Cerita Setan (6) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

digital image by Tasch 2022

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Minggu, 2 Oktober 2022 07:04 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cerita Setan (6)

    Cerita Setan (6) Seri iblis vs iblis. Cerita imaji, kesombongan kelewat batas, nyinyir isme, semoga tak ada di negeri ini. Amin. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 519 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cerita Setan (6)
    Seri (6): Menembak Iblis

    Akhirnya, ia berani menembak kepalanya, pecah berkeping, remukredam hancurlebur jadi bubur. Dia melihat jasadnya bersimbah darah mendidih seperti magma. Ruhnya mengejar jasadnya berlarian kian kemari. 

    Dia teriakteriak memohon pertolongan, namun seperti berteriak di ruang hampa, hanya gema entah suara siapa, seperti mengaum, menghardik. Ruhnya akan meledakan jasadnya. Menyaksikan kejadian kejarkejaran itu.

    Jasadnya, menangis, bersimpuh memohon ampunan kepada siapa saja, tak terkecuali, kepada uburubur, kepada hiu di lautan, kepada mastodon pemakan bangkai beterbangan di udara, ruhnya mengancam dirinya. 

    **

    Dia memohon dengan berbagai mantra carangan tak terpahami sekalipun oleh dirinya sendiri. Suarasuara mengaum semakin membahana, keseluruh pelosok manapun hingga ke lubang semut seluas lingkar rambut sekalipun. 

    Ketika dia mengucapkan nama tokoh dianggap suci olehnya, sebagai sosok panutannya, dia lupa nama tokoh itu siapa. Sebab begitu banyak berhala menjadi susuk di tubuhnya. Dia menyembah kuburan apa saja hingga kuburan makhluk serangga un.dur un.dur sekalipun. 

    Dia sungguh tak paham mengapa ruhnya tak bercahaya seperti kisah film pernah ditontonnya. Padahal ketika menonton, tokohtokoh di film itu, mati sangat indah, dengan ruh menyala bercahaya bagai suci, seperti keinginan citacita utama dirinya.

    Namun, kini, diluar sangkanya, kalau akhir dari ruhnya akan berakhir seburuk nian seperti ini. "Sumpah mati deh," kata hatinya, dia tak memahami hal kematiannya menjadi sepandir itu, ruhnya sendiri memburu dirinya.

    **

    Ruhnya sendiri kesal melihat jasad dirinya terus dikejar oleh darah tengah menggelegak didih bak bara magma menyala, membakar apapun, menjadikan api, apapun telah dilalui jasadnya berikut kepalanya, hancur, bersama otaknya tetap ikut berlarian kian kemari pula.

    Ruhnya lelah melihat kejadian itu, namun dia tak memiliki kuasa investasi saham dalam bentuk apapun, guna menyelamatkan jasadnya. Dia ingin menangis, ingin melolong serigala di bawah purnama penuh, semirip film telah di tontonnya pula. Namun hal itu tak jua mampu dia lakukan.

    Ruhnya bagai pula ikut mati, bersama citra dari citacita dirinya ingin jadi tokoh bermanfaat bagi sesama, dengan cara apapun, tak peduli, terpenting sukses, meski terlihat bak satria cengeng mengancamkan pistol plastik kemulutnya sendiri sebagai sang pengecut, terkentut kentut ketika bencana kecil merobohkan peranannya.

    Dia, hanya berani menindas sesama lebih lemah, lebih kecil, seakanakan hidup hanya miliknya, seolaholah berhala idolanya, mampu membelanya. Jimat anti mati dipinggangnya, tetap benda mati, tak bergeming membela dirinya. Ketika dia terkencingkencing di tengah bencana kecil merobohkan kesombongan materialisme pemuja jimat. 

    Dia, hanya memberhalakan dirinya. Hanya itu, dia ingat, kesombongan sebagai pemilik beragam senjata automatis-oral banget, semasa hidupnya. “Bodoh nian aku ini,” kalimat itu meluncur begitu saja dari ruhnya, sembari meludahi jasadnya. 

    **

    Kinipun dia tak percaya, ragu. Apakah benar dia telah memiliki keberanian menembak kepalanya sendiri, seberani itukah dia, meski dirinya terkencingkencing sebelum mati, atau hanya, lifestyle saja, selayaknya kaum penggertak pengguna teror katakata, meski sesungguhnya mereka melemahkan diri sendiri. Hanya, jadi pejantan sesaat di tengah kelompok bertaring palsu. Pengecut kelas satu di era rovolusi teknologi beradab. 

    Sedih dia, kini, melihat ruhnya sendiri gelapgulita tak bercahaya, telah tak berpelita hati secercahpun, turut membenci dirinya. Akibat perilaku sepanjang hayat, sombong banget, padahal dia juga bukan siapa siapa, sepanjang hidupnya-mengembik kirikanan, belakang depan, ikh banget deh, kepoo ... aja siih.

    Menyesal kini, dia tak guna lagi. Nasi telah jadi pangsit goreng, hambar tanpa bumbu penyedap alami. Disadari atau tidak, dia, telah menjadi pengikut makhluk api berkepala celeng. 

    Sesal itu, tak menjadi bekal untuk membuat ruhnya bercahaya. Hanya suara sepanjang hayatnya, menjadikan ruhnya kembali meludahi jasadnya. “Aku menyesal bermukim di jasadmu …” Suara ruhnya.

    “Bodo'k amat …” Suara iblis, sembari melaju cepat mengendarai api.

    ***

    Jakarta Indonesiana, Oktober 01, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.