Tulislah Sesuatu yang Dikenal Baik - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sumber foto: sirclo.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 29 September 2022 16:49 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Tulislah Sesuatu yang Dikenal Baik

    Banyak orang ingin menjadi penulis atau ingin menulis artikel dan buku. Tapi mereka masih bingung menemukan thema dan topik yang akan ditulis. Berikut ini salah satu prinsip yang memudahkan proses menulis.

    Dibaca : 867 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tulislah Sesuatu yang Dikenal Baik

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Pekerjaan seorang penulis ya menulis setiap hari.  Sama seperti profesi lain yang harus dilakukan setiap hari.  Apa yang harus ditulis?  Banyak.  Saking banyaknya thema yang bisa ditulis banyak orang jadi bingung memilih.    Menulis memang tidak mudah.  Tapi juga tidak susah susah amat.  Paling tidak ada beberapa hal yang memudahkan.  Inilah salah satu di antaranya.

     

    Write about the familiar. Menulislah tentang sesuatu yang dikenal baik. Demikian saran para pakar.  Sederhana saja prinsip ini tapi sangat logis.  Kita bisa menulis dengan baik hanya tentang sesuatu yang dikenal dengan baik.  Bagaimana mungkin menulis tentang sesuatu yang tidak dikenal dengan baik atau bahkan tak dikenal sama sekali? 

     

    Salah satu contoh terbaik adalah trilogi Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar.    Dia menulis kisah cinta di kalangan mahasiswa UGM. Pas sekali jadinya. Karena dia bekerja sebagai dosen di FISIPOL UGM.  Setiap hari dia bergaul akrab dengan mahasiswanya.  Maka ceritanya bisa jadi hidup. Gambarannya pas sekali.  Meskipun dia bukan orang Jawa tidak masalah karena di UGM memang banyak mahasiswa dan dosen yang non Jawa.  Dia bahkan mampu menampilkan mahasiswa non Jawa dalam novelnya. Di sinilah salah satu kekuatannya.

     

    Ahmad Tohari yang menulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk juga menulis tentang kehidupan masyarakat desa yang diakrabinya.  Karena sudah menyatu dengan masyarakatnya maka gambarannya menjadi hidup, mengalir lancar dan enak dibaca. 

     

    Habiburahman El Shirazi menulis Ayat ayat Cinta dengan latar belakang kehidupan mahasiswa di Mesir dengan apik.  Dia memang pernah tinggal di Mesir untuk belajar.  Maka gambarannya tentang kehidupan mahasiswa di sana bisa sangat hidup.

     

    Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi dengan latar belakang kampung halamannya sendiri di Belitong.  Maka dia mudah memberikan gambaran yang memikat tentang situasi di sana.

     

    Orhan Pamuk, pemenang hadian Nobel sastra tahun 2006 dari Turki menulis novel dengan latar belakang Turki.  My Name is Red, Snow dan Istambul, semuanya mengambil setting di Turki.  Maka deskripsinya sangat akurat, rinci dan hidup.

    Demikian juga Dan Brown.  Semua karyanya mengambil setting di Barat yang dia kenal baik.  Themanya juga sangat dia kuasai.

     

    Semua karya itu sangat terasa gregetnya.   Karena para penulis itu menulis tentang sesuatu yang diakrabinya sehingga mereka bisa menulis dengan rasa. 

     

    Godaannya adalah ketika penulis ingin menyamarkan sebuah kejadian lalu mengganti latar belakangnya.  Di sinilah ada resiko.  Kalau penulis memilih tempat yang tidak dia akrabi maka ada resiko gambarannya akan menjadi hambar.  Ketika melukiskan sebuah kampus misalnya.  Memang ada kemiripan suasana di banyak kampus.  Tapi tetap saja kampus tempat penulis kuliah adalah yang paling diakrabi.  Jangan tergoda memakai kampus lain karena bisa kehilangan rasa dan ketelitian.  Pembaca yang jeli akan mampu mendeteksi bahwa si penulis bukan warga kampus tersebut.  Misalnya saya yang dulu kuliah di UGM lalu saya melukiskan kehidupan kampus lain, akan terasa hambar. Karena saya tidak memiliki ikatan emosional dan kurang tahu rinciannya.

     

    Ikatan emosional ini sangat penting karena faktor inilah yang menimbulkan greget ketika kita menggambarkannya. Kalau soal rincian bisa saja kita pelajari dengan mendatangi tempat tersebut. Tapi ikatan emosional hanya bisa tercipta kalau kita memang benar benar kuliah di kampus tersebut.

     

    Demikian juga budaya.  Lukiskan budaya yang paling kita akrabi.  Saya yang orang Jawa ya selalu menulis dengan latar belakang budaya Jawa. 

    Bagaimana kalau kita ingin menulis buku panduan perjalanan ke manca negara?  Ya kita mesti akrab dulu dengan tempat tersebut.  Kita sebagai penulis harus ‘nyambung’, dan harus punya ikatan batin atau menyukai tempat tersebut.  Lagipula anglenya juga harus sesuatu yang akrab.  Kalau saya ya dari angle seorang tour leader. 

     

    Menulis memang susah susah gampang.  Menerapkan prinsip ini sebenarnya mudah tapi bisa meleset juga.  Maka latihan rutin menjadi penting.  Writers write  kata orang Barat.   Penulis ya menulis setiap hari.  Insya Allah akan ada kemajuan.  Monggo berlatih menulis setiap hari. 

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.