x

Foto Pribadi Citra Amelia Putri

Iklan

Citra Amelia Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Senin, 31 Oktober 2022 06:08 WIB

Moral Education Analysis: Bekal Antisipasi Dampak Aging Population dalam Menghadapi Bonus Demografi

Moral Education Analysis (MEAn) merupakan sebuah alternatif untuk membantu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing dalam menghadapi masa ledakan usia produktif yang disebut bonus demografi. Persiapan yang matang perlu dikerahkan agar bisa memanfaatkan peluang yang ada di masa bonus demografi. Pendidikan moral menjadi bekal utama sebagai arahan bagi pemuda dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan bangkit dari keterpurukan ekonomi. MEAn hadir sebagai solusi untuk mengantisipasi dampak aging population atau sebuah kondisi di mana mayoritas penduduk berusia lanjut dan melebihi jumlah penduduk usia produktif.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Pendahuluan

Masa depan penuh dengan ketidakpastian. Kiranya seperti itulah kalimat yang mampu menggambarkan kondisi saat ini. Tidak harus menengok jauh ke belakang, kenyataannya hari ini lebih mengerikan dari hari kemarin. Dewasa ini, Indonesia mengalami kemerosotan ekonomi yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar krisis. Indonesia tengah dirundung pandemi yang lebih mematikan dari sekadar wabah. Pembatasan dilakukan di berbagai aspek kehidupan, menyebabkan kemerosotan ekonomi yang berdampak pada kualitas hidup, khususnya dalam menunjang pendidikan bagi anak bangsa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pendidikan akademis bagi pemuda adalah hal yang utama, tapi perlu diketahui pendidikan moral adalah bekal untuk kesejahteraan di masa depan. Merosotnya pendidikan moral di kalangan masyarakat adalah kenyataan ironis yang cukup terlihat, tapi lagi-lagi dikatakan sebagai kewajaran. Beberapa permasalahan tersebut adalah bentuk dari ketidakpastian masa depan, yang dulu tidak pernah diperkirakan akan terjadi.

Maraknya informasi yang dikemas dalam digitalisasi, membuat cakupannya sangat menyebar luas dan tidak terkendali. Seperti yang kita ketahui, mayoritas pemuda Indonesia saat ini cenderung menyerap informasi dari media elektronik. Namun, kemudahan itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Sehingga, sangat berdampak pada penurunan kualitas pemuda Indonesia, yang mana dampak utamanya adalah mengesampingkan pendidikan moral di atas pergaulan bebas. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian, karena kenyataannya pendidikan moral adalah bekal yang sangat diperlukan untuk masa depan Indonesia, dalam hal ini menghadapi bonus demografi.

Bonus demografi adalah suatu kondisi di mana terjadinya sebuah ledakan penduduk usia produktif yang kemungkinan akan terjadi di Indonesia pada tahun 2020 hingga 2030 (Jimmy Ginting, 2016). Kondisi ini tentunya diharapkan mampu mendorong Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Namun, pastinya untuk mewujudkan hal itu di masa mendatang, membutuhkan dukungan yang sangat besar dari masyarakat. Pemuda dalam usia produktif menjadi tokoh utama yang sangat diharapkan kontribusinya demi Indonesia yang lebih maju. Tapi, apa jadinya jika pemuda tidak dibekali pendidikan moral.

Kesempatan emas pada masa bonus demografi bisa jadi hilang dan menimbulkan banyak ancaman serta pemasalahan yang harus dihadapi. Hal itu terjadi jika penerus bangsanya tidak dibekali pendidikan moral, salah satunya adalah menimbulkan aging population. Sebuah keadaan dimana penduduk usia lanjut sangat dominan, dan hal ini menjadi masalah besar saat terjadinya bonus demografi. Maka dari itu, Moral Education Analysis (MEAn): Bekal Antisipasi Dampak Aging Population Dalam Menghadapi Bonus Demografi, menjadi hal yang sangat diperlukan dan patut diperhatikan.

Bonus Demografi

Bonus demografi atau demographic dividend, merupakan suatu kondisi dimana populasi masyarakat akan didominasi oleh usia produktif. Ledakan usia produktif yang terjadi pada masa bonus demografi, diharapkan mampu meningkatkan kualitas ekonomi industri di Indonesia. Kehadiran sumber daya manusia yang produktif dengan kisaran usia 15 hingga 64 tahun, menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan performa dan kualitas bangsanya. Hal ini sesuai dengan definisi bonus demografi yang dikemukakan oleh Tifatul Sembiring (Kominfo), bahwasannya demographic dividend sebagai suatu keadaan yang membawa keuntungan, karena jumlah penduduk didominasi oleh individu-individu yang masih berada dalam usia produktif.

Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030 sampai 2040 mendatang. Kejadian langka ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat umum. Dilansir dari situs resmi kominfo, dikatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan langkah terbaik untuk menghadapi bonus demografi. Terlebih lagi di tahun 2030 mendatang, ada program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy juga mengatakan, bahwa pemerintah saat ini tengah menggodok berbagai program untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Melalui kesempatan yang dihadirkan oleh bonus demografi, seharusnya menjadi kesempatan yang sangat baik bagi Indonesia untuk melakukan percepatan pembangunan yang lebih baik. Tentunya hal tersebut harus didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, berdaya saing, dan bisa mengemban amanah untuk bersama-sama memajukan bangsa. Menurut Muhadjir, pemerintah saat ini berfokus untuk membangun lapangan pekerjaan agar bonus demografi bisa dimanfaatkan dengan baik. Peran pemuda juga menempati posisi yang sangat penting, dengan terus mengasah kemampuan dan keahliannya supaya menjadi generasi yang produktif agar terhindar dari ancaman bonus demografi.

Ancaman yang harus dihadapi, jika Sumber Daya Manusia tidak disiapkan dengan baik adalah membludaknya angka pengangguran. Seperti yang kita ketahui, jumlah pengangguran di Indonesia masih cukup tinggi, terlebih lagi saat pandemi covid-19. Ledakan pengangguran di Indonesia semakin tak terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) melayangkan pemberitahuan pada Februari 2021, bahwasasannya jumlah angkatan kerja pada bulan tersebut sebanyak 139,81 juta orang, memgalami kenaikan 1,59 juta dibanding Agustus 2020. Jumlah pengangguran karena covid-19 sebanyak 1,62 juta orang, tergolong Bukan Angkatan Kerja (BAK) sebesar 0,65 juta orang serta 1,11 juta orang tidak bekerja karena covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa pandemi covid-19 menjadi faktor penyebab terjadinya ledakan pengangguran. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan saja, beberapa startegi harus secepatnya dikerahkan agar keterpurukan ini tidak berkelanjutan.

Ancaman selanjutnya yang diperkirakan akan terjadi saat bonus demografi yaitu kualitas dan kualifikasi SDM yang tidak seimbang. Banyaknya usia produktif di masa mendatang, menyebabkan perusahaan lebih selektif dalam memilih calon pekerjanya. Standar kualitas karyawan tentunya akan naik ke taraf yang lebih tinggi, dan hal ini akan sangat berbahaya jika tidak diimbangi dengan pendidikan yang memadai, baik akademis maupun moral.

Ancaman yang paling dicemaskan berikutnya adalah terjadinya aging population, sebuah masa di mana mayoritas penduduk berusia lanjut dan tidak produktif. Ancaman inilah yang paling dicemaskan dan sangat diharapkan tidak akan terjadi di masa bonus demografi.

 

Aging Population

Aging population merupakan sebuah masa di mana proporsi penduduk berusia lanjut di suatu daerah mengalami peningkatan secara progresif. Indonesia akan mengalami perubahan struktur usia penduduk yang sangat signifikan pada kurun waktu 10, 20 hingga 30 tahun ke depan. Mengutip dari kompas.com, yang melansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahwa jumlah penduduk lansia di Indoensia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Diperkirakan pada tahun 2035, jumlahnya bertambah menjadi 48,2 juta jiwa.

Aging population merupakan dampak negatif dari buruknya perencanaan pemerintah dan kurangnya persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi bonus demografi. Ketika terjadinya ledakan usia produktif di masa tersebut, namun pengendalian pemerintahan dalam memfasilitasi angkatan kerja tidak terkendali bisa menyebabkan masalah besar ke depannya. Ditambah lagi kualitas Sumber Daya Manusia yang masih rendah, sehingga menyebabkannya kurang produktif dan minim moral. Sebenarnya hal inilah yang menjadi akar dari permasalahan terjadinya aging population. Bukan hanya pendidikan akademis, tapi pendidikan moral juga sangat berperan penting dalam mewujudkan sumber daya yang berkualitas.

Antisipasi dampak aging population harus diterapkan sejak dini. Menanamkan pendidikan moral kepada pelajar harus dikerahkan. Moralitas bisa menjadi kemudi yang di dalamnya menanamkan kejujuran, sopan santun, tata krama dan juga perilaku baik untuk menghadapi segala sesuatu di kemudian hari. Pendidikan moral juga dijadikan sebagai bekal antisipasi terjadinya aging population yang lebih parah saat bonus demografi.

Moral Education Analysis (MEAn)

Moral Education Analysis atau Analisis Pendidikan Moral merupakan sebuah alternatif yang diharapkan bisa menjadi bekal untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar dari aging population dalam menghadapi era bonus demografi. MEAn (Moral Education Analysis) hadir sebagai sebuah teori yang nantinya mampu menjadi perhatian bagi pemerintah, tenaga pendidik, maupun yang terdidik atau pelajar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), analisis memiliki makna sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya dan sebagainya). Sedangkan moral memiliki arti (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila, atau bisa juga diartikan sebagai kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Analisis Pendidikan Moral adalah sebuah penyelidikan terhadap tingkat pendidikan yang mengajarkan tentang perbuatan, sikap dan akhlak yang berterima umum.

Pendidikan moral menjadi sangat penting dan perlu dikuatkan agar pemuda penerus bangsa bisa menjalankan tanggungjawabnya di era bonus demografi yang diperkirakan akan terjadi di tahun 2030 hingga 2040. Pendidikan moral menjadi bekal untuk mengarahkan pemuda dari perbuatan yang menyimpang, apalagi saat ini segala aktivitas sudah beralih ke sistem digital. Informasi-informasi dan pergaulan bebas di dunia maya, menyebabkan moralitas pemuda sangat terancam. Keteguhan untuk bertahan menjadi jati diri yang baik, bisa digoyahkan hanya karena ajaran atau gaya hidup kurang sehat yang tersebar di dunia maya.

Pendidikan moral bisa dikatakan sebagai akar untuk menopang kualitas peran pemuda di masa depan. Hal besar yang paling disepelekan dari menurunnya moralitas seseorang adalah nilai kejujuran. Sebuah nilai yang sudah dimanipulasi sedemikian rupa, berkedok referensi dan penguatan, terkadang kecurangan masih dikemas rapi sehingga seakan-akan yang terjadi adalah kejujuran. Sebagaimana yang kita ketahui, pendidik maupun pelajar yang sudah bertransformasi ke sistem dalam jaringan (daring) sudah tidak peduli lagi dengan nilai kejujuran. Mereka lebih memedulikan besarnya nilai, daripada kerasnya proses.

Bahkan tak jarang, proses sudah tidak dilirik lagi dan menyebabkan minimnya tingkat kejujuran pemuda khususnya pelajar. Ketika kejujuran saja sudah tidak dipedulikan, lalu bagaimana dengan kualitas pemuda? Bagaimana pemuda bisa memenuhi kualifikasi penyaringan usia produktif di masa bonus demografi? Jika persaingan sehat sudah tidak diindahkan lagi, jangankan berjaya di masa bonus demografi, untuk maju selangkah terbebas dari jeratan pandemi saja rasanya sukar dilakukan.

Menurut Bappenas, pada tahun 2030 jumlah usia produktif bisa mencapai 64% daru total jumlah penduduk sekitar 297 juta jiwa. Artinya, persaingan di dunia kerja akan sangat ketat dan tidak bisa disepelekan. Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi yaitu bertahan dengan kualitas yang mumpuni atau tertindas era demografi dan beralih pada aging population.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makariem menyebutkan bahwa pendidikan moral merupakan prioritas pemerintah saat ini. Dikatakannya bahwa derasnya arus informasi di zaman teknologi saat ini bisa membuat orang kehilangan arah akibat percaya dengan informasi yang tidak benar atau hoax. “Hampir semua perusahaan besar di Indonesia, komplain mengenai ketiadaan profesionalisme pada pemuda kita. Ini banyak sekali yang saya dengar,” (Nadiem Makariem)

Profesionalisme dalam ulasan yang disebutkan tersebut mengacu pada sikap meghormati atasan, menghormati waktu, memperbaiki diri, maupun menghormati rekan kerja. Ulasan yang dipaparkan Menteri Pendidikan dan Kebuyaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa pendidikan moral sangat penting dan menjadi bekal utama untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing dalam proses memperbaiki perekonomian Indonesia.

Maka dari itu Moral Education Analysis (MEAn) sangat dibutuhkan sebagai bekal menjadi manusia yang berkualitas. Analisis ini perlu dilakukan di dunia pendidikan, terutama bagi pendidik dan yang dididik. Sebagai tenaga pendidik sudah seyogyanya memerhatikan kualitas moral siswa agar menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Analisis perlu dilakukan secara berkala agar kualitas moral dapat terjaga. Tapi, hal itu tidak semata-mata dibebankan kepada tenaga pendidik saja. Kita sebagai pelajar juga wajib memperhatikan pendidikan moral dan menerapkannya dalam kehidupan. Kualitas moral yang baik akan mengindikasikan bahwa kita memiliki kualitas pekerja yang baik dan siap menghadapi era bonus demografi, memajukan Indonesia dan langkah awal sebagai bekal antisipasi dampak aging population.

 

Kesimpulan

          Moral Education Analysis (MEAn) merupakan sebuah alternatif untuk membantu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing dalam menghadapi masa ledakan usia produktif yang disebut bonus demografi. Persiapan yang matang perlu dikerahkan agar bisa memanfaatkan peluang yang ada di masa bonus demografi. Pendidikan moral menjadi bekal utama sebagai arahan bagi pemuda dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan bangkit dari keterpurukan ekonomi. MEAn hadir sebagai solusi untuk mengantisipasi dampak aging population atau sebuah kondisi di mana mayoritas penduduk berusia lanjut dan melebihi jumlah penduduk usia produktif.

 

Daftar Pustaka

Populix. 2019. Bonus Demografi Indonesia: Pengertian, Penyebab dan Dampaknya. Diakses dari https://www.info.populix.co/post/bonus-demografi-adalah tanggal 20 Oktober 2021

Kominfo. 2020. Komitmen Pemerintah Wujudkan Bonus Demografi yang Berkualitas. Diakses dari https://www.kominfo.go.ig/content/detail/27423/komitmen-pemerintah-wujudkan-bonus-demografi-yang-berkualitas/0/berita tanggal 20 Oktober 2021

Badan Pusat Statistik. 2021. Februari 2021: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,26 persen. Diakses dari https://www.bps.go.id tanggal 20 Oktober 2021

Sulaiman, R,M. 2019. Mendikbud Nadiem Makarim Jelaskan Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Anak. Diakses dari https://suara.com tanggal 20 Oktober 2021

 

Artikel atau Esai ini pernah dilombakan dalam event Esai Nasional dan mendapat predikat juara 2.

 

Yogyakarta, 29 Oktober 2022

Citra Amelia, P.

Ikuti tulisan menarik Citra Amelia Putri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu