Invasi Rusia dan Kebijakan Covid-19 Sebabkan Dunia di Ambang Krisis Ekonomi

    Invasi Rusia ke Ukraina dan efek pandemi Covid-19 berkepanjangan membuat pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan tajam. Tak hanya itu, tingkat inflasi juga akan tetap tinggi hingga tahun depan. Pertumbuhan ekonomi tahun depan diprediksi hanya mencapai 0,3 %. Memang gawat!

    Dibaca : 719 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Invasi Rusia ke Ukraina dan efek pandemi Covid-19 yang berkepanjangan akan membuat pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan lebih dari yang diharapkan. Tak hanya itu, tingkat inflasi juga akan tetap tinggi setidaknya hingga tahun depan.

    Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini hanya mencapai 3 % dan akan menurun hingga 2,2 % pada tahun berikutnya. Penurunan ini merepresentasikan sekitar 2,8 triliun Dollar yang hilang dalam perputaran ekonomi global.

    Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)

    Perang di Ukraina telah meningkatkan harga pangan dan energi di seluruh dunia.  Rusia sebagai kekuatan utama energi dunia, pupuk, dan biji-bijian—bersama Ukraina—ke seluruh dunia telah menyebabkan jutaan orang di dunia menderita kelaparan. Sementara kebijakan lockdown akibat pandemi Covid-19 telah menutup sebagian besar arus ekonomi China.

    “Perang, beban energi, dan harga pangan yang tinggi, serta kebijakan Covid-19 yang diambil China, berarti pertumbuhan ekonomi akan menurun dan inflasi akan meningkat,” kata Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann, seperti dikutip dari Associated Press .

    Inflasi dan tekanan pada ketersediaan energi telah membuat OECD menempatkan pertumbuhan ekonomi tahunan akan melambat pada angka 1,5 % di Amerika Serikat dan hanya pada angka 0,5 pada tahun berikutnya.

    Lembaga yang berbasis di Paris ini juga memperkirakan pertumbuhan ekonom tahun ini hanya akan mencapai angka 1,25 % di 19 negara yang menggunakan mata yang Euro. Dengan kondisi ini, terdapat risiko penurunan yang lebih dalam di beberapa negara Eropa terutama di bulan-bulan musim dingin. Pertumbuhan ekonomi tahun depan diprediksi hanya mencapai 0,3 %.

    OECD juga mencatat terdapat ancaman krisis energi di Eropa karena Rusia mengurangi suplai gas alam yang dibutuhkan untuk menghangatkan rumah, memasok listrik, dan menggerakkan pabrik-pabrik. Krisis energi ini akan menyebabkan harga-harga di seluruh dunia meningkat dan memaksa pelaku-pelaku usaha untuk melakukan penjatahan dan mendorong banyak negara-negara Eropa berada dalam resesi di tahun depan.

    Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di China diprediksi akan menurun hingga 3,2 % pada tahun ini. Kecuali pada 2020, ketika pandemic Covid-19 muncul, tren ini akan menjadi pertumbuhan ekonomi China paling rendah sejak 1970-an. OECD memprediksi pertumbuhan ekonomi di China akan sedikit meningkat di angka 4,7 % pada 2023.

    Tingkat inflasi diharapkan akan menurun secara bertahap pada 2023 untuk negara-negara yang tergabung dalam G20 karena bank sentral terus menaikkan suku bunga sementara perekonomian tumbuh melambat. Sementara inflasi utama diproyeksikan menurun dari 8,2 % di tahun ini menjadi 6,6 % pada 2023 di negara-negara G-20, meskipun pencapaian itu masih terbilang jauh dari target bank sentral sebesar 2 %.

    “Situasi ekonomi yang menantang ini akan membutuhkan kebijakan-kebijakan yang berani, dirancang, dan dikoordinasi dengan baik,” kata Corman.

    Berkaca dari situasi ini, OECD menyarankan untuk memberikan bantuan jangka pendek pada orang-orang yang paling terdampak karena kenaikan harga-harga. Selain itu, diperlukan kerjasama internasional untuk menaikkan harga suku bunga dan kebijakan iklim untuk mencari energi-energi alternatif dan memperkuat pasokan makanan.

     

    Ikuti tulisan menarik Berita Geopolitik lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.