Ketika Bahasa Tubuh Presiden Mengirim Pesan Politik - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Presiden Jokowi dan Surya Paloh dalam sebuah acara. Foto: Tangkapan layar dari Youtube

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 27 Oktober 2022 07:06 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Ketika Bahasa Tubuh Presiden Mengirim Pesan Politik

    Bahasa tubuh dapat terlihat mencolok manakala terjadi peristiwa yang menyebabkan ketidaknyamanan hubungan di antara orang-orang yang berrelasi. Presiden Jokowi tampaknya mulai suka menggunakan bahasa tubuh untuk mengirim pesan tertentu.

    Dibaca : 1.348 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Gerak tubuh seorang Presiden rupanya menarik perhatian publik. Dalam relasi dengan politikus lain atau pejabat lain, gerak tubuh tersebut lantas ditafsirkan sebagai pesan tertentu.  Sebagaimana diberitakan oleh media massa baru-baru ini, dalam suatu acara Golkar yang dihadiri Presiden serta para ketua umum partai pendukung pemerintah, Presiden Jokowi terlihat enggan merespon keinginan Surya Paloh untuk saling memeluk sebagai tanda keakraban. Mereka berdua hanya berjabat tangan, akhirnya.

    Sebagian masyarakat lantas punya bahan obrolan baru, yaitu bahwa Presiden Jokowi mulai senang melontarkan pesan-pesan tertentu melalui gerak tubuh atau gestur. Dalam kejadian yang menyertakan Surya Paloh itu, sebagian masyarakat menafsirkan bahwa Jokowi sedang tidak nyaman dengan Surya sejak Partai Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden untuk mengikuti kontestasi pilpres 2024.

    Pengamat dan sebagian masyarakat percaya bahwa relasi Surya dan Jokowi sedang tidak baik-baik saja, dan ini ditunjukkan oleh gerak tubuh Jokowi yang dipersepsikan sebagai keengganan untuk saling memeluk sebagai tanda keakraban. Pengamat dan sebagian masyarakat menduga bahwa pencalonan Anies itu telah membuat Jokowi ‘kurang enak badan’, karena Surya dan Nasdem dianggap telah melangkah jauh dari keinginan Presiden perihal sosok pemimpin nasional sebagai pengganti dirinya.

    Surya Paloh dan Anies Baswedan Berpelukan

    Sebenarnya, bukan kali ini saja Jokowi menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan kepada orang tertentu maupun untuk memperlihatkan kepada masyarakat seperti apa sikapnya terhadap orang tersebut. Dalam suatu kesempatan, setelah peristiwa tragis di Stadion Kanjuruhan, Malang, Presiden Jokowi bertemu dengan sejumlah pejabat, di antaranya terdapat Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Ketika menyalami para pejabat tersebut, Jokowi tidak menjabat tangan Jenderal Listyo. Mungkinkah Presiden tidak melihat Kapolri yang berdiri di hadapannya? Masyarakat lantas menafsirkan bahwa mustahil Presiden tidak melihat Jenderal Listyo, melainkan Presiden memang sengaja melewatinya sebagai pesan kekesalan terhadap terjadinya peristiwa Kanjuruhan yang dianggap menjadi tanggung jawab polisi.

    Pesan-pesan tertentu, baik politis ataupun bukan, memang lazim disampaikan oleh politikus melalui bahasa tubuh. Bahasa tubuh dapat jadi mencolok manakala sebelumnya terjadi peristiwa tertentu yang menimbulkan ketidaknyamanan hubungan di antara orang-orang yang saling memiliki relasi tertentu. Dalam hal ini antara Jokowi sebagai Presiden dan Surya sebagai ketua umum Nasdem yang kadernya menjadi bagian dari kabinet Jokowi. Juga, antara Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit.

    Bahasa tubuh itu jadi terlihat mencolok karena menimbulkan kesan di masyarakat bahwa Jokowi bukan tidak sengaja melakukan hal itu: enggan berpelukan dengan Surya maupun melewati Jenderal Listyo seolah-olah Kapolri tidak ada di depannya. Bahasa tubuh yang mencolok ini dilakukan karena orang yang mengirim pesan tersebut merasa memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan orang yang dikirimi pesan.

    Dalam politik maupun urusan kekuasaan, mengirim pesan melalui bahasa tubuh akan efektif apabila masyarakat dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh pengirim pesan kepada yang dikirimi pesan. Apa yang mungkin dapat memunculkan pertanyaan etis ialah bahasa tubuh berpotensi mempermalukan penerima pesan di hadapan orang banyak. Ketika seseorang sudah siap untuk berjabat tangan atau memeluk, tapi orang yang diduga akan menjabat tangannya atau memeluk dirinya, maka yang ada kemudian adalah ia terpaksa menanggungkan rasa malu di hadapan publik, kecuali ia bersikap acuh tak acuh. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.