x

ilustr: Fransisco Hernandez Marzal

Iklan

Mohammad Imam Farisi

Dosen FKIP Universitas Terbuka
Bergabung Sejak: 17 Februari 2022

Jumat, 21 Oktober 2022 13:27 WIB

Jalan Panjang Menjadi Penulis: dari Jurnalis, Seminaris hingga Kolumnis

Belajar dengan menulis akan membuat yang dipelajari tak akan terlupa. Materi pelajaran bahkan dimengerti secara mendalam dan tahan lama. Belajar melalui menulis bisa membuat orang mewujudkan yang dipelajari dalam konteks berbeda. Pada titik inilah Pramoedya Ananta Toer benar saat mengatakan menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sastrawa Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan menulis merupakan salah satu cara agar kita dikenal oleh dunia. Jika kita tidak menulis, maka kita akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Karena sejatinya, “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Setidaknya itulah kesepakatan umum tentang makna menulis.

Sebagian orang, mungkin punya pemaknaan lain dan berbeda tentang menulis. Bagi penulis sendiri, “menulis adalah untuk belajar” (write to learn) atau “belajar melalui menulis” (learn by writing). Dengan menggunakan trilogi belajar ala Confusius, belajar dilakukan mulai dari mendengar/menyimak, melihat (membaca, mengamati, meneliti), hingga melakukan (menulis). Seperti kata Confusius pula, “Saya mendengar dan saya lupa. Saya melihat (membaca) saya ingat. Saya melakukan (menulis) dan saya mengerti.”

Belajar adalah aktivitas (mental, fisikal, social, dll.) untuk memperoleh sesuatu (pengetahuan, sikap, nilai, perilaku, dll.) sehingga menjadi lebih mengerti, lebih baik, dan lebih berkualitas. Dengan menggunakan trilogi belajar ala Confusius, maka belajar dengan mendengar/menyimak bisa jadi masih lupa. Belajar dengan melihat (membaca/mengamati, dll.) baru ingat. Tetapi, belajar dengan melakukan (menulis, menerapkan) maka apa yang dipelajari tidak akan pernah lupa, akan selalu diingat, dan bahkan akan dimengerti secara mendalam dan tahan lama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengapa? Karena belajar melalui menulis kita bisa mengimplementasikan apa yang dipelajari dalam konteks dan perspektif yang berbeda, lebih mendalam, dan lebih luas. Karenanya, belajar melalui menulis merupakan cara yang lebih efektif, dan lebih tahan lama (retensi), daripada hanya menyimak, mengamati, membaca, atau semacamnya.

Belajar melalui menulis inilah yang penulis lakukan, praktikkan, dan terus dipelihara secara berkelanjutan dan evolutif mulai dari menulis sebagai jurnalis, seminaris, dan kolumnis.

Jurnalis adalah evolusi pertama menulis untuk belajar. Jurnalis yang dimaksudkan BUKAN sebagai wartawan atau reporter. Jurnalis adalah “ahli jurnal”, dengan menulis artikel/manuskrip untuk diterbitkan/dipublikasikan pada jurnal-jurnal ilmiah, baik yang terakreditasi dan/atau bereputasi.

Menulis untuk belajar sebagai jurnalis, dimulai setelah menjadi seorang dosen. Dimana, menulis artikel untuk jurnal merupakan salah satu kewajiban utama. Tak memiliki jurnal, jangan pernah berharap bisa mengusulkan kenaikan jabatan dosen.

Sebagai jurnalis, kita bisa belajar banyak ilmu, nilai, sikap sesuai dengan bidang keilmuan dan profesi dari berbagai perspektif dan mazhab, dari yang pro maupun kontra. Kita tidak bisa dan tidak boleh membatasi diri belajar hanya dari perspektif dan mazhab tertentu, dan mengabaikan perspektif dan mazhab yang lain dan bertentangan.

Sebagai jurnalis, menulis adalah belajar tentang tanggungjawab akademik penulis terhadap komunitas dan organisasi keilmuan/profesi, dan kontribusinya terhadap perkembangan dan kemajuan disiplin ilmu yang ditekuni melalui kebaruan/keaselian (novelty/originality) karya ilmiah yang dihasilkan dalam bentuk artikel yang dipublikasikan di jurnal nasional atau internasional (terakreditasi atau bereputasi).

Dari belajar menulis sebagai jurnalis, kita belajar dan berlatih secara ketat dan disiplin ilmu, nilai, sikap untuk selanjutnya dipraktikkan sesuai dengan kaidah dan etika keilmuan (kode etik), penulisan (gaya selingkung) yang telah disepakati dan dipraktikkan bersama di kalangan komunitas keilmuan/profesi yang berhimpun di dalam jurnal-jurnal sebagai Dewan Editor (Editorial Board) dan reviewer (Mitra Bestari).

Seminaris adalah evolusi kedua menulis untuk belajar. Seminaris yang dimaksudkan BUKAN sebagai lembaga pendidikan bagi calon pastor (padri, pendeta) Katolik Roma. Seminaris adalah “ahli seminar/konferensi”, dengan menulis artikel/makalah untuk disajikan dalam forum-forum akademik seperti seminar, konferensi ilmiah, atau semacamnya.

Seminar atau konferensi ilmiah yang diikuti adalah tingkat nasional maupun internasional yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan/atau lembaga bereputasi lainnya. Seperti halnya jurnalis, menulis sebagai seminaris adalah belajar tentang tanggungjawab akademik penulis terhadap komunitas dan organisasi keilmuan/profesi. Juga belajar tentang apa kontribusi yang diberikan terhadap perkembangan dan kemajuan disiplin ilmu yang ditekuni melalui kebaruan/keaselian (novelty/originality) karya ilmiah yang dihasilkan dalam bentuk prosiding nasional atau internasional (terakreditasi atau bereputasi).

Belajar melalui menulis untuk seminar, secara substantif dan struktural, tidak jauh berbeda dengan menulis untuk jurnal. Bedanya, sebagai jurnalis, proses dan hasil belajar dilakukan hanya dalam bentuk tulisan. Sebagai seminaris, selain proses dan hasil belajar dilakukan secara tertulis, juga dibarengi dengan lisan (oral presentation).

Seperti halnya belajar melalui menulis untuk seminar, belajar menulis sebagai seminaris adalah belajar dan berlatih secara ketat tentang disiplin ilmu, nilai, sikap untuk selanjutnya dipraktikkan sesuai dengan kaidah dan etika keilmuan (kode etik), penulisan (gaya selingkung) yang telah disepakati dan dipraktikkan bersama di kalangan komunitas keilmuan/profesi yang berhimpun di dalam seminar/konferensi sebagai Dewan Editor (Editorial Board) dan reviewer yang tergabung di dalam Komite Akademik (Scientific Committe) atau sejenisnya.

Kolumnis adalah evolusi ketiga menulis untuk belajar. Kolumnis yang dimaksudkan menulis artikel/manuskrip untuk diterbitkan/dipublikasikan pada ruang-ruang yang disediakan oleh media massa dan/atau jurnalisme publik yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit independen, dan bereputasi dan terpercaya.

Berbagai ruang menulis di media massa/jurnalisme public antara lain: Kolom, Opini, Analisis, Rubrik, Catatan, Ulasan, Perspektif, Resonansi, dan/atau Akademika, yang secara terprogram disediakan bagi para penulis dari berbagai kalangan. Misalnya, akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, dan/atau mahasiswa.

Berbeda dengan menulis sebagai jurnalis dan seminaris, konten tulisan kolumnis tidak ketat mengikuti “state of the art” bidang keilmuan/profesi. Tulisan di media massa/jurnalisme publik tetap harus memuat ide-ide orisinil dan memberi sudut pandang berbeda; didukung oleh penyajian data dan analisa yang kokoh; dan menggunakan kata-kata dan kalimat yang artikulatif, mudah dipahami publik, dan dalam bentuk narasi pendek.

Selain itu, tulisan di media massa/jurnalisme publik merupakan “opini publik” (public opinion) sebagai respon atas isu, masalah, kebijakan atau program baru, penting, atau viral. Opini bisa berupa “narasi tandingan” (counter narrative), “narasi dukungan” (support narrative) atau advokasi.

Selain itu, dilihat dari aspek keterjangkauan, tulisan media massa/jurnalisme publik lebih terbuka dalam hal segmentasi pembaca. Jika jurnal dan seminar hanya menjangkau kalangan tertentu (akademisi, peneliti, profesional), media massa dan jurnalisme publik bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari kalangan bawah (grass root) hingga kalangan petinggi (top leader).

Dalam konteks demokrasi, media massa dan jurnalisme publik merupakan pilar ke-4 demokrasi (the fourth estate of democracy). Artinya, menulis sebagai kolumnis juga merupakan bentuk kontrol sosial penulis atas kebijakan atau program yang dikeluarkan baik oleh instansi pemerintah atau lembaga-lembaga independent non pemerintah. Tujuannya adalah  untuk memastikan bahwa kebijakan atau program tersebut dilakukan secara transparan, akuntabel, dan untuk kepentingan umum.  

Secara akademis, menulis sebagai kolumnis merupakan bentuk tanggung jawab kalangan akademisi terhadap masyarakat. Sebagai salah satu dari Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu darma pengabdian kepada masyarakat. Menulis melalui kolom-kolom media massa dan jurnalisme publik, juga akan melepaskan akademisi dan institusi perguruan tinggi dari tuduhan sebagai pribadi/institusi yang tidak peduli dan tidak acuh terhadap masyarakat dan lingkungannya, yang hanya berlindung dan duduk manis di “dalam tembok universitas” dengan “menara gadingnya (ivory tower) yang tinggi menjulang.

Pada titik ini, mungkin ini pula yang dimaksudkan oleh Pramoedya dengan kalimat “menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Keabadian dalam arti bagi eksistensi penulis sendiri, termasuk keabadian pemerolehan (pengetahuan, sikap, nilai, perilaku, dll.); dan keabadian dalam arti bagi objek yang dipelajari dengan cara menulis, baik dalam perspektif sejarah maupun masyarakat.

 

Tangsel, 21 Oktober 2022

Ikuti tulisan menarik Mohammad Imam Farisi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan