x

Iklan

Mohammad Imam Farisi

Dosen FKIP Universitas Terbuka
Bergabung Sejak: 17 Februari 2022

Selasa, 11 Oktober 2022 12:11 WIB

Signifikansi Kerja Sama di Era VUCA

Pada Era VUCA, bukan saatnya lagi institusi bekerja sendiri-sendiri, apalagi bersaing dengan institusi lain untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan institusinya. Setiap institusi harus mulai meninggalkan paradigma lama ala Darwinisme, “struggle for existence or life” atau “survival of the the fittes” ke paradigma baru ala Capraisme, ”co-existence of peaceful”. Kesadaran atas visi baru tentang realitas yang menempatkan peran sentral saling-hubungan (interrelationship) dan saling-ketergantungan (interdepencency) ini, harus dibarengi perubah paradigma dari VUCA versi lama (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) menjadi VUCA versi baru (Vision, Understanding, Clarity, dan Agility).

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

VUCA merupakan istilah yang lagi trending saat ini. VUCA adalah akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity, yang menandai era industri 4.0. VUCA menggambarkan situasi atau keadaan yang dicirikan oleh pergolakan (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas (complexity), dan ketidakjelasan (ambiguity).

Awalnya, VUCA diciptakan oleh militer Amerika untuk menggambarkan situasi geopolitik saat itu. Namun karena kesamaan makna, istilah VUCA kini diadopsi oleh dunia bisnis, dan bidang-bidang lainnya, termasuk bidang pendidikan.

Menghadapi situasi dunia saat ini setiap institusi tidak boleh rentan, cepat menyerah (fragile). Mereka dituntut memiliki kemampuan adaptasi dan eksplorasi yang tinggi, tangkas, gesit, dan lincah (agile).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menurut visi global Unesco 2030, salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan institusi agar tetap eksis dan berkelanjutan adalah mengubah mindset manajemen institusi dari “belajar untuk mengetahui dan melakukan” (learning to know and to do) ke “belajar hidup bersama untuk menjadi” (learning to live together to be).

Artinya, di era VUCA saat ini, setiap institusi pendidikan (dasar, menengah, tinggi) tidak lagi harus menghadapi tantangan, menyelesaikan masalah dan/atau menciptakan peluang secara sendiri atau individual. Setiap institusi pendidikan perlu, dan bahkan harus mampu membangun jejaring, kolaborasi atau kerjasama kemitraan dengan institusi lain yang sebidang atau lintas bidang.

Pada Era VUCA, bukan saatnya lagi institusi bekerja sendiri-sendiri, apalagi bersaing dengan institusi lain untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan institusinya. Setiap institusi harus mulai meninggalkan paradigma lama ala Darwinisme, “struggle for existence or life” atau “survival of the the fittes” ke paradigma baru ala Capraisme, ”co-existence of peaceful”. Sebuah realitas baru yang didasarkan pada kesadaran akan saling-hubungan dan saling-ketergantungan esensial dari semua fenomena—fisik, biologis, psikologis, sosial, dan kultural.

Di dalam visi baru tentang realitas ini, tidak ada individu, institusi, dan/atau lembaga (baru atau lama) yang merasa lebih unggul atau merasa lebih penting daripada individu, institusi, dan/atau lembaga lainnya. Semua individu, institusi, dan/atau lembaga harus saling berkomunikasi dan bekerjasama dalam rangka merealisasikan visi, misi, dan tujuan masing-masing.

Kesadaran atas visi baru tentang realitas yang menempatkan peran sentral saling-hubungan (interrelationship) dan saling-ketergantungan (interdepencency) ini, harus dibarengi perubah paradigma dari VUCA versi lama (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) menjadi VUCA versi baru (Vision, Understanding, Clarity, dan Agility).

Dalam konteks visi baru realitas dan paradigma baru VUCA, tidak masalah dengan siapa (individu, institusi, dan/atau Lembaga) bekerja sama atau berkolaborasi. Yang penting, dalam membangun jejaring, kolaborasi atau kerjasama kemitraan tersebut masing-masing individu, institusi, dan/atau lembaga harus memiliki kesamaan visi (vision), pengertian (understanding), kejelasan (clarity), dan kelincahan (agility) tentang apa, mengapa, bagaimana kerjasama yang akan dibangun. Jika tidak, maka bukan hanya kerja sama tersebut secara substantif tidak memberikan manfaat bagi pengembangan institusi masing-masing pihak. Lebih dari itu, bisa jadi justru akan membebani dan merugikan para pihak.

Membangun jejaring, kolaborasi atau kerjasama kemitraan juga menjadi sangat penting dan strategis di era VUCA, karena tidak ada satupun individu, institusi, dan/atau lembaga yang bisa belajar dan melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi tuntutan visi, misi, dan tujuan institusional. Tidak lain karena setiap individu, institusi, dan/atau lembaga memiliki batasan dan keterbatasan yang tidak mungkin bisa dilampaui, kecuali dengan bantuan, kerjasama atau berkolaborasi dengan individu, institusi, dan/atau lembaga lain.

Hanya dengan cara seperti itu (berjejaring, bekerjasama, atau berkolaborasi) individu, institusi, dan/atau lembaga bisa menembus batas-batas kapasitas personal/institusionalnya menuju wilayah yang oleh Vygotsky disebut “Zone of Proximal Development (ZPD)”. Sebuah zona atau wilayah yang hanya bisa dijangkau oleh individu, institusi, dan/atau lembaga secara kolaboratif, dengan catatan individu, institusi, dan/atau lembaga tersebut harus memiliki karakter suka tantangan (challenge), berani mengambil risiko (willing to risk), punya kegelisahan dan gairah untuk maju (excited), serta punya daya hidup yang tinggi di tengah tantangan yang dihadirkan pada era VUCA.

Pada institusi perguruan tinggi, kerja sama atau kolaborasi meliputi bidang pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat yang menjadi pilar dan soko-guru institusi perguruan tinggi, yaitu Tridarma Perguruan Tinggi. Melalui kerjasama bidang Tridarma PT ini diharapkan terjadi “pembuahan silang” (cross fertilization) yang mampu memperkuat wawasan keilmuan yang bersifat multi/ inter/ lintas disiplin diantara institusi yang saling bekerja sama. Jika hal ini bisa dicapai, pada akhirnya akan tercipta ekosistem budaya ilmiah unggul di lingkungan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam konteks dinamika keilmuan, dan akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat lintas disiplin, kerjasama antar perguruan tinggi juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan dan pengembangan Tridarma PT secara bersama-sama, tidak lagi per individu perguruan tinggi.

Selain itu, melalui skema kerja sama bidang Tridarma PT ini, setiap perguruan tinggi yang berkolaborasi memungkinkan untuk melakukan sharing pendanaan, pemakaian fasilitas pembelajaran/laboratorium/studio, peralatan dan perangkat lainnya yang mendukung keberhasilan pelaksanaan Tridarma PT di antara PT yang saling bekerja sama.

Saat ini, iklim kerja sama dalam bidang Tridarma Perguruan Tinggi telah mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sejumlah perguruan tinggi (negeri atau swasta) di Indonesia telah menawarkan sejumlah program kerja sama.

Misalnya kerja sama dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, diantaranya adalah didirikannya ICE Institute, sebuah portal lokapasar digital untuk matakuliah daring berkualitas di Indonesia dari sejumlah perguruan tinggi.

Kerja sama dalam bidang penelitian dan publikasi juga dapat dilihat pada program-program Riset Kolaborasi dari sejumlah PT di Indonesia, dengan cakupan kerja sama antar-PT secara nasional dan/atau internasional. Kerja sama dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, setidaknya bisa dilihat dari terbentuknya Asosiasi Pengelola Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (AJPKM) yang resmi didirikan tahun 2019 lalu.

 

Tangsel, 11 Oktober 2022

Ikuti tulisan menarik Mohammad Imam Farisi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu